Fakta Terkuak: Influencer yang Mengaku Warga Uyghur Terhubung dengan Partai Komunis Cina (#1)

14 November 2022, 21:46.

Jika menonton beberapa video di YouTube yang menampilkan influencer muda Uyghur, besar kemungkinan Anda tidak akan melihat bukti-bukti penindasan keji Cina terhadap etnis minoritas Muslim tersebut.

Dalam sebuah laporan di pertengahan Oktober, sebuah pusat penelitian Australia telah membedah lebih dari 1.700 video dari Uyghur yang menunjukkan bahwa itu sebenarnya adalah bagian dari jaringan propaganda Cina di bawah Presiden Xi Jinping.

“Apakah Anda ingin tahu tentang kapas di Xinjiang? Jika iya, ikuti [saya]!” kata seorang wanita muda sambil tersenyum yang memperkenalkan dirinya sebagai “Anni Guli”, seorang warga Uyghur. Dalam video tersebut, Anni memberi tahu para pemirsanya bahwa dia akan menunjukkan ladang kapas di Xinjiang.

Dalam video yang dipublikasikan di Youtube pada April 2021 ini, Anni mewawancarai seseorang yang dia panggil “kakak perempuan”, yang katanya bekerja di ladang. Kemudian dia melemparkan dirinya ke tumpukan kapas yang baru dipotong. Dengan nada ceria sepanjang video, Anni menunjukkan kualitas dan keunggulan kapas Xinjiang.

Adegan dalam video tersebut tampak sangat jauh dari banyak bukti kuat yang sudah luas diketahui bahwa rezim komunis Cina telah melakukan penganiayaan terhadap etnis minoritas Uyghur, dengan kedok perang melawan “ekstremisme” dan “terorisme”.

Lebih dari satu juta warga Uyghur saat ini dikurung di kamp kerja paksa, menurut PBB, dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 31 Agustus 2022. Di dalamnya, dimuat pula bukti-bukti “yang dapat dipercaya” atas tindakan kekerasan seksual dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan kepada Muslim Uyghur.

Di situs-situs online, Anda bisa menemukan ratusan video influencer muda seperti Anni Guli. Banyak dari mereka menggunakan kata “Guli”, yang berarti bunga dalam bahasa Uyghur dan sering digunakan untuk merujuk pada wanita muda.

Semua video ini ibarat kartu pos cantik dari Xinjiang, dengan menunjukkan para wanita muda mengenakan pakaian tradisional Uyghur yang terbuat dari sutra bersulam, berpose di depan pemandangan yang indah.

Faktanya, Tidak Ada Akses ke Situs-situs Asing bagi Warga Uyghur 

Peneliti Prancis, Dilnur Rehyan, yang berasal dari Uyghur, telah berbicara selama bertahun-tahun mengenai situasi menakutkan di Xinjiang. Dia memberi tahu bahwa video-video semacam itu adalah produk dari mesin propaganda Tiongkok.

“Video-video ini mungkin dibuat di bagian wilayah [Xinjiang] yang dibiarkan utuh demi kepentingan propaganda. Bagi warga Uyghur, tidak ada akses untuk menggunakan jaringan media sosial asing. Hal itu menjadi salah satu dari 75 tanda radikalisasi yang bisa membuat Anda dikirim ke kamp konsentrasi atau dijatuhi hukuman penjara yang serius,” jelas Rehyan.

Penggunaan jaringan media sosial asing benar-benar menjadi “tanda radikalisme” ke-68 yang menjadi standar acuan oleh pihak berwenang Tiongkok, sebagaimana diverifikasi oleh tim The Observer dari kantor berita France24.

Daria Impiombato adalah peneliti di Australian Strategic Policy Institute (ASPI), sebuah pusat penelitian yang telah menerbitkan beberapa laporan tentang penderitaan etnis Uyghur di Cina.

Impiombato dan rekan-rekannya menganalisis lebih dari 1.700 video yang dibuat oleh 18 influencer berbeda. Sebagian besar influencer ini adalah orang Uyghur, tetapi beberapa berasal dari Kazakhstan, Tibet, Mongolia, dan Hong Kong.

Penelitian ASPI telah mengungkapkan beberapa hubungan antara para influencer ini dan Partai Komunis Cina (PKC):

“Fakta bahwa influencer ini tampaknya memiliki izin khusus untuk bisa melakukan siaran di YouTube tanpa dampak apa pun dalam kehidupannya, sangat mencurigakan.”

“Ternyata mayoritas wanita yang sangat muda ini pada dasarnya melakukan siaran atas nama negara Cina dan mendorong narasi propaganda, yang sangat-sangat diandalkan secara politis.”

“Beberapa dari mereka adalah anggota PKC yang mendapat kartu (keanggotaannya). Sementara (influencer) lainnya telah menerima penghargaan oleh PKC maupun badan lain dari rezim Cina.

“Kami memutuskan untuk memeriksa dan memahami apa yang sebenarnya terjadi, kemudian kami segera menyadari bahwa akun-akun ini sebenarnya dijalankan oleh perusahaan swasta yang disebut ‘jaringan multi-kanal’ di Cina atau AMC.”

“Beberapa perusahaan benar-benar menandatangani kontrak kerja sama dengan biro propaganda setempat agar anggota partai lokal dapat menjadi selebritis di internet.”

Para peneliti menemukan bahwa beberapa influencer bekerja dengan Chengdu Grey Man Culture Communication, sebuah agensi yang memiliki spesialisasi dalam “konten kebudayaan”, khususnya di Sichuan, Tibet, dan Xinjiang.

Agensi tersebut telah melakukan proyek-proyek yang berhubungan dengan Partai Komunis Cina (PKC). Misalnya, “mengubah seorang anggota Partai di Xinjiang menjadi bintang internet sungguhan”, sebut Impiombato. Influencer itu memiliki hampir 870.000 pelanggan di media sosial Douyin, yakni TikTok versi Cina.

Melalui Twitter, Fergus Ryan mengunggah kontrak Chengdu Grey Man yang bernilai 996.000 Yuan (sekira 2,2 miliar rupiah) dari biro propaganda pemerintah setempat guna mengubah Renagul Rahman, salah seorang anggotanya, menjadi seorang “artis” di Douyin dan situs-situs berbasis video lainnya.

Ryan juga memperlihatkan bagaimana Renagul Rahman ditampilkan dalam sebuah video setelah “diubah” oleh Chengdu Grey Man.

Para influencer yang dikelola oleh agensi semacam ini tidak hanya mendapat jutaan penayangan dari dalam Cina, tetapi mereka juga menarik perhatian dari luar negeri. (observers.france24.com / bersambung)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kebakaran Melanda Kamp Al-Jisha Yaman, 100 Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal
Muslimah Palestina Berusia 16 Tahun Tewas Dibunuh Penjajah Zionis di Beituniya »