Negosiasi Buntu, Utusan Khusus PBB Ungkap Gencatan Senjata di Yaman Gagal Diperpanjang

3 October 2022, 20:10.
Pengunjuk rasa di Taiz, Yaman, mendesak diakhirinya blokade selama bertahun-tahun yang diberlakukan oleh milisi syiah Houthi, 26 Juli 2022 (AFP)

Pengunjuk rasa di Taiz, Yaman, mendesak diakhirinya blokade selama bertahun-tahun yang diberlakukan oleh milisi syiah Houthi, 26 Juli 2022 (AFP)

YAMAN (Middle East Eye) – Setelah enam bulan berlangsung, gencatan senjata dalam perang Yaman antara milisi syiah Houthi yang didukung Iran dan koalisi pimpinan Saudi berakhir pada hari Ahad (2/10/2022) tanpa ada perpanjangan, sebut PBB.

Hans Grundberg, utusan khusus PBB untuk Yaman mengatakan bahwa upaya memperpanjang dan memperluas gencatan senjata untuk enam bulan berikutnya tidak berhasil sampai tiba batas akhir perjanjian sebelumnya, yang telah dua kali diperbarui sejak 2 April.

“Utusan khusus PBB menyesalkan bahwa kesepakatan belum tercapai hari ini, karena gencatan senjata yang diperpanjang dan diperluas akan memberikan manfaat penting bagi penduduk,” jelasnya.

“Saya mendesak [pihak-pihak yang bertikai] untuk memenuhi kewajiban mereka kepada rakyat Yaman dalam mengupayakan setiap jalan perdamaian,” kata diplomat Swedia itu.

Konflik yang dimulai pada tahun 2014 tersebut telah menewaskan ratusan ribu orang dan menciptakan apa yang disebut PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia dengan maraknya malnutrisi serta penyakit yang meluas.

Kedua pihak yang berkonflik telah mendapat seruan internasional untuk memperpanjang gencatan senjata, termasuk dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Bahkan Amerika Serikat dan Rusia bertemu khusus di Dewan Keamanan PBB untuk mendukung gencatan senjata.

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan kembali seruannya untuk perpanjangan gencatan senjata setelah bertemu dengan Rashad al-Alimi, Ketua Presidential Leadership Council (PLC) Yaman, di New York.

“Saya pikir menjadi hal yang tepat untuk mengatakan bahwa gencatan senjata, yang dampaknya dirasakan di seluruh Yaman, telah membuat perbedaan besar dalam meningkatkan kehidupan masyarakat,” kata Blinken.

PBB melalui Hans Grundberg telah bolak-balik antara Sana’a dan Oman, yang bertindak sebagai mediator, dalam upaya untuk mengamankan perpanjangan gencatan senjata.

Norwegian Refugee Council (NRC), salah satu kelompok kemanusiaan yang ikut membantu warga Yaman, mengatakan bahwa kegagalan perpanjangan itu “sangat mengecewakan”.

“Ini adalah kesempatan yang telah dilewatkan guna membantu jutaan warga sipil Yaman keluar dari konflik brutal yang telah disebabkan oleh pihak-pihak yang bertikai di negara itu,” ucap direktur NRC, Erin Hutchinson.

Jalan Buntu 

Pemimpin milisi syiah Houthi, Mehdi Mashat, mengatakan dalam pertemuan politik di Sana’a bahwa proposal PBB “tidak memenuhi aspirasi rakyat Yaman”, sebagaimana dilaporkan stasiun TV Al-Massira.

“Selama enam bulan terakhir, kami belum melihat adanya keinginan serius untuk menangani masalah kemanusiaan sebagai prioritas utama,” kata perwakilan Houthi yang menuduh koalisi gagal menyepakati langkah-langkah untuk mengurangi penderitaan rakyat Yaman.

Pada hari Ahad, Houthi, yang telah meluncurkan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang mematikan ke Arab Saudi dan anggota koalisi UEA beberapa waktu lalu, mengeluarkan peringatan kepada kedua negara.

“Angkatan bersenjata [Houthi] memberi kesempatan kepada perusahaan minyak yang beroperasi di UEA dan Arab Saudi untuk mengatur kondisi mereka dan pergi,” cuit juru bicara militer Houthi, Yahya Saree.

Kondisi Warga Meningkat Drastis

Jeda dalam pertempuran telah menyebabkan pengurangan 60 persen korban, sementara impor bahan bakar ke pelabuhan Hodeida yang dikuasai Houthi meningkat empat kali lipat, kata kelompok-kelompok kemanusiaan pada hari Kamis (29/9/2022).

Penduduk Sana’a mengatakan, kehidupan sehari-hari mereka telah meningkat secara drastis. Harga barang-barang telah turun karena lebih banyak suplai yang masuk ke kota, meskipun jalan-jalan utama tetap ditutup.

Sekira 23,4 juta dari 30 juta penduduk Yaman bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Akan tetapi, pada saat gencatan senjata berlangsung, Houthi dan koalisi saling menyalahkan atas pelanggaran yang dilaporkan. Pengepungan tetap dilakukan di Taiz, kota terbesar ketiga di Yaman, yang dikendalikan oleh pemerintah, tetapi diblokade oleh pasukan Houthi.

Yaman dilanda peperangan pada tahun 2014, ketika Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut ibu kota, Sana’a, memaksa pemerintah yang diakui secara internasional untuk melarikan diri ke Arab Saudi. Riyadh dan koalisi regional, terutama UEA, melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk menekan Houthi.

Pertempuran selama tujuh tahun masih gagal untuk mengusir Houthi, yang menguasai Yaman utara dan sekira 80 persen populasi negara itu, berikut dengan pusat-pusat kota besar.

Gencatan senjata April terjadi setelah beberapa pertempuran paling sengit, ketika Houthi berusaha merebut kota Ma’rib yang strategis. (Middle East Eye)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« “Cina Memberantas Budaya dan Agama Orang Uyghur, Mengubahnya Menjadi Tionghoa”
Belasan Warga Uyghur di Guma Meninggal Akibat Keracunan Disinfektan »