Lockdown di Ghulja Xinjiang Sebabkan 22 Orang Tewas Akibat Kelaparan

23 September 2022, 14:37.
Suasana pusat karantina Covid-19 (kiri atas) di Ghulja, Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang barat laut Cina. Foto lainnya menunjukkan pemuda dan anak Uyghur menderita kekurangan makanan selama lockdown, September 2022. (RFA)

Suasana pusat karantina Covid-19 (kiri atas) di Ghulja, Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang barat laut Cina. Foto lainnya menunjukkan pemuda dan anak Uyghur menderita kekurangan makanan selama lockdown, September 2022. (RFA)

(Radio Free Asia) – Akibat pemberlakuan lockdown Covid-19, pekan lalu setidaknya 22 orang meninggal karena kelaparan atau kurangnya layanan medis di Ghulja, Turkistan Timur (Xinjiang). Demikian informasi yang dihimpun oleh Radio Free Asia (RFA) dari berbagai sumber, baik dari pihak berwenang maupun keluarga.

Rezim komunis Cina melakukan karantina massal dengan dalih kebijakan zero-Covid di wilayah Turkistan Timur. Kondisi warga yang mengenaskan bermunculan di berbagai platform media sosial.

Diaspora Uyghur di berbagai negara melakukan advokasi dan aksi internasional melawan tindak kejahatan atas kemanusiaan tersebut. Mereka menuntut agar PBB yang bersidang di New York pekan ini, mengambil tindakan tegas.

“Dibunuh” dengan Kelaparan

Ghulja (dalam bahasa Cina, Yining) adalah sebuah kota berpenduduk sekitar setengah juta orang, kebanyakan etnis Uyghur dan Muslim Turki lainnya. Kawasan ini telah di-lockdown sejak awal Agustus lalu, dengan dalih ada wabah Covid-19.

Pekan lalu, lebih dari 600 orang–sebagian besar pemuda Uyghur–di Ghulja ditahan oleh pihak berwenang. Mereka dituduh telah melanggar aturan lockdown karena melakukan protes damai akibat kekurangan makanan yang menyebabkan kelaparan dan kematian.

Banyak video yang diposting di media sosial oleh orang-orang Uyghur–dan dengan cepat disensor oleh pemerintah–yang menunjukkan orang-orang berjuang keras untuk mendapatkan makanan dan perawatan medis. Beberapa orang mengatakan anggota keluarganya mati kelaparan.

RFA berusaha mengecek kebenaran informasi kematian itu. Kata pejabat kota dan polisi di Ghulja, setidaknya 22 orang meninggal pada 15 September 2022 lalu.

Ketika ditanya berapa banyak orang yang mati kelaparan, seorang petugas mengatakan kepada RFA, “Ada 20 orang yang meninggal karena kelaparan. Jangan menelepon lagi!” Ia menolak untuk mengungkapkan informasi lebih lanjut tentang di mana kematian terjadi.

Pejabat lain dari Stasiun Tanggap Darurat Kota Ghulja, menyebut angka 22 kematian. Ia juga menolak untuk memberikan informasi lebih lanjut.

Seorang pejabat dari Pusat Komando Polisi Kota Ghulja, membantah informasi di media sosial yang menyebut adanya 100 kematian pada hari itu. Ia kemudian menyebutkan jumlah korban “sekitar 21 dan 22”.

Ada sebuah video yang dibagikan di platform Duoyin. Disebutkan bahwa salah satu yang meninggal pada 15 September 2022 adalah Halmutar Omerjan, Ketua Desa Kepekyuzi di Ghulja.

“Mereka membunuh suami saya Halmutar Omerjan, Ketua Kepekyuzi. Tidak ada yang menjawab panggilan telepon saya,” ujar istrinya, Huriyet Bekri, dalam tayangan di media sosial.

Dikisahkan bahwa Halmutar dikarantina selama tujuh hari, kemudian dipindahkan ke tempat yang tidak layak huni dan ditinggalkan sendirian. Akhirnya dia dikembalikan ke keluarganya dalam keadaan kekurangan gizi dan tidak terawat.

“Mereka mengambil suami saya dan dibawa ke tempat karantina yang tidak memiliki pipa atau listrik selama tujuh hari, dan ‘membunuhnya’ karena kelaparan,” ratapnya.

Pada 18 September 2022, Ablikim Ablimit, seorang pengungsi Uyghur di Turki, menerima kabar bahwa ayahnya, Tokhahun Abdul, meninggal karena kelaparan di Ghulja pada tanggal 15 September 2022.

“Dia tinggal di Jalan Bahar Kota Ghulja. Dia tidak bisa pergi ke rumah sakit karena lockdown yang ketat dan kelaparan. Dia berusia 73 tahun. Sebelumnya dalam keadaan sehat,” kata Ablimit kepada RFA melalui telepon.

Ablimit juga mengisahkan tentang kondisi memprihatinkan yang dialami etnis Uyghur selama bertahun-tahun. Ayahnya itu pernah dibawa ke kamp konsentrasi dan ditahan selama dua tahun, dari 2017 hingga 2019.

Aksi Internasional

Pada 30 Agustus 2022, Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Michelle Bachelet, melaporkan tentang tindak sewenang-wenang Cina terhadap 1,8 juta orang Uyghur dan minoritas Turki lainnya. Laporan investigasi semacam itu juga telah disampaikan oleh kelompok-kelompok HAM, para peneliti, dan media massa.

Rezim komunis Cina menolak laporan tersebut, karena dianggap “berdasarkan disinformasi dan kebohongan yang dibuat oleh kelompok anti-Cina.”

Para pakar HAM PBB dan berbagai kelompok Uyghur meningkatkan seruan untuk tindakan nyata dari masyarakat internasional, termasuk membentuk panel Dewan HAM PBB dan utusan khusus tentang pelanggaran Xinjiang. Berbagai pihak menyerukan agar negara-negara anggota meminta pertanggungjawaban Cina. Pernyataan ini disambut baik oleh banyak pihak, termasuk Presiden Joe Biden (Amerika Serikat) dan Olaf Sholtz (Kanselir Jerman).

“Akan tetapi, itu belum cukup untuk menghentikan genosida yang sedang berlangsung. Kami meminta negara-negara anggota PBB untuk mengaktifkan mekanisme PBB guna menyelidiki genosida secara independen yang dipimpin AS, dan menyerukan pengesahan resolusi PBB untuk mengutuk genosida Cina,” kata Dolkun Isa, Presiden Kongres Uyghur Dunia.

Pekan ini di Washington, Asosiasi Amerika Uyghur (UAA) melakukan mogok makan di depan Gedung Putih. Di antaranya dilakukan oleh tiga orang yang pernah lolos dari kamp konsentrasi, yaitu Zumret Dawut dan Tursunay Ziyawudin–keduanya etnis Uyghur–serta seorang etnis Kazakh bernama Gulzire Aulkhan.

Pertama, kami sangat terganggu dengan foto dan video yang keluar dari tanah air kami, terutama dari Ghulja. Pemerintah komunis Cina menggunakan Covid sebagai dalih untuk mengunci orang-orang kami di rumah dan melanjutkan genosidanya. Kami ingin memerhatikannya,” kata Presiden UAA, Elfidar Iltebir.

Kedua, belum ada tindakan berarti yang diambil setelah publikasi laporan PBB tentang Uyghur,” kata aktivis yang berkemah semalam di dekat Gedung Putih ini. (Radio Free Asia)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Satu Juta Barel Minyak Berisiko Tumpah dari Supertanker Safer, Bakal Berdampak terhadap Jutaan Warga Yaman
Cina Siap Bertarung Melawan Tindakan Internasional atas Pelanggaran HAM di Xinjiang »