Pembunuhan di Kamp Muhajirin Rohingya Marak, Polisi Bangladesh Tangkap 90 Teroris

19 November 2022, 18:51.
Liang kubur disiapkan untuk menguburkan Mohibullah, seorang perwakilan internasional dari pengungsi etnis Rohingya, di kamp pengungsi Rohingya di Kutupalong, Bangladesh, 30 September 2021. Foto: AP/Shafiqur Rahman (Arsip)

Liang kubur disiapkan untuk menguburkan Mohibullah, seorang perwakilan internasional dari pengungsi etnis Rohingya, di kamp pengungsi Rohingya di Kutupalong, Bangladesh, 30 September 2021. Foto: AP/Shafiqur Rahman (Arsip)

THE DIPLOMAT – Polisi elit Bangladesh melancarkan operasi gencar dan menangkap sedikitnya 90 warga Rohingya, setelah pembunuhan berencana melonjak di kamp-kamp Rohingya. Bulan lalu, enam pemimpin komunitas Rohingya dan seorang anak tewas di kamp pengungsian, diduga oleh kelompok kriminal bersenjata, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Farouk Ahmed, juru bicara Batalion Polisi Bersenjata yang bertanggung jawab atas keamanan kamp mengatakan, “Ada tujuh pembunuhan bulan lalu, jadi kami memulai tindakan keras bernama ‘Operation Root Out.’ Di bawah operasi itu, kami telah menangkap sekira 90 Rohingya yang terlibat dalam pembunuhan bulan lalu.”

Dia menambahkan, “ARSA terlibat dalam pembunuhan ini, dan mereka bertanggung jawab atasnya… ARSA datang ke sini dari Myanmar dan menargetkan para pemimpin sipil Rohingya yang terus mengupayakan repatriasi.”

Selain pembunuhan, Ahmed mengklaim ARSA terlibat dalam “pembunuhan, pemerasan, penculikan, penjualan narkoba, dan perdagangan manusia” di kamp-kamp tersebut.

“Mahad Islam [kelompok bersenjata lain] dan ARSA memasuki kamp Rohingya lalu menciptakan konflik dan kekacauan. Mereka semua teroris. Kami telah memulai tindakan keras untuk menstabilkan ketertiban di kamp,” lanjutnya.

Dalam empat bulan terakhir, sedikitnya 20 Muhajirin Rohingya tewas terbunuh, sebagian besar adalah tokoh masyarakat Rohingya. Polisi Bangladesh sendiri sudah menangkap sedikitnya 900 warga Rohingya dari kamp tersebut dalam enam bulan sebelumnya.

John Quinley III, pakar HAM dari Fortify Rights, membenarkan bahwa para pemimpin di kamp pengungsi Rohingya telah tewas dalam upaya pembunuhan beberapa minggu terakhir.

“Tim kami di Fortify Rights telah menerima laporan, termasuk bukti foto setelah beberapa pembunuhan yang terjadi. Selama bertahun-tahun, telah terjadi pembunuhan, penculikan, penyiksaan, dan ancaman dari aktor non-negara terhadap pengungsi Rohingya, termasuk pembela hak asasi manusia.”

Pada tahun 2017, ARSA menyerang pos keamanan Angkatan Darat Myanmar. Tentara Myanmar menggunakan itu sebagai dalih untuk melakukan serangan brutal kepada etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, yang telah dinyatakan oleh Amerika Serikat dan PBB sebagai kejahatan genosida.

Demi menyelamatkan hidup mereka, 740.000 lebih warga Rohingya melarikan diri dari tanah airnya dan berlindung di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh. Jumlah Muhajirin Rohingya terus meningkat menjadi 920.000 dalam lima tahun. Mereka terpaksa tinggal di kamp-kamp kumuh dengan akses layanan kesehatan, pendidikan, dan mata pencaharian yang sangat terbatas.

Pada malam 26 Oktober, seorang Rohingya bernama Mohammad Jasim diculik dari rumahnya dan dibunuh secara brutal. Dia tinggal di kamp pengungsian Balukhali di Ukhia.

Istri Jasim, Sophia Khatun (20 tahun), menceritakan bagaimana ARSA membunuh suaminya di depan matanya.

“Setelah Jasim masuk ke dalam rumah dan duduk makan nasi, lima pria bersenjata bertopeng mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah dengan membawa palu dan tongkat.”

“Begitu mereka melihat suami saya, mereka berkata, ‘Kami sudah lama mencarimu; kami telah menemukanmu kali ini. Hari ini kematianmu tidak bisa dihindari lagi.’”

“Teroris bersenjata menyiksa Jasim, memukulinya. Suamiku merangkul ibuku dan aku, memohon untuk diselamatkan.”

“Malam itu, sekira 60 teroris Arakan Rohingya Salvation Army mengepung rumah kami, semuanya memakai topeng. Tidak ada tetangga Rohingya yang membantu kami. Saat saya berteriak, mereka memukul keras dahi saya dengan senjata, dan dahi saya terluka. Mereka juga memukul adik saya dengan tongkat. ARSA membawa suami saya ke jalan dekat rumah kami dan secara brutal menembak mati dia setelah beberapa perseteruan dengan kami.”

“Teroris ARSA membunuh suami saya di depan mata saya. Saya bertanya kepada mereka apa kesalahan suami saya, dan mereka mengatakan suami saya adalah seorang pengkhianat. Dia menentang apa yang ARSA lakukan. Komandan ARSA memerintahkan kami untuk membunuhnya. ARSA secara brutal membunuh suami saya.”

Sekarang Sophia putus asa akan masa depannya dan anak-anaknya. “Kami berlindung di Bangladesh agar bisa hidup damai, untuk menghindari penganiayaan serdadu-serdadu Myanmar. ARSA telah menghancurkan semua penopang hidup saya. Kami menikah pada Desember 2017. Dia adalah buruh harian. Sekarang saya sudah menjanda. Saya memiliki dua anak.”

ARSA, sebelumnya dikenal sebagai Al-Yaqin, tidak hanya membunuh orang di kamp, tetapi juga dituduh melakukan pemerkosaan, memeras uang para Muhajirin untuk membeli senjata, memaksa para Muhajirin Rohingya mendukung aksi-aksi mereka, dan perdagangan manusia. Ditambah sekarang mereka menargetkan para Muhajirin Rohingya yang memperjuangkan repatriasi ke tanah airnya.

Abdul Malek (nama samaran), 40 tahun, mengatakan, “Putri saya bekerja di sebuah LSM. Kami harus membayar ARSA 2.000 taka (sekira 300 ribu rupiah) per bulan. Dengan uang tersebut, mereka akan membeli senjata dan berperang melawan tentara Myanmar. Kami tidak mendengarkan mereka.”

“Suatu hari, putri saya diculik oleh teroris ARSA dalam perjalanan pulang dari kantor. Tidak ada warga Rohingya yang berani berbuat sesuatu, putri saya berulang kali meminta bantuan, namun tidak ada yang membantunya. Dia diperkosa lalu dilepaskan.”

“Akan tetapi, ketika saya akan mengajukan kasus terhadap mereka di kantor polisi, mereka mendapat informasi itu, dan mereka menyerang saya di tengah perjalanan dan mematahkan tangan saya. ARSA akan membunuh saya jika saya melaporkan mereka.”

Abdu Rashid (nama samaran), 27 tahun, menjalankan sekolah swasta di kamp pengungsian dan juga aktivis hak asasi Rohingya.

“Saya baru mengatakan bahwa daripada membunuh warga Rohingya di kamp, mereka semestinya melawan tentara Myanmar jika benar-benar memperjuangkan hak kami. Barulah kami akan percaya bahwa mereka sungguh-sungguh berusaha membela kami,” ucapnya.

“Mereka lalu merusak gubuk saya, menculik dan menyiksa saya secara tidak manusiawi,” lanjutnya. Ia dibebaskan setelah keluarganya membayar uang tebusan 300.000 taka (sekira 45 juta rupiah).

“Sekarang saya menghentikan kegiatan saya; jika saya membuka mulut lagi, mereka akan membunuh saya. Mereka sudah menyatakannya.”

Seorang pemimpin perempuan Muhajirin Rohingya ikut angkat suara. Seperti narasumber lainnya, dia meminta tetap anonim demi alasan keamanan. Dia menceritakan bahwa dirinya terpaksa melarikan diri dari kamp karena takut akan kehilangan nyawanya.

“Saya telah melarikan diri dari kamp, dan sekarang saya bertahan di luar kamp, menyewa rumah dari warga setempat. Saya tidak tahu berapa lama saya bisa melakukannya. ARSA telah mengancam saya beberapa kali. Mereka siap membunuh saya. Mereka bilang saya perempuan, kerja perempuan bukan aktivisme, bukan kerja untuk repatriasi. Mereka akan membunuh saya karena vokal tentang hak-hak komunitas kami di kamp.”

“Ketika ARSA membunuh pemimpin kami, Mohibullah, mereka mengubur masa depan Rohingya hari itu. Sekarang ARSA berusaha membunuh para Majhis (pemimpin) kamp dan para aktivis hak asasi Rohingya. ARSA tidak bekerja untuk Rohingya. Mereka masuk untuk memusnahkan Rohingya. Tidak ada yang aman dari mereka.”

Pada September 2021, sebuah kelompok bersenjata membunuh Mohibullah, seorang pemimpin ternama Rohingya yang sempat berbicara di pertemuan PBB dan Gedung Putih. Ia berjuang untuk memulangkan bangsanya kembali ke tanah air secara bermartabat.

Keluarga Mohibullah menyalahkan ARSA atas pembunuhan tersebut, mengatakan dia dibunuh atas perintah komandan ARSA, Ataullah Abu Ammar Jununi.

“ARSA membuat hidup sengsara bagi warga Rohingya yang mencari perlindungan di Bangladesh untuk menyelamatkan hidup mereka. Mereka bertanggung jawab atas tujuh pembunuhan dalam satu bulan ini. Semua orang mengatakan mereka terlibat dalam pembunuhan ini,” kata Aung Kyaw Moe, seorang penasihat HAM untuk National Unity Government (NUG), atau pemerintah sipil bayangan Myanmar.

Dia mengatakan NUG sedang mengumpulkan dokumentasi semua tindak kejahatan ARSA, termasuk pembunuhan-pembunuhan di kamp pengungsian.

“Ada motif politik di balik pembunuhan semua pemimpin kamp. Kami sudah mendapatkan informasinya,” jelasnya.

Aung Kyaw Moe mengklaim bahwa ARSA sebenarnya bekerja sama dengan militer Myanmar, dan dia menegaskan bahwa Angkatan Darat Myanmar dan ARSA harus dimintai pertanggungjawaban.

“Mereka yang melakukan genosida terhadap Rohingya dan mereka yang bergabung dengan militer Myanmar dalam melakukan genosida terhadap Rohingya harus diadili sebagai penjahat. Mereka akan diadili dengan kerja sama komunitas internasional. Kami tidak akan mengampuni ARSA; mereka juga harus diadili karena mereka membunuh saudara-saudara Rohingya kami, dan menciptakan keresahan di kamp.”

Shahidul Haque, mantan Mayor Jenderal dan sebelumnya atase pertahanan Bangladesh untuk Myanmar, setuju bahwa ARSA bekerja lebih banyak untuk militer Myanmar daripada untuk Rohingya.

“Apa yang telah dilakukan ARSA untuk Rohingya? Mereka lebih banyak merugikan bangsa Rohingya. Mereka bekerja untuk kepentingan Angkatan Darat Myanmar.”

Haque menjelaskan bahwa militer Myanmar tidak ingin Muhajirin Rohingya kembali ke Arakan (Rakhine), tanah airnya. ARSA menjadi kepanjangan tangan militer, dengan menargetkan mereka yang berjuang untuk repatriasi tersebut.

Quinley dari Fortify Rights mendesak otoritas Bangladesh untuk memprioritaskan keamanan bagi para Muhajirin Rohingya dan bekerja sama dengan UNHCR untuk menyediakan ruang perlindungan bagi mereka yang mencari keselamatan di kamp.

Dhaka juga harus bekerja untuk memberi para Muhajirin akses ke mata pencaharian, pendidikan, dan kebebasan bergerak, guna menciptakan lingkungan yang lebih kondusif di kamp pengungsian. (The Diplomat)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Hamas: Negeri Muslim Harus Bersatu Boikot Zionis, Dukung Perjuangan Rakyat Palestina
Dukungan Nyata terhadap Muhajirin Rohingya Harus Dilakukan secara Kolektif dan Bertanggung Jawab »