Rezim Cina Membanjiri Dunia Maya dengan Komentar Palsu untuk Menutupi Lockdown Covid di Xinjiang

14 September 2022, 10:38.

TURKISTAN TIMUR (The Independent) – Jutaan orang di Turkistan Timur (Xinjiang) terkurung akibat pemberlakuan lockdown penuh atau sebagian. Rezim komunis Cina berdalih bahwa kebijakan zero-covid itu dilakukan untuk menahan meluasnya wabah.

Warga banyak yang memposting kondisi menyedihkan di Turkistan Timur di media sosial, semisal berisi tentang kekurangan makanan dan kelaparan. Banyak yang kemudian mengomentari postingan semacam itu sehingga akhirnya menjadi viral.

Pihak berwenang Cina kemudian menginstruksikan jajarannya untuk membanjiri media sosial dengan komentar bernada positif tentang Xinjiang. Hal ini dilakukan guna meredam rentetan berita negatif di wilayah tersebut.

Di wilayah Ili Kazakh (atau Yili ), misalnya, rumah bagi hampir 4,5 juta orang, dilaporkan di-lockdown sejak awal Agustus 2022 lalu, tanpa pengumuman resmi. Akibatnya, penduduk kekurangan makanan dan obat-obatan. Banyak yang kemudian memposting kondisi yang dialaminya di situs media sosial Cina, Weibo.

Rezim komunis menginstruksikan agar aparat membanjiri komentar di dunia maya dengan postingan palsu. Demikian arahan yang bocor dan diterbitkan oleh China Digital Times.

“Semua unit kerja organisasi harus membanjiri komentar di dunia maya pada waktu yang relevan … periode waktu yang dimaksud adalah dari pukul 8 malam hingga 10 malam,” bunyi dokumen tersebut, yang diterjemahkan oleh sebuah lembaga yang berbasis di Amerika Serikat.

Lebih lanjut, arahan itu meminta pasukan komentator di internet untuk memposting konten tentang apa saja. “Tidak ada batasan materi konten, termasuk kehidupan rumah tangga, pengasuhan harian, memasak, atau suasana hati pribadi.”

Berbagai pihak telah mendesak agar rezim Cina mempertimbangkan kembali kebijakan lockdown. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memperingatkan agar tindakan tersebut tidak dilanjutkan.

Kisah Wanita Hamil

Pada tanggal 7 September 2022 lalu, seorang wanita hamil mengisahkan kejadian pilu. Dia mengalami pendarahan hingga sembilan hari melewati masa kelahiran. Wanita tersebut kemudian mengantre di rumah sakit selama lima jam, namun tiba-tiba petugas mengumumkan bahwa rumah sakit ditutup.

“Ada delapan hingga sembilan wanita hamil menunggu di sini. Ke mana kami harus pergi, apa yang harus kami lakukan?” tulis wanita itu, menurut blog What’s on Weibo.

Warga juga mengeluhkan tentang anak-anak yang sakit dan tidak mendapat layanan kesehatan yang memadai.

“Kami telah dikurung selama 40 hari, namun mereka (pemerintah) membuka kawasan wisata. Anak-anak yang demam 40 derajat bahkan tidak bisa ke dokter, ibu hamil tidak bisa masuk rumah sakit. Kami benar-benar tidak tahan lagi,” keluh seorang penduduk setempat.

Otoritas lokal di Xinjiang pada hari Jumat lalu sempat meminta maaf atas krisis pasokan makanan, setelah ada protes luas.

Pada awal bulan lalu, Kantor Hak Asasi Manusia PBB menerbitkan laporan yang menuduh pemerintah Cina melanggar hak-hak Muslim Uyghur dan kelompok etnis minoritas lainnya di Xinjiang.

Dokumen setebal 48 halaman itu menyatakan bahwa pelanggaran hak asasi manusia yang serius telah dilakukan terhadap orang Uyghur atas nama “penerapan strategi kontra-terorisme dan kontra-ekstremisme”.

Beijing menolak laporan itu dan menyebut bahwa laporan itu berdasarkan disinformasi dan kebohongan yang dibuat oleh kelompok anti-Cina. (The Independent)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Selasa Dini Hari, Serdadu Zionis Tangkap Belasan Warga Palestina di Tepi Barat dan Baitul Maqdis
Protes Lockdown Ketat yang Berujung Kelaparan Massal, Lebih dari 600 Warga Uyghur di Ghulja Ditangkap Rezim Cina »