HRW: Muhajirin Rohingya Alami Ancaman, Pemerasan, dan Perlakuan Buruk di Kamp Pengungsian

15 January 2023, 08:45.
Foto: Anadolu Agency

Foto: Anadolu Agency

BANGLADESH (Anadolu Agency) – Human Rights Watch (HRW) menyatakan bahwa para Muhajirin Rohingya di Bangladesh menghadapi “kondisi yang tidak memungkinkan” bagi mereka untuk bisa kembali dengan aman dan terhormat ke tanah airnya di Arakan (Negara Bagian Rakhine), Myanmar.

“Orang-orang Rohingya menderita ancaman, pemerasan, dan perlakuan buruk oleh pasukan keamanan Bangladesh dan otoritas lainnya,” kata organisasi hak asasi itu dalam dalam laporan terbaru yang dirilis Kamis (12/1/2023).

Bangladesh, negara mayoritas Muslim di Asia Selatan, saat ini menampung lebih dari 1,2 juta Muhajirin Rohingya yang teraniaya di 33 kamp pengungsian yang kumuh di distrik Cox’s Bazar.

Mayoritas dari mereka melarikan diri dari pembantaian brutal militer Myanmar pada Agustus 2017.

“Di kamp-kamp pengungsian Rohingya, para pejabat Bangladesh menutup sekolah-sekolah yang dipimpin komunitas, menghancurkan warung-warung dengan sewenang-wenang, dan memberlakukan pembatasan baru terhadap pergerakan (para Muhajirin),” sebut laporan itu.

Berdasarkan keterangan dari para Muhajirin, laporan tersebut menyatakan bahwa Batalyon Polisi Bersenjata yang ditempatkan di tenda-tenda darurat yang padat menjadikan Rohingya sebagai sasaran ancaman, pemerasan, penangkapan sewenang-wenang, dan penyiksaan.

“Pemerintah (Bangladesh) mengizinkan kelompok-kelompok kemanusiaan untuk mulai mengajarkan kurikulum Myanmar, tetapi terus menolak pendidikan terakreditasi untuk anak-anak pengungsi,” kata HRW.

Laporan tersebut juga menyorot tentang relokasi Muhajirin Rohingya ke pulau terpencil, yang diklaim pemerintah Bangladesh memiliki fasilitas hidup yang lebih baik.

“Selama tahun 2022, pihak berwenang telah memindahkan sekira 8.000 pengungsi Rohingya ke Bhasan Char sehingga total menjadi sekitar 28.000 pengungsi yang tinggal di pulau terpencil dengan tanah berlumpur, tempat mereka menghadapi pembatasan pergerakan yang parah, kekurangan makanan dan obat-obatan, serta berbagai pelanggaran oleh pasukan keamanan.”

Disebutkan juga, terlepas dari keterlibatan UNHCR, para Muhajirin Rohingya terus dihalangi untuk bisa kembali ke kamp-kamp di daratan utama, meski untuk bertemu kembali dengan kerabat dekat mereka. (Anadolu Agency)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bunuh Pria Palestina di Utara Baitul Maqdis, Penjajah Zionis Halangi Bantuan Medis
Blokade di Yaman Utara Membuat Pasien Terhalangi Mendapatkan Perawatan yang Layak »