Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan Akibat Peperangan Ancam Ketersediaan Air dan Makanan di Yaman

6 October 2022, 19:53.
Foto: Care

Foto: Care

YAMAN (Reliefweb.int) – Perubahan iklim, ditambah dengan kerusakan lingkungan yang luas akibat konflik selama hampir satu dekade, memperburuk situasi di Yaman. Peperangan panjang telah menyebabkan menipisnya sumber daya penting, seperti air dan lahan pertanian, serta hilangnya mata pencaharian, yang memaksa banyak warga mengungsi ke daerah lain.

Semua faktor di atas berpotensi menyebabkan konflik baru di Yaman. Demikian peringatan Center for Civilians in Conflict (CIVIC) dalam laporan barunya, “Risking the Future: Climate Change, Environmental Destruction, and Conflict in Yemen.”

“Bahkan jika konflik di Yaman bisa berakhir hari ini, Yaman harus bersiap untuk pertempuran lain: perang melawan perubahan iklim,” kata Niku Jafarnia, seorang peneliti CIVIC dan penulis laporan tersebut.

“Kami menemukan bahwa konflik berbasis sumber daya di Yaman akan meningkat pada tahun-tahun mendatang karena air dan lahan terus menipis. Negara ini akan menanggung rusaknya lingkungan akibat perang pada kondisi tanah dan sumber airnya, sampai beberapa dekade mendatang.”

CIVIC berbicara dengan komunitas dan individu di seantero Yaman–terutama di Aden, Marib, dan Taiz–untuk memahami dampak perubahan iklim dan perang terhadap mata pencaharian mereka, akses ke sumber daya alam, dan hubungan antar dan intra-komunitas.

Penelitian menyimpulkan bahwa kombinasi efek dari perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh peperangan telah mengancam kehidupan serta ketersediaan makanan dan air di Yaman.

Ketika dihadapkan dengan berkurangnya sumber daya alam dan mata pencaharian, orang-orang di Yaman sering kali terpaksa pindah. Ketegangan dapat terjadi antara warga pendatang yang mengungsi dengan masyarakat tuan rumah sehingga rawan perselisihan lokal.

Muna Luqman, pendiri Food4Humanity, sebuah organisasi sipil di Yaman mengatakan, “Keluarga-keluarga melarikan diri dari konflik … kemudian mereka akhirnya berkelahi dengan komunitas tuan rumah karena sumber air yang terbatas.”

Akan tetapi, ini bukan masalah baru di Yaman. Pada awal 2010, akses ke air dan lahan disebut-sebut sebagai penyebab utama konflik yang terjadi sampai hari ini.

Situasi kemungkinan akan memburuk karena pihak-pihak yang bertikai telah secara langsung menyerang infrastruktur pangan dan air, serta mengancam lahan pertanian dan sumber air dengan menempatkan ranjau darat di sekitar sumber daya penting tersebut.

Perempuan, anak-anak, dan orang-orang telantar lebih rentan terhadap perubahan iklim, kelangkaan sumber daya, dan berbagai risiko yang menyertainya.

Perempuan dan anak-anak–yang biasanya ditugasi untuk mengambil air–harus berjalan jauh untuk bisa mengambilnya dan berisiko lebih tinggi menginjak ranjau darat di perjalanan.

“Bahkan jika tidak ada perang pun, faktor perubahan iklim saja sudah menjadi risiko serius yang bisa menyebabkan konflik di masa depan,” kata seorang pengungsi internal dari Distrik Sirwah yang tinggal di Kamp Al-Sumayya di Marib kepada CIVIC. (Reliefweb.int)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Menguak Jejak Kelam Facebook dalam Memfasilitasi Kekejaman dan Kezhaliman terhadap Etnis Rohingya
Jelang Kongres Partai Komunis Cina, Larangan Perjalanan Diberlakukan di Wilayah Xinjiang »