Muhajirin Rohingya Buka Suara soal Penindasan yang Dilakukan Polisi Elit Bangladesh

19 January 2023, 21:29.
Muhajirin Rohingya yang ditahan duduk di samping petugas keamanan setelah tindakan keras di kamp pengungsi Rohingya di Ukhia, 28 Oktober 2022. Foto: AFP/Bangladesh Armed Police Battalion

Muhajirin Rohingya yang ditahan duduk di samping petugas keamanan setelah tindakan keras di kamp pengungsi Rohingya di Ukhia, 28 Oktober 2022. Foto: AFP/Bangladesh Armed Police Battalion

BANGLADESH (VoA News) – Unit polisi elit Bangladesh terlibat dalam pemerasan, pelecehan, dan penangkapan paksa terhadap Muhajirin Rohingya di kamp pengungsian Cox’s Bazar, kata Human Rights Watch pada Selasa (17/1/2023).

Kelompok hak asasi tersebut mengatakan telah berbicara dengan puluhan Muhajirin Rohingya yang tinggal di jaringan kamp yang luas dan penuh sesak itu, dan mendokumentasikan sedikitnya ada 16 kasus pelanggaran serius oleh petugas polisi elit Bangladesh.

Polisi meminta uang suap yang besar kepada para Muhajirin dengan memberi ancaman penangkapan, sebut HRW dalam laporannya.

Para Muhajirin sering dipaksa untuk menjual perhiasan maupun meminjam uang untuk membebaskan kerabat mereka yang ditahan secara tidak adil.

“Beberapa hari yang lalu saya kembali ke kamp dengan membawa laporan medis saudara laki-laki saya dari rumah sakit. Petugas polisi elit Bangladesh menghentikan saya di pos pemeriksaan, menginterogasi dan menampar saya,” kata Ali Jaker (20 tahun).

“Kemudian mereka mengambil ponsel saya. Mereka mengancam akan menindak saya jika saya berani menceritakannya kepada siapa pun,” tambahnya.

Sitara Bibi, 45 tahun, mengatakan pemerasan polisi adalah “kejadian biasa”.

“Saya harus membayar 3.000 taka kepada mereka selama pernikahan putra saya. Jika kami tidak membayar mereka, polisi akan mengajukan kasus penyelundupan narkoba terhadap putra saya,” terangnya.

Seorang pemimpin sipil Rohingya, yang berbicara tanpa menyebut nama, mengatakan kepada AFP bahwa para Muhajirin dipaksa membayar polisi untuk melakukan perjalanan antarkamp maupun untuk masuk ke kamp pada larut malam.

“Jika ada yang memprotes penyelewengan itu, dia akan ditangkap,” tambahnya.

“Pelanggaran oleh polisi di kamp Cox’s Bazar telah membuat para pengungsi Rohingya menderita di tangan pasukan yang seharusnya melindungi mereka,” tegas peneliti HRW Asia Shayna Bauchner. (VoA News)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Layanan Medis Sangat Terbatas di Yaman, Kondisi Pasien Pengidap Kanker Kian Mengkhawatirkan
Dua Warga Yaman yang Mengkritik Milisi Syiah Houthi Segera Diproses di “Pengadilan Politik” »