Bayi di Gaza Alami Kelaparan Sejak Hari Pertama Dilahirkan (#3) 

29 October 2024, 19:46.

Seorang anak Palestina berusia empat tahun dengan cerebral palsy (kelumpuhan otak) yang juga menderita kekurangan gizi beristirahat di sebuah tempat penampungan di sekolah Salaheddin yang dikelola oleh PBB di lingkungan Rimal, pusat Kota Gaza, 10 Juni 2024. Foto: AFP/Omar al-Qattaa

TAK hanya pengiriman bantuan yang berbahaya dan mematikan, banyak warga sipil telah dibunuh saat mengambil bantuan.  

Pada bulan Februari 2024, lebih dari 100 warga Palestina yang mencari makanan dari truk bantuan di Gaza utara syahid dan ratusan lainnya terluka setelah pasukan penjajah “Israel” laknatullah menembaki mereka.  

Peristiwa itu dikenal sebagai “flour massacre”. Ditemukan lebih banyak insiden serupa. 

Fault Lines bermitra dengan penyelidik di Forensic Architecture, sebuah kelompok penelitian yang berbasis di Goldsmiths, Universitas London, untuk memeriksa data di balik serangan “Israel” terhadap Ahlu Syam Gaza yang sedang berupaya mencari bantuan.  

Dengan menggunakan video-video dari media sosial, laporan berita, data kementerian kesehatan, dan citra satelit, para peneliti mendokumentasikan terjadi lebih dari 40 serangan terhadap warga sipil yang berusaha mengambil bantuan kemanusiaan. 

“Jadi, ketika kami mendengar tentang ‘flour massacre’, itu bukan satu insiden terisolasi yang merupakan kecelakaan semata,” jelas Peter Polack, seorang peneliti Forensic Architecture. 

“Ketika kami menyelidiki lebih lanjut tentang hal ini, kami mulai melihat bahwa serangan-serangan itu bersifat terstruktur dan sistematis.” 

Investigasi tersebut juga mengungkap bahwa serangan penjajah “Israel” tidak hanya membunuh warga sipil yang mencari bantuan. Serangan juga dilakukan untuk menghancurkan infrastruktur utama pengelola bantuan kemanusiaan. 

Forensic Architecture mendokumentasikan 16 serangan terhadap produsen roti antara Oktober hingga November 2023; tak jarang saat orang-orang masih mengantre untuk mendapatkan roti. 

Selain itu, hingga Januari 2024, 107 tempat penampungan darurat yang menerima bantuan telah dihancurkan. 

“Ketika bantuan disalurkan, tepung didistribusikan ke produsen-produsen roti. Toko-toko roti itu pun menjadi sasaran. Ketika (bantuan) mulai didistribusikan langsung ke sekolah-sekolah, maka sekolah-sekolahlah yang menjadi sasarannya,” tutur Julia Ngo dari Forensic Architecture. 

Kemudian, di awal tahun baru, terjadi serangan warga sipil yang mengawal konvoi kemanusiaan.  

Pada perkembangannya, jaringan lokal dari keluarga-keluarga berpengaruh di Gaza mengambil alih pengawalan, hingga kemudian mereka juga ikut diserang. 

“Mereka pada dasarnya menciptakan efek teror guna mengirimkan pesan yang jelas, jika Anda menerima bantuan, mengorganisir bantuan, maupun terlibat di dalamnya dalam kapasitas apa pun, Anda berada dalam risiko,” tegas Polack. 

AS Sengaja Menyangkal Fakta 

AS memberi negara palsu “Israel” pendanaan “keamanan” sekira $4 miliar setiap tahun, dan di saat bersamaan menolak seruan untuk memperbaiki situasi kemanusiaan di Gaza secara serius. 

AS justru mengandalkan tindakan yang tidak efektif, seperti penerjunan bantuan melalui udara dan dermaga yang sekarang tidak berfungsi.  

Kelompok-kelompok kemanusiaan telah lama bersikeras bahwa cara paling efektif untuk mengirimkan bantuan ke Gaza adalah melalui rute darat. 

Pemerintahan AS sendiri menghadapi tingkat perbedaan pendapat internal yang belum pernah terjadi sebelumnya; karena dukungan absolutnya terhadap penjajah “Israel” – meskipun ada banyak bukti bahwa negara palsu itu benar-benar melakukan kejahatan perang di Gaza.  

Puluhan pejabat mengundurkan diri sebagai bentuk protes dan beberapa nota perbedaan pendapat yang menolak kebijakan Biden telah diedarkan di Departemen Luar Negeri dari USAID. 

Pada bulan April 2024, Gilbert, mantan pejabat Departemen Luar Negeri, dimintai masukannya mengenai laporan pemerintahan Biden kepada Kongres AS tentang apakah “Israel” melakukan kejahatan perang di Gaza.  

Berdasarkan laporan dari mitranya di lapangan, ia menyatakan bahwa “Israel” telah jelas memblokir bantuan kemanusiaan. 

Namun, ketika dirilis pada bulan berikutnya, laporan tersebut justru menetapkan bahwa “Israel” tidak menghalangi aliran bantuan kemanusiaan. Gilbert mengundurkan diri sebagai sikap protes atas dirilisnya laporan dusta tersebut. 

“Pemerintah dengan sengaja menyangkal fakta di lapangan karena akan memicu konsekuensi untuk menghentikan pendanaan keamanan,” kata Gilbert. “Senjata adalah mesin yang memicu perang ini, dan kami tidak mau bertanggung jawab atas peran kami.” 

Ada undang-undang AS yang disebut 620I yang melarang pengiriman senjata ke negara-negara yang memblokir bantuan kemanusiaan.  

Jika pemerintahan Biden mengakui bahwa “Israel” menolak memberikan bantuan kepada warga Gaza, maka undang-undang itu berlaku dan pasokan senjata AS harus segera dihentikan. 

Membunuh dalam Jangka Pendek dan Jangka Panjang 

Ketika krisis kelaparan terjadi, itu berarti banyak orang kemungkinan besar akan sangat kelaparan hingga tidak dapat diselamatkan, terutama anak-anak.  

Bahkan jika bantuan pun dapat membanjiri Gaza, anak-anak kemungkinan akan tetap merasakan dampak krisis kelaparan selama sisa hidup mereka karena malnutrisi parah mengganggu perkembangan fisik dan mental anak. 

“Ketika Anda melakukan bombardir dan membuat ibu hamil, anak-anak, serta orang-orang menjadi kelaparan, itu akan berdampak besar pada kesehatan mereka,” jelas Alex Smith, seorang spesialis kesehatan anak dan mantan kontraktor USAID. 

“Hal itu akan membunuh orang-orang dalam jangka pendek dan jangka panjang melalui perubahan epigenetik.” 

Kelaparan dapat menyebabkan dampak yang bertahan lama dalam cara tubuh memproses makanan dan menyimpan energi.  

Bentuknya dapat berupa pertumbuhan dan penambahan berat badan yang lebih lambat, serta risiko yang lebih tinggi terkait gangguan mental dan fisik.  

Kondisi ini terbukti akan ikut diturunkan ke generasi mendatang, khususnya kepada anak-anak yang kekurangan gizi di dalam kandungan. 

Pada tanggal 20 Juni, seminggu setelah dokter melakukan penanganan intensif terhadap jantung Abdel Aziz, bayi tersebut meninggal karena dehidrasi parah.  

Rumah sakit tidak memiliki apa pun yang dibutuhkan untuk merawatnya dengan baik. Dan masih banyak lagi anak-anak kelaparan yang terus berdatangan ke klinik kekurangan gizi di sana. 

Pada bulan Agustus 2024, bayi berusia lima bulan lainnya bernama Muhammad, dirawat di rumah sakit dalam kondisi serius. Ia lahir pada tanggal 11 Februari saat terjadi kelaparan.  

Ibunya, Hala, mengatakan bahwa ia tidak mendapatkan cukup nutrisi saat hamil, begitu pula dengan anaknya. Muhammad membutuhkan susu formula khusus yang tidak tersedia di Gaza. Seperti semua bayi lain di rumah sakit, seluruh hidupnya telah terdampak oleh perang ini. 

“Saya takut akan kehilangan dia sewaktu-waktu,” ucap Hala. (selesai | Al Jazeera)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bayi di Gaza Alami Kelaparan Sejak Hari Pertama Dilahirkan (#2) 
Penjajah Zionis Melarang UNRWA Beroperasi di Seluruh Wilayah Palestina Terjajah »