Satu Juta Barel Minyak Berisiko Tumpah dari Supertanker Safer, Bakal Berdampak terhadap Jutaan Warga Yaman

23 September 2022, 14:36.
Sumber: UN News

Sumber: UN News

SANA’A (Reliefweb) – Saat cuaca ganas musim dingin mendekat, lebih dari satu juta barel minyak mentah berisiko tumpah ke Laut Merah dari FSO Safer, sebuah supertanker yang telah berkarat dan terbengkalai di lepas pantai Yaman sejak 2015, sebut Save the Children pada Rabu (21/9/2022).

Pada bulan Oktober mendatang, diperkirakan angin kencang dan arus besar akan membuat operasi pengiriman minyak menjadi lebih berbahaya karena risiko kapal pecah meningkat, yang dapat menyebabkan dampak bagi kemanusiaan, lingkungan, dan ekonomi.

Kapal supertanker Safer sudah berdiam di pesisir Yaman sejak 30 tahun lalu, namun proses perbaikan dan pengambilan minyak dari dalam kapal terhenti pada tahun 2015 ketika perang mulai berkecamuk.

PBB memperkirakan, jika kapal tersebut bocor dan menumpahkan minyak ke lautan, maka akan menelan biaya sedikitnya US$20 miliar hanya untuk membersihkannya, serta menghancurkan Yaman yang sudah dilanda bencana kemanusiaan akibat perang.

Ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk Sidang Umum PBB pekan ini, Save the Children mendesak dunia internasional untuk menjadikan masalah kapal tanker minyak SAFER ini sebagai keadaan darurat internasional dan segera mengeluarkan dana untuk mencegah potensi bencana besar terjadi.

Mata pencaharian komunitas nelayan Yaman bisa langsung musnah jika FSO Safer yang sudah tua dan dalam kondisi rusak parah, bocor atau meledak. Jutaan warga akan terpapar zat berbahaya yang mengancam jiwa.

Kusai, seorang nelayan berusia 55 tahun dari Hodeidah, mengatakan, “Lautan Yaman akan hancur jika kapal tanker SAFER bocor. Ikan akan mati, mata pencaharian seluruh penduduk di Hodeidah akan musnah, pabrik desalinasi air akan rusak, semuanya akan terpengaruh. Itu akan menjadi bencana besar, dan itu akan menghancurkan segalanya, laut dan daratan.”

Potensi tumpahan juga dapat menghambat kegiatan di pelabuhan Hodeidah, yang merupakan titik masuk utama bantuan untuk Yaman. Jutaan anak akan terhalang dari akses ke bantuan penyelamat jiwa dan melumpuhkan operasi kemanusiaan di negara itu.

Kebocoran kapal tanker SAFER juga dapat berdampak pada pabrik desalinasi air di pantai Yaman yang akan mengganggu pasokan air bersih bagi jutaan anak Yaman dan keluarga mereka.

Dengan semakin dekatnya musim dingin, angin dan arus ganas akan meningkatkan risiko kapal pecah. Kegagalan untuk bertindak sekarang dapat mengakibatkan bencana besar di seluruh wilayah Laut Merah dan meninggalkan dampak lingkungan yang akan memperburuk situasi kemanusiaan di Yaman serta negara-negara sekitar.

Direktur Save the Children untuk Yaman, Rama Hansraj, mengatakan: “Anak-anak di Yaman telah melalui banyak hal. Mereka telah dibom, dipaksa meninggalkan rumah, dan hak-hak mereka dilanggar. Banyak dari mereka yang dirampas masa kecilnya, dan masa depan mereka gelap.”

“Sejak perjanjian gencatan senjata berlaku, harapan kembali bangkit untuk sementara waktu, dan kemungkinan akan masa depan yang cerah mulai muncul. Akan tetapi, sekali lagi, anak-anak di Yaman menghadapi bencana baru yang berpotensi memperburuk konsekuensi perang delapan tahun di Yaman.”

“Lebih dari dua pertiga populasi sudah dalam kondisi bergantung pada bantuan kemanusiaan dan sedikitnya setengah dari populasi kesulitan mendapat makanan. Memotong seluruh komunitas dari satu-satunya jalur bantuan mereka, dan penutupan pelabuhan terpenting di negara itu dapat membuat seluruh negara bertekuk lutut. Anak-anak akan jatuh sakit, makanan dan air minum bersih akan langka, dan operasi kemanusiaan akan kelimpungan.”

“Komunitas internasional harus bergerak sekarang untuk mencegah bencana lain yang mungkin akan meluas sampai ke luar perbatasan Yaman. Para donatur harus berkumpul dan segera mengirimkan dana mereka untuk memulai operasi pembersihan sebelum terlambat. Kita memiliki kesempatan untuk mencegah mimpi buruk seperti itu terjadi. Waktu terus berjalan, dan kita harus segera bergerak.”

Sementara pada hari Senin (19/9/2022), PBB akhirnya berhasil mengumpulkan kesepakatan dengan para donatur untuk menggalang dana guna mengeluarkan 1 juta barel minyak dari supertanker tersebut dan mengamankannya ke sebuah kapal lambung ganda hingga konflik Yaman reda.

“Semua sudah memahami seberapa besar biayanya, seberapa besar dampaknya, dan semua ingin bertindak. Saya sangat puas melihat upaya terpadu hari ini, untuk menemukan solusinya,” ucap David Gressly, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman. (Reliefweb)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Culik Belasan Warga Palestina, Geledah Paksa Pengemudi yang Melintas
Lockdown di Ghulja Xinjiang Sebabkan 22 Orang Tewas Akibat Kelaparan »