Bertahan Hampir Satu Dekade, Muhajirin Rohingya di Shram Vihar India Khawatir Digusur

15 January 2023, 08:50.
Muhajirin Rohingya di Shram Vihar, Delhi, melawan ketidakpastian. Foto: Souvik Manna

Muhajirin Rohingya di Shram Vihar, Delhi, melawan ketidakpastian. Foto: Souvik Manna

INDIA (Outlook India) – Dengan kartu identitas UNHCR dan ruangan kecil untuk bertahan hidup sehari-hari, baik sebagai buruh harian maupun menjalankan warung kecil, para Muhajirin Rohingya di Shram Vihar, Delhi, India, tinggal dengan damai bersama tetangga-tetangga Hindu mereka.

Dingin yang menusuk tak jadi masalah, karena ancaman yang lebih menakutkan bagi mereka adalah penggusuran.

Di Shram Vihar, komunitas Muslim Myanmar yang teraniaya tersebut, telah tinggal selama hampir satu dekade. Meski begitu, ini bukan tempat pertama yang mereka datangi setelah keluar dari tanah air mereka.

“Tahun 2015, saya bersama keluarga melintasi perbatasan Burma. Kami tinggal selama beberapa hari di Bangladesh dan kemudian datang ke India,” kata Mohd. Younus, yang saat ini menjadi ‘Zimmedar’ (penanggung jawab) dari 75 keluarga yang datang ke sini dalam fase berbeda sejak 2012, ketika serangan terhadap Muslim Rohingya di negara mereka meningkat.

Duduk di depan kedai teh kecil yang dibukanya pasca-wabah Covid, Younus tak memedulikan hawa dingin yang memaksa para jurnalis Outlook India mengenakan sweter dan jaket berlapis-lapis

“Setiap tahun, musim dingin selalu datang dan pergi. Dengan rahmat Allah, kami dapat bertahan. Dulu, selama masa Covid, ada beberapa orang yang mendonasikan barang bantuan. Sekarang, tidak ada lagi. Kami mungkin selamat dari hawa dingin, tetapi tidak dari kondisi yang tak menentu ini,” ucap pria berusia 40-an yang tinggal bersama istri dan putranya yang berusia tujuh tahun.

Pada tahun 2015, ketika mereka diantar menggunakan truk, hampir tidak ada apa-apa di sana. Yang ada hanyalah padang rumput yang mereka bersihkan lalu mereka tinggali.

Sembari menunjukkan bahwa di sana terdapat orang-orang dari Bihar, Assam, Uttar Pradesh, maupun Myanmar yang tinggal bersama dengan damai, Younus mengatakan, “Di sini, kami semua yang berbeda agama dan daerah dapat hidup bersama. Kami tidak memiliki konflik dengan siapa pun. Yang kami takutkan adalah ancaman penggusuran.”

Mohd Khabis, 50-an tahun, yang datang bersama istri dan empat anaknya pada tahun 2019, berkata, “Kami tidak tahu kapan kami akan diminta untuk meninggalkan permukiman ini.”

Saat ini, mereka diharuskan membayar antara 800–1200 rupee (sekira 150–230 ribu rupiah) per bulan kepada ‘pemilik’ tanah tempat mereka tinggal.

Muhajirin Rohingya di Delhi, tinggal di gubuk terbuka. Foto: Souvik Manna 

Muhajirin Rohingya di Delhi, tinggal di gubuk terbuka. Foto: Souvik Manna

Sejak mereka datang ke sini, satu-satunya pengakuan atas keberadaan mereka terletak pada kartu identitas UNHCR.

Meski di bagian belakang kartu telah disebutkan bahwa “sebagai pengungsi, dia harus dilindungi dari penahanan sewenang-wenang”, namun mereka diharuskan lapor secara rutin ke kantor polisi.

“Setiap minggu, mereka menelepon saya dan saya harus pergi untuk memberi tahu mereka tentang status orang-orang–jumlah keluarga yang masuk dan keluar,” terang Younus.

Sebenarnya Younus tak terlalu suka akan kehadiran media, “Orang-orang media datang dan pergi, namun tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya, mereka justru memelintir apa yang kami katakan dan kemudian kami terpaksa menghadapi akibatnya. Kami jarang berbicara dengan orang luar sekarang.”

Setiap 2–3 bulan sekali, mereka mendapatkan jatah 25 kg beras, 1 liter minyak, terkadang juga pulsa dari UNHCR.

“Ini adalah satu-satunya sistem bagi kami dapat bertahan, selain dari sedikit penghasilan warung kami,” kata Haroon, 40-an tahun, yang juga menjalankan toko kelontong kecil. Haroon bersama keluarganya datang ke Delhi sekitar tahun 2012.

“Situasi di Myanmar sangat buruk… Di sini, jauh dari tanah air, meski kami hidup dalam ketidakpastian, masih ada kedamaian. Segalanya jauh lebih baik di sini,” tambah Haroon. (Outlook India)

Permukiman kumuh Muhajirin Rohingya di Shram Vihar di mana mereka tinggal dengan damai bersama umat Hindu dari Bihar, Assam dan UP. Foto: Souvik Manna

Permukiman kumuh Muhajirin Rohingya di Shram Vihar di mana mereka tinggal dengan damai bersama umat Hindu dari Bihar, Assam dan UP. Foto: Souvik Manna

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Blokade di Yaman Utara Membuat Pasien Terhalangi Mendapatkan Perawatan yang Layak
Nyaris Keguguran Kesekian Kalinya, Fatima Berharap Perempuan Yaman Mendapat Layanan Kesehatan Berkualitas »