Keseharian Muhajirin Yaman: Kebutuhan Dasar Tak Terpenuhi, Anak Terpisah dari Orang Tuanya 

10 September 2023, 14:51.

Foto: Arsip Anadolu Agency

YAMAN (Anadolu Agency) – Yaman sedang dilanda krisis kemanusiaan parah. Hal ini mendorong keluarga-keluarga Yaman untuk meninggalkan rumah mereka ke daerah yang lebih aman, yang menyebabkan sekira 4,5 juta warga mengungsi. Menurut laporan PBB, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan. 

Di gurun tandus di kawasan Al-Makhzan, kota pesisir Midi, jauh di Provinsi Hajjah, lebih dari 150 keluarga tinggal di pengungsian selama delapan tahun di bawah kondisi lingkungan dan ekonomi yang buruk. 

Muhammad Mutanbek, 38 tahun, didampingi istri dan tujuh anaknya, menceritakan, “Kami memutuskan untuk pergi setelah berhari-hari mengalami ketakutan akibat serangan artileri dan bentrokan yang terus berlangsung di sekitar Midi di pertengahan tahun pertama perang.” 

Mutanbek menyebutkan, meninggalkan rumahnya adalah momen tersulit yang mengubah jalan hidupnya dan anak-anaknya. 

“Dalam delapan tahun terakhir, saya dan keluarga harus berpindah-pindah ke empat wilayah yang berbeda, dimulai dari kampung halaman saya di Al-Makhzan, melewati Distrik Hiran, mencapai Distrik Abs, kemudian kembali ke Bani Fayed, lebih dari 10 kilometer dari Midi,” ucapnya. 

Tenda yang Rapuh 

Para muhajirin Yaman juga mendapati kondisi kehidupan yang kian sulit. Tenda mereka tidak bisa bertahan lebih dari enam bulan karena rusak. 

Mutanbek mengatakan sebagian besar muhajirin menggunakan tenda yang terbuat dari jerami, dahan pohon, dan lumpur. 

“Tenda seperti itu biasanya runtuh setelah jangka waktu enam bulan, karena kondisi iklim yang keras,” jelas Mutanbek. 

“Selama empat tahun terakhir, saya harus membangun tenda lima kali untuk keluarga saya,” tambahnya, di mana setiap tenda membutuhkan waktu sekira 10 hari untuk membangunnya. 

“Kami harus mengumpulkan jerami dan ranting dari area tidak aman yang berisi sisa-sisa peperangan dan ranjau, selain harus mencari tali dan terpal juga,” ujarnya. 

Menurut Departemen Kamp Pengungsian Yaman, lebih dari 3 juta muhajirin tersebar di 13 provinsi, 646 kamp, dan 927 pusat pengungsian. Sementara itu, di Hajjah diperkirakan ada lebih dari 19.000 muhajirin. 

Tidak Ada Sumber Pendapatan 

Hassan Jarbahi, seorang pejabat di direktorat Distrik Midi, mengatakan, “Jumlah keluarga yang mengungsi di distrik tersebut mencapai lebih dari 500 keluarga, termasuk hampir 200 keluarga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.” 

Jarbahi mengatakan sebagian besar muhajirin tinggal di tenda-tenda pengungsian tanpa terpenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar. 

“Sebagian besar dari mereka berjuang untuk mendapatkan penghidupan melalui upah harian,” tambahnya. 

Abdullah Hadi, yang pernah menjadi guru di sebuah sekolah di distrik Midi, menceritakan bahwa “40 hari setelah bentrokan dimulai di Midi, semua keluarga, termasuk keluarga saya, mengungsi ke kamp.” 

Hadi mengatakan, “Sebagian besar pengungsi bekerja di bidang pertanian dan peternakan. Namun, sekira 350 lahan pertanian telah berubah menjadi gurun tandus,” lanjutnya. 

“Kami tidak dapat pergi ke sana karena banyak ranjau darat dan sisa-sisa persenjataan yang belum meledak.” 

Anak-anak Terpisah dari Keluarga 

Nayef Hadi Muhammad, 12 tahun, telah tinggal jauh dari orang tua dan saudara perempuannya selama lima tahun. 

Kakeknya, Muhammad Abkar, 72 tahun, mengatakan, “Cucu saya menderita kesepian, depresi, dan gangguan kesehatan mental.” 

Abkar menyatakan pertempuran sengit yang terjadi di akhir Maret 2019 di desa Bani Hasan, sebelah utara Hajjah, menyebabkan warga berpencar guna menyelamatkan diri, termasuk keluarga Nayef. 

Sejak saat itu, Nayef tinggal bersama kakeknya di sebuah gubuk bobrok. 

Sementara itu, keluarga Nayef tinggal di sebuah kamp pengungsian di distrik Abs, yang berada di bawah kendali milisi syiah Houthi. 

Kakek Nayef berharap perang dapat segera berakhir dan keluarga ini bisa bersatu kembali. (Anadolu Agency)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sejumlah Pihak Sesalkan Langkah ICJ Tunda Sidang Gugatan terhadap Kekerasan Rezim Suriah 
Penyidik HAM PBB Serahkan Bukti Kejahatan Rezim Myanmar terhadap Warga Rohingya ke ICJ dan ICC »