“Hari Nasional Cina”, Protes Atas Kejahatan terhadap Etnis Minoritas Menggema Luas di Berbagai Belahan Dunia

4 October 2022, 19:05.
Foto: HW News

Foto: HW News

(HW News) – Saat rezim Cina bersiap untuk mengadakan Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Cina (PKC) yang banyak diperkirakan akan menyetujui masa jabatan ketiga bagi Presiden Xi Jinping, protes anti-Cina menggema di seluruh dunia dalam peringatan Hari Nasional Cina tanggal 1 Oktober lalu.

Di Tokyo, ratusan warga Jepang turun ke jalan untuk mengekspresikan solidaritas kepada orang-orang yang tertindas di Tibet, Xinjiang, Mongolia, Hong Kong dan Taiwan.

Para pelari pagi di sekitar Kedutaan Besar Cina di Tokyo disambut oleh slogan-slogan yang mengkritik Cina atas tindakan brutalnya di semua wilayah minoritas.

Poster yang dibawa peserta aksi juga berbicara mengenai kerusakan yang ditimbulkan Cina terhadap Jepang dalam 50 tahun terakhir, meskipun perusahaan Jepang telah membantu membangun fondasi industri modern Cina.

Kemudian pada hari itu, para aktivis dari seluruh Jepang, serta perwakilan etnis minoritas dari Cina berjalan ke pusat kota Tokyo dengan membawa spanduk, bendera, dan poster yang mencela rezim komunis Tiongkok. Mereka menyeru seluruh dunia untuk menyadari bahaya yang ditimbulkan Cina.

Narasi demonstrasi berkisar pada dua tema: ‘tidak ada yang pantas untuk dirayakan’ dan ‘hari rasa malu’. Narasi yang bergema kuat tidak hanya di Jepang, tetapi semakin meluas ke seluruh dunia.

Protes juga digelar di depan Kedutaan Besar Cina di Wina, Austria. Diaspora Tibet bersama dengan Presiden organisasi Tibet di Wina, Nawang Lobsang Taglung mengadakan protes simbolis dengan membawa poster anti-PKC dan bendera Tibet.

Nawang mengatakan, “Perjuangan untuk kemerdekaan Tibet akan terus berlanjut di masa depan.”

Di Paris, beberapa organisasi kemanusiaan berkumpul untuk memprotes pelanggaran berat HAM dan kebijakan agresi yang dilakukan rezim komunis Cina kepada berbagai kelompok etnis minoritas.

Pada demonstrasi besar di dekat Kedutaan Besar Cina, 100 orang lebih dari organisasi seperti Students for Free Tibet (SFT), Committee for Liberation of Hong Kong, Association of Uyghurs in France, beserta kelompok Mongolia, Taiwan dan Vietnam bergabung dalam protes ini.

Menyatakan hari itu sebagai Hari Aksi Global, para pengunjuk rasa membawa plakat dengan slogan-slogan menentang dan menuntut Cina untuk segera mengakhiri genosida terhadap Uyghur serta pelanggaran berat lainnya kepada rakyat Tibet, Hong Kong, dan Taiwan.

Mereka juga meminta komunitas global untuk bersatu mencegah Cina melakukan kejahatan lebih jauh terhadap kemanusiaan.

Di kota Amsterdam, Belanda, untuk pertama kalinya beberapa organisasi Tionghoa: Chinese Democratic Party Overseas Committee, Netherland for Hong Kong, Southern Mongolian Congress, beserta Tibet Support Group bersatu dalam mengutuk Partai Komunis Cina.

Aksi protes juga dilangsungkan di negara-negara bagian di Amerika Serikat, termasuk New York dan California, begitu juga di negara tetangga, Kanada.

Di kota Istanbul, Turki, komunitas Uyghur menandai Hari Nasional Cina ke-73 sebagai awal dari era pendudukan, penganiayaan, kelaparan, dan kejahatan tidak manusiawi terhadap masyarakat Turkistan Timur.

Organisasi-organisasi Uyghur melakukan aksi protes di dekat Konsulat Cina di distrik Sariyer, Istanbul, menentang kebijakan asimilasi dan genosida yang disutradarai Cina.

Pemimpin Uyghur yang memelopori protes tersebut di antaranya: Hidayetullah Oghuzhan–Presiden East Turkestan Education and Solidarity Association (ETESA), Abduselam Teklimakan–Presiden East Turkestan New Generation Movement (ETNGM), Nur Muhammad Majid–perwakilan dari East Turkestan Australia Association, Rushan Abbas–aktivis Uyghur terkenal dan Pendiri & Direktur Eksekutif Campaign for Uyghurs, serta para akademisi Uyghur dan lainnya.

Protes dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan lagu nasional Turkistan Timur. Para pengunjuk rasa mengangkat slogan-slogan menentang kebijakan Cina dan Presiden Xi Jinping. Di antaranya: ‘Hentikan genosida Cina’, ‘Bebaskan keluarga kami’, ‘Di mana saudara kami’ dan ‘Hentikan kelaparan’.

Para pengunjuk rasa juga memajang foto-foto anggota keluarga mereka yang hilang di kamp-kamp konsentrasi di Xinjiang yang sudah bertahun-tahun tidak dapat mereka hubungi.

Sebuah konvoi sepeda motor sekira 50 aktivis Uyghur yang membawa bendera Turkiye dan Turkistan Timur lewat di dekat lokasi protes. Demonstrasi tersebut juga mengadakan penandatanganan spanduk besar untuk mendesak PBB melakukan tindakan yang semestinya.

Menurut Amnesty International, kondisi HAM di seluruh Cina terus memburuk. Pengacara dan aktivis HAM melaporkan maraknya diskriminasi dan intimidasi; pengadilan yang tidak adil; penahanan sewenang-wenang tanpa pengadilan dengan masa tahanan yang lama; dan penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya hanya karena menjalankan hak mereka atas kebebasan berekspresi maupun hak asasi manusia lainnya.

Dalam laporannya tahun 2021, Amnesty International menyatakan bahwa pemerintah PKC terus melanjutkan kampanye indoktrinasi politik, penahanan massal sewenang-wenang, penyiksaan dan asimilasi paksa terhadap minoritas Muslim yang tinggal di Xinjiang.

Laporan tersebut mengumpulkan data antara Oktober 2019 dan Mei 2021. Laporan ini disusun berdasarkan wawancara dengan 128 orang, termasuk 55 mantan tahanan kamp konsentrasi di Xinjiang, dan 68 Muhajirin Uyghur yang kehilangan anggota keluarga. (HW News)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Seorang Remaja Rohingya Tewas Akibat Ledakan Ranjau Darat di Perbatasan Myanmar-Bangladesh
Gencatan Senjata Yaman Gagal Diperpanjang, Krisis Kemanusiaan Bakal Semakin Parah? »