Sebelum Maupun Sesudah Gencatan Senjata, Ranjau Darat Terus Menjadi Ancaman Besar bagi Rakyat Yaman

26 November 2022, 18:38.
Abdullah, anak Yaman berusia tujuh tahun, yang terluka akibat ledakan ranjau darat di Provinsi Taez, Yaman barat, duduk di kursi roda di sebelah tempat pengungsian keluarganya di Distrik al-Hamili pada 29 November 2018. (AFP via Getty Images)

Abdullah, anak Yaman berusia tujuh tahun, yang terluka akibat ledakan ranjau darat di Provinsi Taez, Yaman barat, duduk di kursi roda di sebelah tempat pengungsian keluarganya di Distrik al-Hamili pada 29 November 2018. (AFP via Getty Images)

SANAA (Al-Monitor) – Selama lebih dari delapan tahun, konflik berdarah di Yaman telah membunuh dan melukai warga sipil dari semua lapisan masyarakat. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak yang menjadi korban ranjau darat yang ditanam milisi syiah Houthi.

Pada tahun 2017, Dalila Abdo Ahmad dan sepupunya, Afaf, pergi mengambil air di Distrik Sabir al-Mawadim, Provinsi Taiz.

Tidak ada yang tahu bahwa pada malam sebelumnya, agen Houthi telah menyelinap untuk menanam ranjau di seluruh kota. Saat kedua wanita itu berjalan, sebuah ranjau meledak.

Dalila kehilangan kedua kakinya. Sementara itu, Afaf kehilangan kaki kanannya, menyisakan satu kaki dalam kondisi patah.

Pada tahun 2018, Rabab Qaed meninggalkan rumahnya di daerah al-Saeediya di Distrik al-Khawkhah, Provinsi al-Hodeidah bersama sepupunya, Mohammad Hanbala, untuk mengunjungi suaminya di tahanan.

Dalam perjalanan, keduanya menyeberangi Jembatan Dhimmi tempat ranjau darat yang ditanam oleh Houthi meledak, membunuh Hanbala di tempat. Lima hari kemudian, Qaed menyusul Hanbala karena parahnya luka-luka yang ia dapat.

Menurut laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs yang dirilis tanggal 15 November, ranjau darat di Yaman telah menyebabkan sekira 300 korban dari warga sipil, termasuk 95 kematian dan 248 luka-luka, antara April hingga September 2022. Daerah yang paling terkena dampak adalah garis depan di Provinsi al-Hodeidah dan al-Jawf.

Laporan tersebut mencatat bahwa angka itu ternyata lebih tinggi dibanding jumlah korban yang tercatat dalam enam bulan sebelum gencatan senjata yang dimulai bulan April. Selama periode itu, korban sipil berjumlah 248, dengan perincian 101 meninggal dan 147 luka-luka.

Osama al-Gosaibi adalah manajer Project Masam, proyek kemanusiaan pembersihan ranjau darat di Yaman yang dibentuk pada tahun 2018.

Dia mengatakan kepada kantor berita Al-Monitor bahwa Houthi melakukan pendekatan brutal dengan menempatkan ranjau dan perangkat jebakan di sekitar sekolah, puskesmas dan tangki air dalam jumlah banyak.

“Membersihkan Yaman dari ranjau darat membutuhkan kerja bertahun-tahun mengingat banyaknya ranjau yang telah ditanam dan kurangnya data di mana saja ranjau itu ditempatkan,” tambahnya.

Gosaibi menyebutkan bahwa sejak proyek diluncurkan, tim Project Masam telah menyingkirkan 224.943 persenjataan yang belum meledak, 7.577 alat peledak, 134.412 ranjau anti-tank, dan 5.720 ranjau anti-personil. Mereka telah membersihkan wilayah seluas 40.736.537 meter persegi di Yaman.

Tawfiq al-Hamidi, kepala Sam Organization for Rights and Liberties, mengatakan bahwa sebagian besar korban ranjau di Yaman berasal dari Provinsi Taiz, di mana terdapat 1.355 korban, dengan 541 di antaranya tewas dan 8.149 lainnya mengalami luka-luka.

Berikutnya, menurut al-Hamidi, adalah al-Hodeidah dengan 833 korban, termasuk 441 tewas dan 392 luka-luka. Di Provinsi Marib, tercatat 745 korban dengan 257 di antaranya meninggal dan 307 luka-luka.

Faris al-Hamiri, Direktur Yemeni Observatory for Human Rights, mengatakan bahwa anak-anak dan perempuan merupakan sekira 75% dari warga sipil yang tewas akibat ledakan ranjau, perangkap jebakan, tembakan amunisi, alat peledak, dan proyektil.

“Kami mendokumentasikan kasus korban anak-anak akibat bahan peledak yang disamarkan berupa mainan anak-anak, kotak plastik dan batu yang diletakkan di pinggir jalan, rumah [kosong yang ditinggalkan] para pengungsi, peternakan, sekitar sumur air, dan daerah penggembalaan domba,” jelasnya. (Al-Monitor)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Komite PBB CERD Desak Rezim Komunis Cina Bebaskan Semua Warga Uyghur yang Ditawan
VIDEO – Rezim Komunis Cina Diduga Kuat Kembali Bangun Kamp Konsentrasi di Daerah Korla Xinjiang »