Perang Berkepanjangan Tinggalkan Luka Mendalam di Benak Anak-anak Yaman

26 September 2022, 21:44.
Senyum anak-anak di pusat rehabilitasi Al Tahadi di Sanaa, Yaman, 7 Agustus 2022. Foto: Mohammed Mohammed/Xinhua

Senyum anak-anak di pusat rehabilitasi Al Tahadi di Sanaa, Yaman, 7 Agustus 2022. Foto: Mohammed Mohammed/Xinhua

YAMAN (English News) – Perang berkepanjangan di Yaman tidak hanya membawa musibah fisik bagi jutaan anak di sana, tetapi juga menimbulkan rasa sakit yang bertahan lebih lama, yakni trauma psikologis.

“Banyak dari anak-anak menunjukkan afasia atau gejala PTSD lainnya setelah mereka mengalami langsung bombardir berat. Mereka diliputi ketakutan dan kengerian,” ucap Suad Al-Haimi, Direktur Asosiasi Penyandang Cacat Al-Tahadi di ibu kota Sanaa.

Di pusat rehabilitasi, puluhan anak-anak sedang bermain. Banyak dari mereka berbicara dalam bahasa isyarat, sementara yang lain sangat pemalu dan selalu berusaha menghindari kontak mata. Anak-anak juga banyak yang menderita disleksia, bahkan cacat kecerdasan karena berbagai trauma selama perang.

Haimi mengatakan dia memperluas bangsal perawatan kesehatan untuk menampung lebih banyak anak karena semakin lama perang berlangsung, semakin banyak anak yang datang untuk meminta bantuan.

“Dibandingkan dengan waktu sebelum perang, pusat rehabilitasi itu sekarang memiliki lebih banyak pasien. Setiap hari, belasan anak korban konflik datang ke sini untuk mencari bantuan,” jelas wanita Yaman itu.

Butuh banyak kerja keras dari staf kesehatan dan keluarga agar anak-anak pulih dari trauma psikologis mereka, kata Haimi, yang menekankan bahwa luka di dalam hati adalah yang paling sulit untuk disembuhkan.

PBB mengatakan bahwa empat dari lima anak Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. Selama lebih dari delapan tahun, generasi baru di Yaman telah tumbuh di bawah awan peperangan yang ganas; yang membawa kelaparan, kemiskinan, dan penyakit epidemi yang tak terkendali ke setiap sudut negara Arab tersebut.

Yaman telah terperosok dalam peperangan sejak akhir 2014 ketika milisi syiah Houthi yang didukung Iran menguasai beberapa provinsi utara dan memaksa pemerintah Yaman yang didukung Saudi keluar dari ibu kota Sanaa.

Perang telah menewaskan puluhan ribu orang, membuat empat juta orang mengungsi, dan mendorong negara itu ke jurang kelaparan.

“Situasi psikologis anak-anak muda Yaman mengkhawatirkan,” lanjut Haimi, seraya menambahkan bahwa apa yang dia dan pusat rehabilitasinya lakukan hanya seperti setetes air di ember karena masih ada jutaan anak yang menghadapi tekanan mental akibat perang.

Al-Tahadi adalah salah satu dari sedikit pusat rehabilitasi khusus yang masih beroperasi karena sistem kesehatan di negara yang dilanda perang itu telah runtuh sejak lama.

Akan tetapi, keberadaannya kini terancam karena penggalangan dana lebih sulit dari sebelumnya. Terlepas dari gencatan senjata yang sedang berlangsung antara kelompok Houthi dan pemerintah yang diakui secara internasional, Yaman masih bergulat dengan lonjakan harga serta kekurangan makanan dan bahan bakar.

“Tidak banyak orang yang peduli dengan kesehatan psikologis anak-anak mereka, ketika mereka sendiri dilanda kesulitan untuk bisa mendapat roti di meja makannya. Akan tetapi, luka di pikiran bisa sama menyakitkan dengan luka-luka lainnya,” sebut Haimi. (English News)

Anak-anak bermain di halaman pusat rehabilitasi Al Tahadi di Sanaa, Yaman, 7 Agustus 2022. Foto: Mohammed Mohammed/Xinhua

Anak-anak bermain di halaman pusat rehabilitasi Al Tahadi di Sanaa, Yaman, 7 Agustus 2022. Foto: Mohammed Mohammed/Xinhua

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Wafat di Usia 96 Tahun
Peneliti Ungkap Operasi Mata-mata Seluler yang Bertahun-Tahun Incar Warga Uyghur »