Rezim Cina Berdalih Terapkan Lockdown Covid-19, Warga Uyghur Diposisikan Seperti Tahanan Rumah; Belasan Orang Meninggal

10 September 2022, 19:02.
Sumber: The Bharat Expressnews

Sumber: The Bharat Expressnews

TURKISTAN TIMUR (The Bharat Expressnews) – Belasan orang di wilayah Xinjiang telah meninggal karena kelaparan maupun kurangnya akses ke obat-obatan, selama penguncian wilayah (lockdown) yang diberlakukan rezim Cina sejak awal Agustus 2022 untuk menanggulangi penyebaran virus corona, menurut penduduk dan pejabat setempat.

Kelaparan telah menyebabkan 10 keluarga di Desa Gurkiratma, dalam masalah kesehatan yang serius di tengah penguncian yang disebabkan oleh wabah COVID-19 di wilayah tersebut, kata penduduk setempat kepada kantor berita Radio Free Asia (RFA).

Seorang pejabat mengatakan, sebanyak 12 orang meninggal di Provinsi Ghulja dalam waktu 20 hari setelah kebijakan lockdown. Di antaranya seorang pria yang ia identifikasi sebagai Mewlan Sidiq, seorang petani berusia 62 tahun dari Desa Qarayaghach.

Diklaim, kebijakan penguncian ketat wilayah tersebut didasarkan pada kasus Covid-19 yang baru muncul. Akan tetapi, hal itu berdampak negatif pada transportasi dan ekonomi, serta menyebabkan kekurangan pangan yang signifikan di beberapa tempat, termasuk Ghulja.

“[Mewlan Sidiq] meninggal 10 hari setelah penerapan penguncian. Pejabat desa dan kabupaten tidak diberitahu tentang situasinya tepat waktu dan dia tidak memiliki kerabat di sekitarnya,” kata pejabat itu yang meminta dirahasiakan namanya.

“Mewlan adalah satu dari 12 orang yang meninggal selama [penerapan penguncian wilayah ini]. Mereka semua meninggal [karena kelaparan atau kekurangan obat] dalam 20 hari pertama penguncian,” tambahnya, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.

RFA tidak dapat secara independen mengonfirmasikan jumlah kematian yang dilaporkan oleh pejabat tersebut.

Seorang petugas keamanan di wilayah Gurkiratma mengatakan kepada RFA bahwa dua penduduk di sana baru-baru ini meninggal karena kekurangan makanan, sementara tiga warga lagi dibawa ke rumah sakit karena kekurangan gizi.

Saat ditanya mengenai identitas dua orang yang tewas, petugas mengaku tidak mengenal mereka karena ada 12 desa di wilayah tersebut.

“Saya hanya seorang penjaga yang bekerja di Gurkiratma dan saya tidak mengetahui secara persis semua desa,” katanya.

Dia juga mengatakan, ia tidak dapat memberikan informasi tentang penyebab spesifik kematian tanpa seizin otoritas terkait.

Ketua urusan perempuan di Gurkiratma mengatakan, mereka yang wafat adalah petani–seorang pria bernama Tursun Sawut, yang meninggal karena kelaparan dan kekurangan obat lebih dari seminggu yang lalu, dan seorang wanita bernama Gulbahram.

Seorang pejabat desa di Ghulja mengatakan kepada RFA bahwa ada hampir 200 keluarga miskin, atau sekitar 800 penduduk, dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan.

Seorang warga Uyghur yang sudah lanjut usia mengatakan kepada RFA bahwa dia dan istrinya hanya diberi lima buah roti untuk bertahan selama tiga hari.

“Kami harus membayar pejabat pemerintah untuk membawakan kami obat-obatan dan bahan makanan lainnya. Kami punya roti untuk bertahan hidup selama beberapa hari,” ucapnya.

“Saya sudah menjalani dua operasi karena penyakit saya dan saya memiliki tekanan darah tinggi, serta gangguan lainnya.”

“Kami tidak mampu membeli daging maupun sayuran,” jelasnya, “kami tidak bisa bertahan hidup, meski dengan menghabiskan semua tabungan kami, yang jumlahnya juga terbatas.”

World Uyghur Congress (WUC) menyatakan keprihatinan atas penguncian ketat Covid-19 di Xinjiang dan meminta rezim Cina untuk menghentikan kebijakan tersebut.

Kelompok aktivis Uyghur yang berbasis di Jerman itu mengutip beberapa video yang diposting oleh warga Uyghur di media sosial Tiongkok, yang menunjukkan kebijakan ketat yang melarang mereka mendapatkan perawatan medis serta menghalangi mereka mendapatkan makanan, hingga menyebabkan kelaparan.

WUC juga mencatat bahwa tangkapan layar di aplikasi perpesanan WeChat menunjukkan warga mengeluh tentang pembatasan yang menyebabkan kelaparan serta kurangnya bantuan dari otoritas setempat.

Kebijakan saat ini menunjukkan bahwa warga Uyghur seakan berada di dalam kondisi sebagai tahanan rumah dan pemerintah menggunakan pandemi Covid-19 sebagai pembenaran, sebut WUC dalam sebuah pernyataan yang dirilis Jumat (9/9/2022).

“Kami telah melihat banyak video online yang sangat menyesakkan untuk menyaksikannya tanpa bisa memberikan bantuan kemanusiaan,” kata Presiden WUC, Dolkun Isa. “Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk menghentikan kekejaman yang sedang berlangsung.” (The Bharat Expressnews)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Perlakuan Malaysia terhadap Muhajirin Rohingya Berubah Drastis Selama Pandemi Covid-19
Anak-anak Penyandang Disabilitas di Suriah yang Terabaikan »