Cina Siap Bertarung Melawan Tindakan Internasional atas Pelanggaran HAM di Xinjiang

24 September 2022, 18:53.
Peta yang menunjukkan apa yang disebut "kamp pendidikan ulang" untuk Muslim Uyghur di Xinjiang, yang sebelumnya dikenal sebagai Turkistan Timur. (East Turkistan National Awakening Movement)

Peta yang menunjukkan apa yang disebut “kamp pendidikan ulang” untuk Muslim Uyghur di Xinjiang, yang sebelumnya dikenal sebagai Turkistan Timur. (East Turkistan National Awakening Movement)

(The Guardian) – Seorang utusan Cina untuk PBB menyatakan bahwa Beijing siap untuk “bertarung” di tengah meningkatnya tekanan dunia internasional atas pelanggaran HAM di Turkistan Timur (Xinjiang). Ancaman tersebut menyusul rilis laporan dari Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB yang menemukan bukti tentang kemungkinan terjadi kejahatan kemanusiaan terhadap etnis Uyghur dan Muslim Turki lainnya.

Juru bicara pemerintah Xinjiang, Xu Guixiang, memimpin delegasi Cina ke Jenewa, di mana 47 negara anggota Dewan HAM PBB–termasuk Cina dan Amerika Serikat (AS)–akan bertemu. Beijing dengan keras membantah tuduhan itu dan menolak rencana “campur tangan eksternal” apa pun.

“Jika beberapa kekuatan dalam komunitas internasional atau kekuatan anti-Cina membuat apa yang disebut ‘gerakan terkait Xinjiang’ atau disebut ‘resolusi’, kami tidak akan takut. Kami akan mengambil tindakan balasan dengan tegas dan bertarung,” kata Xu.

Pernyataan Xu tampaknya memberikan pengakuan atas kritik internasional, dengan mengatakan, “Situasi HAM di Xinjiang sedang dalam proses perbaikan lebih lanjut dan melakukan lebih banyak upaya.”

Akan tetapi, dia menambahkan, “Tidak ada yang namanya pelanggaran HAM besar-besaran seperti yang diklaim oleh laporan Xinjiang.”

Pemerintah AS dan beberapa badan parlemen telah menyatakan tindakan pemerintah Cina di Turkistan Timur sebagai genosida. Laporan PBB menjadi bukti terbaru tentang adanya tindakan keras terhadap etnis minoritas di sana, termasuk penahanan massal terhadap sekitar 1 juta orang atau lebih.

Beijing menyangkal adanya fasilitas penahanan dan menyebutnya sebagai “pusat pendidikan dan pelatihan kejuruan”. Dan fasilitas itu ditutup setelah peserta pelatihan “lulus”.

Kredibilitas PBB

Seorang pensiunan dokter, Gulshan Abbas, ditahan di Turkistan Timur sejak empat tahun lalu. Ia dituduh terlibat “terorisme dan kejahatan mengganggu ketertiban sosial”. Sejak ditahan, keluarganya tidak pernah mendengar kabarnya.

“Kami memiliki dugaan tentang di mana dia mungkin berada, tetapi tidak bisa dikonfirmasi. Tidak ada seorang pun di keluarga saya yang memiliki akses kepadanya selama bertahun-tahun ini. Tidak ada yang diizinkan untuk melihatnya. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya, padahal kesehatannya rapuh,” kisah Ziba Murat, putrinya.

“Kasus ibu saya hanyalah puncak gunung es. Sangat penting bagi komunitas internasional untuk menempatkan kehidupan masyarakat dan martabat manusia di atas kepentingan ekonomi dan bisnis apa pun. Pemerintah Cina perlu dipanggil atas kekejaman ini.”

“Kami sudah kehilangan begitu banyak: masjid, tempat suci, tempat wisata budaya, hilang (dan kami) tidak bisa mengambilnya kembali. Akan tetapi, kita masih punya waktu untuk menyelamatkan nyawa tak berdosa itu. Jadi, bertindaklah!” kata Murat.

Fernand de Varennes, pelapor khusus PBB untuk isu-isu minoritas, menyatakan bahwa kredibilitas PBB sedang dipertaruhkan.

“Jika Anda membiarkan satu negara tidak dihukum sehubungan dengan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam kaitannya dengan minoritas, itu membuka pintu bagi potensi genosida,” kata de Varennes.

“Kita harus ingat, PBB tidak selalu baik dalam mencegah genosida di masa lalu. Di sini mungkin kami memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih proaktif. Jika tidak, saya pikir, perkembangannya tidak menguntungkan,” ungkapnya. (The Guardian)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Lockdown di Ghulja Xinjiang Sebabkan 22 Orang Tewas Akibat Kelaparan
Berharap Masa Depan Cerah di Eropa, 77 Muhajirin Tewas Tenggelam di Perairan Suriah »