Turkiye Serukan Anggota OKI untuk Bersatu Melawan Ketidakadilan terhadap Umat Islam

26 September 2022, 21:47.
Sumber: Anadolu Agency

Sumber: Anadolu Agency

TURKIYE (Anadolu Agency) – Menyikapi peningkatan konflik dan tantangan global, Turkiye pada hari Kamis (22/9/2022) meminta negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk bersatu.

Berbicara pada rapat koordinasi tahunan OKI yang diadakan di New York, Menteri Luar Negeri Turkiye Mevlut Cavusoglu memulai sambutannya dengan menyampaikan belasungkawa kepada Pakistan dan rakyatnya atas banjir yang mematikan di negara itu, sebagaimana dikutip dari Anadolu.

“Sebagai negara Turkiye dan bangsa Turki, kami akan terus mendukung negara Pakistan dan saudara saudari kami warga Pakistan,” ucapnya.

Ia mengatakan dunia saat ini kurang aman dan cenderung tidak pasti. Lebih dari dua miliar orang tinggal di zona konflik, dan sayangnya sekira 60% konflik berada di geografi OKI.

OKI adalah badan antarpemerintah terbesar kedua setelah PBB, dengan 57 negara anggotanya tersebar di empat benua.

OKI didirikan pada tahun 1969 melalui pertemuan bersejarah di Rabat, ibu kota Maroko, sebagai tanggapan atas serangan pembakaran Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis yang dijajah.

“Meningkatnya ketidaksetaraan, krisis kesehatan, kerawanan pangan dan energi, terorisme dan eksodus massal adalah tantangan global,” ucap Cavusoglu, sembari mencatat bahwa “tantangan seperti itu memiliki dampak yang lebih kepada negara anggota OKI.

“Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk bertindak dalam persatuan, melawan tantangan ini,” lanjutnya.

Cavusoglu mengatakan, Turkiye sedang berjuang untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah regional. Ia menegaskan kembali dukungan negaranya untuk Palestina dan rakyatnya, dalam memperjuangkan negara yang merdeka dan berdaulat.

“Di Afghanistan, Turkiye terlibat dengan Taliban untuk mendorong mereka mewujudkan pemerintahan yang inklusif dan memastikan hak semua orang terpenuhi, termasuk perempuan dan anak-anak,” kata Cavusoglu saat mengumumkan pembukaan dua sekolah lagi untuk anak perempuan di Kabul baru-baru ini.

Ia menegaskan, negaranya terus mendukung Dana Kemanusiaan OKI, dan mendorong semua negara anggota untuk membayar kontribusi tahunan agar lebih lebih efektif.

“Turkiye percaya pada solidaritas Islam dan mendukung tujuan yang sah dari semua Muslim di seluruh dunia,” ujarnya.

Cavusoglu juga menyoroti ketidakadilan yang dihadapi etnis Turki di Siprus dan menyuarakan harapan Ankara agar anggota OKI ikut mendukung Siprus Turki.

“Minoritas Muslim Turki di Yunani juga dirampas hak-hak dasar dan kebebasannya. Mufti terpilih mereka tidak diakui dan mereka tidak diizinkan untuk mengekspresikan identitas etnis mereka dan menikmati otonomi dalam pendidikan,” tambahnya.

Menteri Luar Negeri Turkiye itu melanjutkan dengan mendesak OKI “menunjukkan solidaritas” dalam resolusi yang relevan.

“Sebagai organisasi internasional terbesar kedua, OKI adalah suara kolektif kita melawan ketidakadilan terhadap umat Islam. Saya menegaskan kembali solidaritas kuat kita dengan warga Turki Uyghur, Muslim Rohingya, saudara-saudara kami di Kashmir, dan semua komunitas Muslim lainnya yang menghadapi ketidakadilan di seluruh dunia,” katanya.

Muslim etnis Uyghur di wilayah Xinjiang, Cina, telah menjadi sasaran diskriminasi dan genosida selama bertahun-tahun karena identitas dan budaya mereka, menurut organisasi hak asasi manusia internasional.

Sedikitnya 1 juta warga Uyghur diyakini ditahan paksa di pusat pelatihan kejuruan, tetapi para peneliti mengatakan tempat itu adalah kamp konsentrasi untuk indoktrinasi, pelecehan, dan penyiksaan. (Anadolu Agency)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Peneliti Ungkap Operasi Mata-mata Seluler yang Bertahun-Tahun Incar Warga Uyghur
Mengenang Karya dan Pengaruh Besar Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi »