Pembunuhan, Penyiksaan, dan Pemerkosaan Warga Uyghur: Realitas Harian di Turkistan Timur (#2)

5 October 2022, 21:25.
Presiden Xi Jinping melambai kepada warga Urumqi, ibu kota Daerah Otonomi Uygur Xinjiang Cina, pada 13 Juli. Foto: Kantor Berita Xinhua via Kyodo

Presiden Xi Jinping melambai kepada warga Urumqi, ibu kota Daerah Otonomi Uygur Xinjiang Cina, pada 13 Juli. Foto: Kantor Berita Xinhua via Kyodo

TURKISTAN TIMUR (Japanforward.com) – Pada 12 September 2022, terdapat sebuah konferensi yang diadakan di Hunter College, di jantung kota New York. Konferensi itu mengangkat tema: genosida terhadap orang-orang Uyghur yang dilakukan oleh Partai Komunis Cina (PKC).

Para akademisi, aktivis, penulis, dan pejabat publik naik ke panggung di Roosevelt House Public Policy Institute untuk memerinci kejahatan yang dilakukan pemerintah Cina tersebut.

Judul “Kekejaman terhadap Uyghur: Hukum dan Politik”, memperjelas bahwa genosida Uyghur tidak hanya teoretis, tetapi benar-benar kejadian yang nyata.

Narasi Palsu ‘Persatuan Besar’ Tiongkok 

Magnus Fiskesjö, profesor antropologi di Universitas Cornell menjadi salah satu dari sedikit akademisi Amerika yang cukup berani berbicara menentang Republik Rakyat Cina (RRC), dengan menyampaikan konteks sejarahnya yang sangat rasis.

Pada 1930-an, Fiskesjö mencatat, komunis Tiongkok berjanji kepada etnis non-Han bahwa mereka nantinya dapat memisahkan diri dan membentuk negara mereka masing-masing.

Akan tetapi, janji ini tidak pernah ditepati. Oleh karena itu, warga Tibet, Uyghur, serta minoritas lainnya, dianggap sebagai “koloni internal” RRC.

“Rasisme yang meluas di Cina saat ini adalah sikap kekaisaran lama Cina dalam bentuk baru,” tegasnya, di mana ia menyampaikan bahwa Cina hari ini dan kekaisaran di masa lalu adalah satu.

Fiskesjö menunjukkan bahwa pada tahun 2021 pejabat PKC, termasuk Presiden Xi Jinping, memberikan penghormatan mereka di Kuil Puning di Chengde, Tiongkok.

Kuil tersebut dibangun atas arahan kaisar Dinasti Qing Qianlong untuk memperingati keberhasilannya dalam Genosida Dzungar tahun 1755 di wilayah yang sekarang menjadi Xinjiang, di mana sekira tiga perempat dari populasi etnis Mongol—lebih dari 400.000 orang, dan mungkin sebanyak 650.000—mati terbunuh.

Oleh PKC, kuil genosida itu dipropagandakan sebagai simbol “persatuan besar bangsa Tiongkok”. Fiskesjö juga mencatat bahwa tindakan Beijing hari ini memiliki “kesamaan yang mencolok” dengan apa yang telah direncanakan oleh kaum Sosialis Nasional di Jerman.

Setelah menyerang orang-orang Yahudi dan lainnya, Nazi berencana untuk mengasimilasi paksa dan melakukan Jermanisasi terhadap orang-orang di seluruh Eropa yang ditaklukkan, kemudian memusnahkan mereka yang menolak atau tidak mau bersatu.

Ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan PKC sekarang, Fiskesjö menekankan, hingga pada tingkat penculikan anak-anak Uyghur untuk dibesarkan paksa sebagai orang Tionghoa Han.

“Situasi yang Kami Alami Sangatlah Berat” 

Ilshat Hassan Kokbore, Wakil Ketua World Uyghur Congress, komite eksekutif dan mantan presiden Uyghur American Association, setuju dengan penilaian Fiskesjö tentang sejarah Tiongkok. Kokbore berpendapat, sebagian besar dunia masih salah paham tentang Cina.

“Cina bukanlah sebuah negara. Ini sebuah kekaisaran. Mereka menguasai hampir semua wilayah yang pernah dipegang oleh kekaisaran Manchu, di bawah Dinasti Qing. Mereka melihat warga Uyghur sebagai orang yang lebih rendah,” ungkap Kokbore.

Supremasi etnis yang kekaisaran modern Tiongkok dibangun di atasnya adalah fakta sehari-hari bagi mereka yang bukan etnis Han di Cina.

Meskipun Kokbore fasih berbahasa Mandarin, ia tetap menghadapi rasisme yang parah di Tiongkok. Dia diberitahu bahwa orang Uyghur malas dan membutuhkan “pencerahan” oleh orang-orang Han.

Bahkan PKC sampai membunuh saudara Kokbore. Agen PKC menikamnya sampai mati di sebuah restoran pada siang hari bolong. Adik Kokbore dan anggota keluarga lainnya ditangkap, lalu dijebloskan ke kamp konsentrasi.

“Aku hanya ingin mendengar suara ibuku, aku hanya ingin tahu bahwa adikku masih hidup,” kata Kokbore, seraya menyebut situasi yang dialaminya sangatlah berat.

Pengacara dan akademisi hak asasi manusia Teng Biao (Sumber foto: Teng Biao)

Pengacara dan akademisi hak asasi manusia Teng Biao (Sumber foto: Teng Biao)

Misi Teng Biao untuk Berbicara 

Seorang pengacara dan aktivis Han Cina bernama Teng Biao adalah orang di balik layar konferensi genosida Uyghur di Hunter College ini. Teng adalah akademisi Hak Asasi Manusia di Hunter College dan profesor tamu di Universitas Chicago.

Perjuangannya dimulai dengan kasus Sun Zhigang tahun 2003. Sun adalah seorang pekerja imigran yang disiksa sampai mati oleh PKC karena lupa mengajukan izin dan membawa kartu identitas.

Setelah mengetahui pelecehan yang mengerikan itu, Teng menulis surat terbuka kepada Kongres Nasional di Cina, memprotes penahanan di luar proses hukum, dan menyerukan peninjauan konstitusional.

Dalam wawancara terpisah dengan JAPAN Forward, Teng mencatat bahwa “ini merupakan awal dari gerakan hukum hak asasi manusia di RRC.”

Teng mengorganisir tim pengacara pada tahun 2005 untuk membantu Chen Guangcheng, seorang pengacara lain yang mempertaruhkan nyawanya demi mengekspos program aborsi paksa dan kekejaman lainnya terhadap perempuan dan anak-anak di Cina. Dia juga ikut mendirikan dua organisasi HAM, Open Constitution Initiative dan China Against the Death Penalty.

Teng telah membayar mahal untuk mengikuti hati nuraninya. Dia ditangkap dan disiksa pada tahun 2008 dan sekali lagi pada tahun 2011 karena perjuangannya.

Ketika ditanya, mengapa dia terus berbicara, Teng menjawab, “Sebagai orang Cina Han, saya memiliki kewajiban moral untuk membela Uyghur.”

Sejarah Panjang Gulag Cina 

Teng membahas lebih detail penjelasan Adrian Zenz sebelumnya mengenai apa yang terjadi di Turkistan Timur.

“PKC memiliki motif, kemampuan, pengalaman, dan aparat yang dimobilisasi untuk melakukan genosida,” ungkap Teng.

Seperti yang dicatat Teng, migrasi massal orang Tionghoa Han ke Turkistan Timur dan disponsori negara, telah dimulai pada tahun 1950-an. “Ada minyak, gas alam, tembaga, emas, batu bara, air, dan sumber daya lainnya di wilayah itu,” ucap Teng.

PKC dengan terampil memanipulasi propaganda atas apa yang disebutnya “tiga kejahatan”: terorisme, separatisme, dan ekstremisme agama, untuk membenarkan pengambilalihan lahan dan kekayaan alam Uyghur.

Penting untuk diingat, lanjut Teng, bahwa “PKC menganiaya semua agama di Tiongkok.” Penahanan massal para pengikut agama yang dianggap bermasalah oleh negara, telah terjadi sejak lama melalui sistem “laogai,” atau “gulag Cina”.

Petugas keamanan polisi Cina di Xinjiang. Foto: Arsip Reuters/Thomas

Petugas keamanan polisi Cina di Xinjiang. Foto: Arsip Reuters/Thomas

“Ada banyak kesamaan antara kamp-kamp Falun Gong dan kamp-kamp Uyghur, misalnya,” kata Teng, mengacu pada penghilangan sistematis para praktisi teknik meditasi Falun Dafa Buddhisme.

Dalam kedua kasus, juga terjadi cuci otak yang menggunakan penyiksaan.

“Cuci otak terkait erat dengan penyiksaan,” ucap Feng. “Di Cina, cuci otak tidak akan berhasil tanpa siksaan.”

Dalam wawancara terpisah, Teng menyatakan, “Rezim Cina melanggar hak asasi manusia setiap hari. Mereka melanggar hak asasi manusia secara institusional.” (Japanforward.com | selesai)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gencatan Senjata Yaman Gagal Diperpanjang, Krisis Kemanusiaan Bakal Semakin Parah?
Perahu yang Mengangkut Warga Rohingya dan Bangladesh Tenggelam, Tiga Orang Tewas dan Belasan Hilang »