“Cina Memberantas Budaya dan Agama Orang Uyghur, Mengubahnya Menjadi Tionghoa”

30 September 2022, 14:28.
Anak-anak bermain bola di depan mural yang menunjukkan para musisi Uyghur tampil pada acara International Grand Bazaar di Urumqi, ibu kota Xinjiang. Foto diambil pada saat kunjungan wartawan internasional tanggal 21 April 2021, yang diorganisir oleh rezim komunis Cina. Foto: AP

Anak-anak bermain bola di depan mural yang menunjukkan para musisi Uyghur tampil pada acara International Grand Bazaar di Urumqi, ibu kota Xinjiang. Foto diambil pada saat kunjungan wartawan internasional tanggal 21 April 2021, yang diorganisir oleh rezim komunis Cina. Foto: AP

(SBS Dateline) – Di Gilles Plains, pinggiran kota Adelaide, Australia, yang tenang dan rindang. Di area parkir sebuah masjid dan sekolah, tampak riuh anak-anak sedang belajar bahasa dan budaya Uyghur.

Kelara Zulpar berdiri di depan pintu kelas. Sekelompok siswa TK kelihatan bersemangat dan berlarian. Jumlahnya sekitar 100 anak. Mereka mengikuti sekolah Ahad di ruang-ruang kelas yang dibagi berdasarkan usia dan kefasihan bahasa.

Sejurus kemudian, Kelara mengajak anak-anak ke sebuah ruangan. Mereka kemudian berdiri melingkar dan menyanyikan lagu-lagu tradisional Uyghur. Setelah itu, mereka membaca nama-nama berbagai hewan dalam bahasa Uyghur.

“Dengan sekolah, kami mencoba membawa sisi budaya yang indah itu agar mereka bisa menghargainya. Mereka adalah anak-anak yang lahir di Australia, benar-benar orang Australia, (dengan) identitas lain. Kami berusaha menghubungkan mereka dengan identitas Uyghur,” kata Kelara kepada SBS Dateline.

Kelara adalah bagian dari komunitas Uyghur yang beranggotakan 1.500 orang di Adelaide. Komunitas ini menjadi ekspatriat terbesar Uyghur di luar Turki. Menurut catatan, diperkirakan ada 5.000-an orang Uyghur di Australia.

Kelara sendiri bermigrasi ke Australia pada tahun 2004, mengikuti ayahnya yang melarikan diri dari Turkistan Timur (Xinjiang) karena keyakinan politiknya.

“(Sekolah) sangat penting bagi komunitas kami, karena di rumah, bahasa dan budaya kami terhapus. Jika kami tidak melakukan sesuatu, maka kami akan kehilangan bahasa dan budaya kami. Kondisi itu berarti kami akan kehilangan diri kami sendiri sebagai orang Uyghur,” lanjut Kelara.

Menjaga Identitas

Menurut peneliti senior China Human Rights Watch, Yaqiu Wang, ada “banyak bukti” tentang adanya pelanggaran HAM oleh rezim komunis Cina di Turkistan Timur. Termasuk upaya menghilangkan identitas Uyghur.

“Mereka ingin memberantas budaya Uyghur, agama Uyghur. Mereka ingin mengubah orang Uyghur menjadi orang Tionghoa,” katanya kepada SBS Dateline.

Kondisi di Turkistan Timur, kata Kelara Zulpar, menyebabkan anak-anak Uyghur di Australia terus-menerus diterpa berita negatif.

“Mereka selalu mendengar hal-hal buruk di rumah. Mereka selalu bertanya, ‘Di mana kakek-nenek saya? Di mana mereka?’” kisah Kelara.

“Kadang-kadang ketika melihat beberapa gambar yang menyedihkan, kami jadi takut dan sangat marah. Kadang rasanya putus asa. Alasan utama saya ingin datang (mengajar) adalah saya tidak ingin menurunkan keputusasaan itu kepada anak-anak. Saya berharap mereka akan melihat orangtua atau kakek-nenek mereka suatu hari nanti.”

Kelara sendiri merasakan bahwa mengajarkan bahasa dan budaya Uyghur adalah tindakan melawan arus. Akan tetapi, hal ini harus dilakukan demi menjaga identitas.

“Dalam 20 tahun, saya tidak yakin bagaimana keadaannya. Itulah sebabnya saya harus melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan,” ujarnya.

Kepala sekolah, Yultuz Teyipjan, mengatakan para guru memainkan peran penting dalam memastikan pelestarian agama, bahasa, dan budaya Uyghur.

“Partai Komunis Cina melakukan genosida terhadap orang-orang Uyghur dan Turki,” kata Yultuz kepada SBS Dateline.

“Bahasa dan budaya Uyghur terancam punah. Hilangnya bahasa dan budaya akan membuat karakter nasional suatu bangsa juga hilang. Saya berharap anak-anak bisa belajar bahasa, budaya, dan sejarah Uyghur dengan baik di sekolah. Yang paling penting, tidak melupakan identitas Uyghur dan kelak bisa berkontribusi pada komunitas Uyghur di masa depan.”

Kehilangan Keluarga

Marhaba Salay, tiba di Australia dari Turkistan Timur pada tahun 2011. Putrinya, Norah, berusia lima tahun. Ia menjadi salah satu siswa yang rajin belajar bahasa dan budaya Uyghur.

“Mengapa kami membawanya ke sekolah Uyghur setiap hari Ahad? Karena bahasa dan budaya kami sedang sekarat di rumah,” kata Marhaba.

“Kami merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkannya dengan mengajarkan bahasa Uyghur kepada generasi kami, anak-anak kami. Saya tidak bisa kembali ke negara asal, karena berbahaya. Jika kami memaksa kembali saat ini, saya pikir kami akan berakhir seperti orang-orang Uyghur lainnya, seperti jutaan orang yang berakhir di kamp konsentrasi.”

Marhaba sendiri telah kehilangan kontak dengan keluarganya di Turkistan Timur. Terakhir lima tahun lalu, ia berbicara dengan saudara perempuannya yang bernama Mahira Yakub.

“Lalu dia ditahan di kamp konsentrasi. Sekarang dia berada di penjara,” ujar Marhaba.

Menurutnya, Mahira divonis 6,6 tahun karena dituduh mendukung aktivitas terorisme di luar negeri.

“Dia mengirim uang melalui bank secara legal untuk membantu orangtua saya membeli rumah di Australia pada 2013. Itu dianggap sebagai kejahatan. Pemerintah menangkapnya dengan tuduhan palsu. Saya percaya alasan utama dia dipenjara adalah karena dia seorang wanita Uyghur.”

Marhaba berharap agar pemerintah Australia dan organisasi-organisasi HAM lebih menekan Beijing.

“Ada semua bukti di sini, tetapi tidak ada yang mendengarkan kami. Tidak ada yang bisa membantu kami. Apakah itu karena mereka pikir Cina terlalu kuat?”

SBS Dateline menghubungi Kedutaan Besar Cina di Australia tentang Mahira, tetapi tidak mendapat tanggapan.

Orang Uyghur lain, namanya Yusuf Husein, juga mengaku bahwa sebagian besar keluarga dekatnya hilang di Turkistan Timur. Yusuf juga tidak bisa berkomunikasi dengan ayahnya selama empat tahun.

“Saya ingin pulang, sebab lama tidak melihat saudara laki-laki dan perempuan saya. Saya merindukan mereka,” kata Yusuf.

“Kami percaya bahwa kami akan mendapatkan tanah kami (kembali), karena itu tanah kami. Mereka (Cina) mendudukinya. Suatu hari mereka akan pergi.”

Lima anak Yusuf mengikuti sekolah bahasa dan budaya Uyghur. Ia berharap suatu hari nanti mereka bisa kembali ke kampung halaman.

“Mereka tidak berbicara bahasa Inggris di rumah. Jadi, mereka pandai membaca, berbicara, dan memahami bahasa kami (Uyghur). Bahasa adalah jembatan yang menghubungkan mereka dengan komunitas kami,” kata Yusuf. (SBS Dateline)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Warga Palestina di Al-Khalil, Terjepit di Antara Senjata Serdadu Zionis dan Kebengisan Pemukim Ilegal Yahudi
Negosiasi Buntu, Utusan Khusus PBB Ungkap Gencatan Senjata di Yaman Gagal Diperpanjang »