Khawatir Keselamatan Keluarga di Xinjiang, Sebagian Besar Warga Uyghur-Australia Memilih Tetap Diam

21 September 2022, 07:14.
Salah satu foto di Arsip Polisi Xinjiang yang memperlihatkan ekstremnya perlakuan aparat komunis Cina terhadap Muslim Uyghur (BBC)

Salah satu foto di Arsip Polisi Xinjiang yang memperlihatkan ekstremnya perlakuan aparat komunis Cina terhadap Muslim Uyghur (BBC)

(SBS.COM.AU) – Ketika Hayrullah Mai*, seorang warga Uyghur-Australia, melakukan perjalanan ke Cina pada tahun 2017 untuk mengunjungi istri dan anak tirinya, dia tidak bersiap untuk pengalaman mengerikan yang akan dihadapinya.

Setelah tiba di Bandara Internasional Chengdu Shuangliu di Provinsi Sichuan, Hayrullah mengatakan kepada SBS Chinese bahwa dia didatangi pihak berwenang Cina sebelum tiga petugas polisi kemudian mengawalnya ke penerbangan ke Urumqi di Turkistan Timur (kini bernama Xinjiang).

Dia kemudian dikirim ke pusat penahanan dan ditahan selama hampir tiga minggu.

“Mereka mengikat dan memborgol saya,” sebutnya, seraya menambahkan bahwa dia dikurung bersama puluhan orang.

“Tidak ada cukup ruang untuk tidur, kami hanya tidur selama dua jam, kemudian berdiri. Lalu kelompok berikutnya akan tidur selama dua jam.”

Hayrullah mengatakan dia dipaksa untuk menonton program TV “cuci otak” hingga enam jam sehari, mengenai beberapa aturan kebijakan Partai Komunis [Cina] dan bahwa Xi Jinping adalah pemimpin yang baik.

Dia mengatakan pemerintah Australia, atas namanya, telah bernegosiasi dengan rezim Cina, dan meminta Cina untuk memberikan bukti yang masuk akal atas penahanan warga Australia.

“Mereka tidak punya bukti kuat dan harus membiarkan saya keluar,” jelasnya.

Setelah dibebaskan, Hayrullah akhirnya bisa bertemu dengan keluarganya. Akan tetapi, setelah lebih dari seminggu, dia dipaksa meninggalkan negara itu oleh Cina dan dilarang masuk lagi selama lima tahun.

Setelah kembali ke Australia, ia langsung mengajukan permohonan visa tinggal permanen untuk keluarganya, yang disetujui pada Agustus 2018. Akan tetapi, keluarganya tetap terjebak di Tiongkok.

“Paspor semua orang telah diambil oleh departemen kepolisian sejak April 2017,” kata Hayrullah.

Meski sudah berkali-kali melaporkan situasi tersebut ke pihak berwenang terkait, istri dan anak tirinya belum juga bisa mengambil paspor mereka.

“Mereka menduga saya memiliki hubungan dengan beberapa organisasi maupun tokoh-tokoh politik di luar negeri. Jujur, saya tidak memiliki hubungan atau pandangan politik. Saya hanya melakukan pekerjaan konstruksi saya di sini [di Australia],” katanya.

Hayrullah juga secara aktif mencari bantuan dari lembaga dan pejabat pemerintah Australia, meski belum membuahkan hasil.

Departemen Dalam Negeri Australia telah membantunya untuk memperpanjang masa berlaku visa keluarganya. Dia juga mengatakan akan terus bernegosiasi dengan pemerintah Australia serta mencari bantuan kedutaan mengenai penyitaan paspor keluarganya.

Sikap Para Muhajirin Uyghur di Australia 

Warga Uyghur yang telah bermigrasi ke luar negeri merupakan sumber informasi utama bagi kelompok hak asasi manusia. Akan tetapi, Presiden Australian Uyghur Tangritagh Women’s Association (AUTWA), Ramila Chanisheff, mengatakan kepada SBS Chinese bahwa banyak Muhajirin Uyghur memilih untuk tetap diam karena mengkhawatirkan keselamatan anggota keluarga.

Hayrullah mengatakan dia mengetahui 17 warga Uyghur-Australia lainnya yang mengalami masalah serupa dengannya, dan sama-sama harus terpisah dari keluarga mereka.

Chanisheff mengatakan angka pastinya tidak dapat dikonfirmasi, namun “ada warga Australia dengan anggota keluarga yang mendekam di penjara atau kamp, atau dalam tahanan rumah oleh rezim Cina.”

“Kami hanya melihat satu keluarga yang berhasil bersatu kembali–Sadam Abdusalam dengan istri dan putranya,” ucapnya.

Diskriminasi yang Terus Ada 

Yaqiu Wang, seorang peneliti senior tentang Cina di Human Rights Watch (HRW), percaya bahwa tujuan utama Cina menahan paspor warga Uyghur adalah agar mereka tidak dapat meninggalkan Cina dan menceritakan kisah mereka.

“Jika orang-orang ini mulai menceritakan apa yang terjadi kepada mereka, hal itu dapat membeberkan pelanggaran hak asasi manusia rezim Cina terhadap mereka,” tukasnya.

Wang mengatakan, diskriminasi terhadap etnis Uyghur di antara orang-orang Cina telah ada sejak lama.

“Diskriminasi selalu ada. Sulit bagi warga Uyghur untuk bertahan dalam sistem yang didominasi oleh etnis Han Cina,” ucapnya.

Dia yakin rezim Cina ingin mengubah etnis Uyghur secara menyeluruh.

“[Rezim Cina] ingin agar orang Uyghur tidak berbicara dalam bahasa mereka sendiri, tidak mempraktikkan budaya dan agama mereka sendiri, dan menjadikan mereka sebagaimana orang non-Uyghur,” jelasnya.

PBB: Perlakuan Cina kepada Uyghur Bisa Tergolong Kejahatan terhadap Kemanusiaan 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya merilis laporan yang telah lama tertunda tentang perlakuan rezim Cina terhadap etnis minoritas Muslim Uyghur, pada 31 Agustus yang lalu, beberapa menit sebelum masa jabatan empat tahun kepala HAM PBB, Michelle Bachelet berakhir.

Laporan oleh Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) itu menemukan bahwa Cina telah melakukan “pelanggaran hak asasi manusia yang serius” terhadap warga Uyghur di Xinjiang.

“Tingkat penahanan sewenang-wenang dan diskriminatif terhadap warga Uyghur dan etnis Muslim lainnya … bisa tergolong sebagai kejahatan internasional, khususnya kejahatan terhadap kemanusiaan,” sebut laporan itu.

Sebelumnya, Bachelet melakukan kunjungan enam hari ke Cina pada bulan Mei tahun ini. Ia menjadi Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pertama yang mengunjungi Cina dalam kurun 17 tahun terakhir.

Pada saat itu, dia mengunjungi Xinjiang, tetapi karena apa yang disebut rezim Cina sebagai pembatasan pandemi, kunjungannya dikontrol dengan sangat hati-hati, dan menimbulkan kecurigaan kuat bagi para aktivis hak asasi manusia.

“Saya pikir itu sangat mengecewakan, dia tidak berkomunikasi dengan warga Uyghur mana pun, dia hanya berjabat tangan dengan para pemimpin senior rezim Cina,” kata Wang.

Chanisheff mengatakan, rilis laporan yang hanya beberapa menit sebelum akhir masa jabatan itu merupakan sebuah langkah pengecut dari Bachelet.

Akan tetapi, ia tetap menyambut baik rilis tersebut karena telah memberikan lebih banyak bukti mengenai penderitaan warga Uyghur di Xinjiang.

“Akan tetapi, sekarang kami membutuhkan tindakan, dan pemerintah Australia perlu mengambil tindakan nyata untuk menghentikan kejahatan terhadap kemanusiaan ini, dan komunitas internasional juga perlu mengambil langkah tersebut,” tegasnya.

Untuk Hayrullah dan warga Uyghur-Australia lainnya yang menderita karena perpisahannya dengan orang yang mereka cintai, Chanisheff mengatakan bahwa upaya terus dilakukan untuk memastikan mereka dapat bersatu kembali dengan aman.

“Kami telah berbicara dengan pemerintah Australia tentang permintaan mereka guna memastikan penyatuan kembali yang aman untuk keluarga-keluarga ini. Kami telah menyampaikan kepada Andrew Giles, Menteri Imigrasi, Kependudukan, Layanan Imigran dan Urusan Multikultural Australia mengenai kasus-kasus ini,” jelasnya.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong juga mengeluarkan pernyataan pada 1 September yang menyatakan keprihatinan mendalam atas temuan laporan PBB.

“Australia secara konsisten mengutuk pelanggaran hak asasi manusia terhadap Uyghur dan etnis dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang dan di seluruh Cina,” kata Wong.

“Pemerintah Australia telah menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas, dalam seruan kepada Cina untuk memberikan akses yang penting dan tak dibatasi bagi para pakar PBB dan peneliti independen lainnya ke Xinjiang.”

“Kami juga turut memikirkan komunitas Australia-Uyghur. Kami mengakui kesungguhan dan tekad yang telah mereka tunjukkan dalam menyampaikannya, untuk menolong orang yang mereka cintai.” (SBS.COM.AU)

*Nama telah diubah untuk melindungi identitas mereka

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Junta Militer Myanmar Tangkap 31 Warga Rohingya yang Berupaya Menyelamatkan Diri ke Ayeyarwady
Penjajah Lakukan Pengabaian Medis, Kesehatan Tawanan Palestina yang Sempat Lolos dari Penjara Gilboa Menurun »