Berharap Masa Depan Cerah di Eropa, 77 Muhajirin Tewas Tenggelam di Perairan Suriah

25 September 2022, 11:26.
Para pelayat berkumpul di sekitar dua dari beberapa korban yang berada di kapal yang membawa Muhajirin dari Lebanon yang tenggelam di perairan Suriah, setelah mereka membawa pulang jenazah mereka, di Tripoli, Lebanon utara, 23 September 2022. Ini adalah insiden paling mematikan sejak lonjakan jumlah warga Lebanon, Suriah, dan Palestina yang mencoba melarikan diri dari Lebanon yang dilanda krisis melalui laut ke Eropa. (Foto: AP/Bilal Hussein)

Para pelayat berkumpul di sekitar dua dari beberapa korban yang berada di kapal yang membawa Muhajirin dari Lebanon yang tenggelam di perairan Suriah, setelah mereka membawa pulang jenazah mereka, di Tripoli, Lebanon utara, 23 September 2022. Ini adalah insiden paling mematikan sejak lonjakan jumlah warga Lebanon, Suriah, dan Palestina yang mencoba melarikan diri dari Lebanon yang dilanda krisis melalui laut ke Eropa. (Foto: AP/Bilal Hussein)

LEBANON (The Associated Press) – Sedikitnya 77 orang tewas ketika sebuah kapal yang membawa Muhajirin dari Lebanon tenggelam di lepas pantai Suriah minggu ini, kata menteri kesehatan negara itu pada Jumat, di tengah kekhawatiran jumlah korban tewas bisa jauh lebih tinggi.

Sejauh ini, itu insiden paling mematikan akibat melonjaknya jumlah orang Lebanon, Suriah, dan Palestina yang berusaha melarikan diri dari Lebanon yang dilanda krisis melalui laut untuk masa depan yang lebih baik di Eropa.

Puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan, sementara nilai pound Lebanon turun lebih dari 90% sehingga menghapus daya beli ribuan keluarga yang sekarang hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Pihak berwenang Suriah mengatakan, kerabat korban telah mulai menyeberang dari Lebanon ke Suriah untuk membantu mengidentifikasi orang yang mereka cintai dan mengambil jenazah mereka.

Kapal tersebut meninggalkan Lebanon pada hari Selasa dan berita tentang apa yang terjadi pertama kali mulai muncul pada Kamis sore. Kapal itu membawa warga Suriah, Lebanon, dan Palestina.

TV milik pemerintah Suriah mengutip Menteri Kesehatan Mohammed Hassan Ghabbash yang mengatakan 20 orang diselamatkan dan dirawat di rumah sakit al-Basel di kota pesisir Suriah, Tartus. Dia menambahkan bahwa otoritas medis telah bersiaga sejak Kamis sore untuk membantu dalam operasi pencarian.

Seorang pejabat di al-Basel, berbicara dengan syarat anonim karena terikat peraturan, mengatakan kepada The Associated Press (AP) bahwa delapan orang dari mereka yang diselamatkan berada dalam perawatan intensif.

Pejabat itu juga mengonfirmasikan 77 kematian. Ada laporan yang saling bertentangan tentang berapa banyak orang yang berada di kapal ketika tenggelam, beberapa mengatakan setidaknya 120 orang. Perincian tentang kapal, seperti ukuran dan kapasitasnya, juga tidak jelas.

Menteri Transportasi Lebanon Ali Hamie mengatakan para korban selamat termasuk 12 warga Suriah, lima warga Lebanon dan tiga warga Palestina. Delapan mayat telah dibawa kembali ke Lebanon Jumat pagi, menurut Menteri Dalam Negeri Lebanon Bassam Mawlawi.

Setelah matahari terbenam pada Jumat, jenazah lebih banyak korban, termasuk dua warga Palestina, dibawa ke Lebanon. Mereka dibawa dengan tujuh ambulans dan menuju ke selatan dari perbatasan Arida menuju kota bagian utara Tripoli.

Media rezim Suriah mengatakan pihak berwenang menyerahkan jenazah sembilan warga Lebanon dan dua warga Palestina ke Palang Merah Lebanon di perbatasan Arida.

Warga Palestina Salim Khalaf, yang kerabatnya hilang dalam bencana itu, berbicara di perbatasan bahwa para Muhajirin tidak punya pilihan selain melakukan perjalanan berbahaya untuk melarikan diri dari kesengsaraan di Lebanon.

“Membiarkan ikan memakan kami lebih baik daripada tinggal di sini,” katanya tentang Lebanon. Kemudian, berbicara tentang mereka yang tewas, Khalaf menambahkan: “Mereka mencapai titik di mana mereka ingin mati di laut.”

Sebelumnya pada hari itu, Gubernur Tartus Abdul-Halim Khalil mengatakan kepada Radio Sham FM yang pro-rezim bahwa pencarian sedang dilakukan untuk menemukan lebih banyak mayat di lepas pantai negaranya. Khalil mengatakan kapal itu tenggelam pada hari Rabu.

Kantor berita negara Suriah, SANA, mengutip seorang pejabat pelabuhan yang mengatakan bahwa 31 mayat hanyut ke darat, sementara sisanya dijemput oleh kapal-kapal Suriah dalam operasi pencarian yang dimulai Kamis malam.

Wissam Tellawi, salah satu korban selamat yang dirawat di al-Basel, kehilangan dua anak perempuan. Istri dan dua putranya masih hilang. Jenazah putrinya, Mae dan Maya, dibawa ke Lebanon pada Jumat pagi dan dimakamkan di kampung halaman mereka di Qarqaf.

“Dia mengatakan kepada saya melalui telepon, ‘Saya baik-baik saja’ tetapi anak-anak hilang,” kata ayah Tellawi, yang menyebut dirinya sebagai Abu Mahmoud. Sang ayah mengatakan kepada TV lokal Al-Jadeed bahwa putranya memberi penyelundup apartemen keluarga sebagai imbalan untuk membawa dia dan keluarganya ke Eropa.

Setelah bencana itu, tentara Lebanon mengatakan pasukan menyerbu rumah beberapa tersangka penyelundup, menahan empat orang di kota utara Tripoli, kota terbesar kedua dan paling miskin di Lebanon, pada Jumat. Tiga orang lainnya ditangkap di desa terdekat Deir Ammar.

Militer mengatakan para tersangka terlibat dalam penyelundupan migran melalui laut, sementara yang lain berencana membeli kapal untuk alasan yang sama.

Lebanon–dengan populasi 6 juta, termasuk 1 juta Muhajirin Suriah, telah berada dalam cengkeraman krisis ekonomi yang parah sejak akhir 2019 yang telah mengakibatkan lebih dari tiga perempat populasi jatuh ke dalam kemiskinan.

Selama bertahun-tahun, Lebanon adalah negara yang menerima pengungsi akibat perang dan konflik Timur Tengah. Akan tetapi, krisis ekonomi akibat korupsi dan salah urus selama puluhan tahun, telah mengubahnya secara dramatis.

Harga telah meroket sebagai akibat dari hiperinflasi, memaksa banyak orang menjual barang-barang mereka untuk membayar penyelundup guna membawa mereka ke Eropa dalam migrasi intensif selama beberapa bulan terakhir.

Pada bulan April, sebuah kapal yang membawa belasan orang Lebanon, Suriah, dan Palestina yang mencoba bermigrasi melalui laut ke Italia tenggelam di lebih dari 5 kilometer (3 mil) dari Tripoli, menyusul konfrontasi dengan angkatan laut Lebanon. Belasan orang tewas dalam insiden tersebut.

Pada hari Rabu, para pejabat Lebanon mengatakan pasukan angkatan laut menyelamatkan sebuah kapal yang membawa 55 migran setelah menghadapi masalah teknis sekitar 11 kilometer (7 mil) di lepas pantai wilayah utara Akkar. Mereka yang diselamatkan termasuk dua wanita hamil dan dua anak. (The Associated Press)

Foto: AP/Bilal Hussein

Foto: AP/Bilal Hussein

Foto: AP/Bilal Hussein

Foto: AP/Bilal Hussein

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Cina Siap Bertarung Melawan Tindakan Internasional atas Pelanggaran HAM di Xinjiang
Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Wafat di Usia 96 Tahun »