Pemerintah Inggris Didesak Minta Maaf Atas Kejahatan Perang di Wilayah Palestina

9 October 2022, 22:01.
[Getty Images]

[Getty Images]

PALESTINA (BBC) – Penduduk Desa al-Bassa–di dekat perbatasan Lebanon–menjadi korban kebrutalan serdadu Inggris, saat musim gugur tahun 1938.

Senapan mesin yang dipasang di mobil lapis baja Rolls Royce melepaskan rentetan tembakan ke desa Palestina itu.

Setelah itu, Royal Ulster Rifles–resimen infanteri Angkatan Darat Inggris–membakar rumah-rumah penduduk hingga rata dengan tanah.

Penduduk ditangkapi secara massal. Serdadu Inggris lantas menggiring mereka ke dalam bus, lalu memaksa kendaraan itu melewati ranjau darat. Setelah itu, terjadilah ledakan; yang membunuh semua orang di dalam bus.

Saat itu, serdadu Inggris menghadapi perlawanan penduduk Palestina. Inggris menjajah kawasan itu setelah kekalahan dua dekade sebelumnya dari Kekhalifahan Utsmaniyyah.

Serangan Inggris di Desa al-Bassa merupakan bagian dari kebijakan brutal sebagai tindakan “hukuman” terhadap seluruh desa Palestina. Yakni setelah terjadinya ledakan bom di pinggir jalan yang menewaskan empat serdadu Inggris; tanpa kejelasan siapa yang harus bertanggung jawab.

Kekejaman itu terungkap beberapa dekade kemudian. Kini, fakta-fakta itu menjadi bagian dari berkas petisi yang diajukan ke pemerintah Inggris untuk meminta pertanggungjawaban mereka atas pembantaian terhadap warga Palestina yang menjadi sasaran kejahatan perang serdadu Inggris.

Petisi tersebut, yang berisi bukti setebal 300 halaman, mendesak pengakuan dan permintaan maaf secara resmi atas pelanggaran selama periode penjajahan Inggris di Palestina dari tahun 1917 hingga 1948.

Temuan bukti sejarah yang diungkap termasuk pembunuhan sewenang-wenang, penyiksaan, penggunaan perisai manusia, juga penghancuran rumah sebagai “hukuman kolektif”. Sebagian besar dilakukan dalam pedoman kebijakan formal, atau dengan persetujuan “perwira senior” serdadu Inggris.

“Saya ingin orang-orang tahu bahwa orangtua saya; ketika muda menghadapi situasi yang sangat sulit. Mereka berdua telah meninggal sebagai korban. Kita harus berbicara untuk mereka sekarang,” kata Eid Haddad, putra dari dua korban pembantaian di al-Bassa, berbicara kepada BBC Newsnight.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pihaknya mengetahui tuduhan historis terhadap personel angkatan bersenjata selama periode tersebut dan setiap bukti yang diberikan akan “ditinjau secara menyeluruh”.

Desakan agar Inggis menyatakan pengakuan dan permintaan maaf kemungkinan akan membuka kembali perdebatan mengenai penyampaian akuntabilitas modern atas kejahatan era kolonial, termasuk situasi Palestina yang menghadapi penjajahan panjang ‘Israel’.

Penyusun Petisi Pernah Ditembak Serdadu Zionis 

Petisi tersebut dilayangkan Munib al-Masri (88 tahun), pebisnis dan mantan politisi Palestina, yang pernah ditembak serdadu Inggris pada tahun 1944, ketika ia berusia sekira 10 tahun.

“[Kejahatan Inggris] sangat memengaruhi kehidupan saya. Saya melihat langsung bagaimana orang-orang Palestina dilecehkan. Kami tidak memiliki perlindungan apa pun, dan tidak ada yang membela kami,” kata al-Masri kepada BBC, di rumahnya di Nablus di Tepi Barat terjajah.

Dua pengacara internasional senior dimintai bantuan oleh Munib al-Masri untuk melakukan telaah independen terhadap bukti-bukti yang berhasil dihimpun.

Yakni Luis Moreno Ocampo, mantan kepala jaksa di Pengadilan Kriminal Internasional, dan pengacara Inggris Ben Emmerson KC, mantan Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia dan kontra-terorisme.

Ben Emmerson mengatakan tim hukum telah menemukan bukti kejahatan mengejutkan yang dilakukan oleh unsur-unsur tertentu dari pasukan Mandat Inggris secara sistematis terhadap penduduk Palestina.

Beberapa dari mereka melakukan kejahatan yang sangat besar sehingga akan dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.

Kandang Kawat Berduri 

Al-Masri akan menyerahkan petisi tersebut kepada pemerintah Inggris di London akhir tahun ini.

Petisi tersebut mengacu pada fakta kejahatan dan kekejaman lainnya pada musim panas 1939, ketika serdadu dari resimen Black Watch melakukan operasi pencarian senjata di Desa Halhul, yang terletak di Tepi Barat.

Berbagai laporan dari penduduk dan serdadu Inggris memerinci bagaimana rumah-rumah digerebek dan penduduk desa ditangkap dengan todongan senjata; lalu sekira 150 orang digiring ke ruang di belakang masjid dan banyak yang dipaksa masuk ke kandang kawat berduri.

“Para penduduk yang ditangkap bukan milisi revolusioner, mereka petani. Milisi revolusioner bermarkas di pegunungan,” kata Mohammed Abu Rayan (88 tahun), yang masih kecil ketika serdadu Inggris menyerbu rumahnya dan menduduki atap.

Abu Rayan mengenal banyak orang yang selamat dari kurungan Halhul. Selama dua minggu penahanan dalam panas terik, 13 orang meninggal karena dehidrasi, sementara setidaknya satu orang ditembak karena mencoba melarikan diri.

“Mereka mulai menggali tanah untuk mencoba memakan akar-akaran di dalamnya. Mereka meletakkan lumpur di kulit mereka hanya untuk mencoba mendinginkan,” kata Abu Rayan kepada BBC di rumahnya di Halhul.

Seorang pejabat Inggris mengakui peristiwa itu, namun ia menyebutkan jumlah korban tewas sedikit lebih rendah.

“Setelah 48 jam perawatan, sebagian besar pria itu sakit parah dan 11 orang tua dan lemah meninggal. Saya diperintahkan bahwa tidak ada pemeriksaan sipil yang harus diadakan,” tulis Komisaris Distrik Edward Keith-Roach dalam sebuah surat pribadi.

Sebuah laporan penting diberikan beberapa dekade kemudian oleh Letnan Kolonel Lord Douglas Gordon, mantan Subaltern dari resimen Black Watch.

Ia mengungkapkan adanya “kandang yang baik” dengan tenda untuk tempat berteduh dan air yang tidak dibatasi, di sebelah “kandang yang buruk” tanpa tempat berlindung, dengan jatah air sekira satu liter per hari.

Ketegangan yang Terus Meningkat 

Penjajahan Inggris atas Palestina dimulai selama Perang Dunia Pertama; ketika mereka mengusir pasukan Turki Utsmani. Pada tahun 1917, Menteri Luar Negeri Arthur Balfour berjanji kepada gerakan zionis untuk mendirikan rumah nasional Yahudi; dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi Balfour.

Inggris diberi mandat untuk memerintah, yang memungkinkan tingkat imigrasi Yahudi dan perampasan tanah meningkat. Kondisi ini memicu meningkatnya ketegangan dengan orang-orang Arab Palestina.

Aksi perlawanan rakyat Palestina–yang dikenal sebagai Revolusi Arab–pecah mulai tahun 1936. Inggris lantas membanjiri negara itu dengan serdadunya.

Orang-orang Arab di Palestina memimpin perlawanan terhadap pemerintahan Inggris dari tahun 1936 hingga 1939.

Sejarawan militer Prof Matthew Hughes mengatakan seluruh negeri menjadi semacam penjara.

Penulis “Pacification of Palestine” itu mengatakan pedoman militer Inggris memungkinkan pasukan untuk melakukan “hukuman kolektif”. Bentuknya; berupa penghancuran rumah serta “pembalasan” dan penembakan, juga penembakan target yang berupaya menyelamatkan diri.

Diikat dan Dipukuli 

Kenangan sejumlah tentara dan petugas polisi Inggris di Palestina ditemukan di arsip Imperial War Museum di London. Beberapa rekaman sejarah lisan memerinci laporan tentang serangan “hukuman”, penggunaan perisai manusia, dan penyiksaan.

Fred Howbrook, seorang perwira di Resimen Manchester, mengatakan mereka akan pergi ke desa-desa dan menghancurkan beberapa rumah. Sementara penduduk hanya bisa menonton.

Prajurit lain dari Resimen Manchester, Arthur Lane, menggambarkan bagaimana mereka akan turun ke penjara Acre dan menculik katakanlah lima atau tiga pejuang perlawanan yang ditawan.

Mereka lalu mendudukkan tawanan di kap mesin sehingga orang di atas bukit itu dapat melihat seorang Arab di atas truk agar dia tidak meledakkannya.

Dia juga berbicara tentang praktik yang disebut “menjalankan tantangan”; di mana tawanan Palestina dipaksa berlari di antara dua barisan tentara Inggris. Mereka diikat dan dipukul dengan popor senapan dan kapak. Jika ada yang tewas, jenazahnya akan diangkut lalu dibuang di salah satu bagian luar desa.

Praktik “menjalankan tantangan” itu didokumentasikan oleh tentara Inggris Arthur Lane

“Inggris akhirnya menggunakan metode kontrol yang agak jahat atas orang Yahudi dan Arab,” kata sejarawan ‘Israel’ Tom Segev, penulis One Palestine, Complete.

Sementara banyak orang ‘Israel’ tetap bersyukur atas Deklarasi Balfour, Segev mengatakan pada tahun 1940-an ketegangan antara zionis dan Inggris meningkat “sangat buruk”. Beberapa orang Yahudi merasa bahwa Inggris mengkhianati mereka.

Bahkan Inggris sempat mengembalikan kapal-kapal yang selamat dari Holocaust Nazi yang berusaha untuk sampai ke Palestina.

“Mereka adalah penguasa yang sangat keras. Yang mereka inginkan hanyalah: ‘Diam, jangan ganggu kami dengan masalah Anda, kami tidak terlalu peduli siapa yang benar dan siapa yang salah’. Jadi, mereka menerapkan metode operasi yang sangat buruk,” kata Tom Segev.

Sementara itu, al-Masri, sang penyusun petisi, berargumen bahwa negara palsu ‘Israel’ yang dibentuk tahun 1948 mengadopsi beberapa kekuatan darurat yang ditinggalkan Inggris.

“Inggris harus melihat jalan dan sarana ini untuk memberi kompensasi atas situasi tersebut, untuk berani dan berkata secara terbuka: ‘Maaf saya telah melakukan hal-hal tersebut’,” katanya. (BBC)

Foto-foto setelah ledakan al-Bassa diterbitkan dalam memoar seorang serdadu Inggris. [Harry Arrigonie/Edward] Gaskell

Foto-foto setelah ledakan al-Bassa diterbitkan dalam memoar seorang serdadu Inggris. [Harry Arrigonie/Edward Gaskell]

Tindakan "menjalankan tantangan" didokumentasikan oleh serdadu Inggris Arthur Lane. [Arthur Lane]

Tindakan “menjalankan tantangan” didokumentasikan oleh serdadu Inggris Arthur Lane. [Arthur Lane]

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Jelang Kongres Partai Komunis Cina, Larangan Perjalanan Diberlakukan di Wilayah Xinjiang
Penjajah Zionis Serang Kamp Jenin, Dua Warga Palestina Tewas Ditembak »