Tak Ada Tempat yang Aman, Warga Kota Gaza Pilih Bertahan di Tengah Ancaman

3 September 2025, 20:29.

GAZA (Al Jazeera | Anadolu Agency) – Sebagian Ahlu Syam di Kota Gaza memutuskan tetap bertahan, meski kota tersebut terus-menerus digempur oleh penjajah ‘Israel’ dalam operasinya untuk merebut wilayah tersebut.

Melaporkan dari Kota Gaza, Ahad (31/8/2025), Hani Mahmoud dari Al Jazeera mengatakan bahwa serangan ‘Israel’ yang semakin intensif telah mengubah sebagian Kota Gaza, yang dulunya padat dan penuh dengan bangunan tempat tinggal, menjadi rata dan penuh puing reruntuhan.

“(Serangan) artileri berat terus-menerus menyasar wilayah Zaitun dan Jabalia, tempat kami menyaksikan penghancuran permukiman secara sistematis. Hampir tidak ada pertempuran yang terjadi, tetapi artileri berat dan buldoser bergerak dari satu jalan ke jalan lain, menghancurkan semua kompleks permukiman ini,” ucapnya.

Sejumlah besar penduduk di Kota Gaza memilih untuk tetap tinggal, meskipun ‘Israel’ menyatakannya sebagai “zona pertempuran”.

“Mayoritas penduduk di wilayah tersebut tidak memiliki kondisi yang memungkinkan untuk berkemas dan pergi karena tidak ada tempat aman di mana pun,” tambahnya.

Sebelum perang dimulai, kota ini merupakan kota terpadat di Gaza, dengan populasi sekira 700.000 orang.

Ratusan ribu orang kemudian menyelamatkan diri di bawah ancaman evakuasi paksa ‘Israel’ sebelum banyak yang kembali, bergabung dengan ribuan pengungsi lainnya dari selatan, selama gencatan senjata Januari–Maret, yang kemudian dilanggar sepihak oleh penjajah ‘Israel’.

Fedaa Hamad, yang mengungsi dari Beit Hanoun, mengatakan bahwa ia tidak berencana untuk meninggalkan Kota Gaza kali ini, meskipun ada peringatan terbaru dari penjajah ‘Israel’.

“Kami lelah dengan pengungsian pertama. Ke mana kami akan pergi? Apakah ada tempat (aman) di selatan? Kami tidak dapat menemukannya,” ungkapnya.

Akram Mzini, seorang penduduk Kota Gaza, mengatakan bahwa ia tidak akan pergi karena menjalani hidup pengungsian itu sangat sulit.

“Kami pernah mengungsi ke selatan sebelumnya, dan pengungsian di selatan tidaklah mudah dan murah,” jelasnya, “hidup seperti itu sulit. Jadi kami akan tetap bertahan di rumah kami, dan apa pun yang Allah inginkan akan terjadi.”

Penjajah Bunuh Jurnalis Lagi

Satu lagi jurnalis Palestina kehilangan nyawa pada hari Ahad (31/8/2025) dalam serangan udara ‘Israel’ di Kota Gaza sehingga menyebabkan jumlah total awak media yang gugur menjadi 247 orang sejak agresi genosida dimulai, menurut Kantor Media Pemerintah di Gaza (GMO).

Korban diidentifikasi sebagai Islam Abed, seorang koresponden Al-Quds Today TV.

Dalam sebuah pernyataan, GMO mengecam penargetan sistematis terhadap para jurnalis di Gaza.

Mereka mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan guna menghentikan pembantaian tersebut dan melindungi segenap awak media.

Palestinian Journalists Syndicate turut mengecam pembunuhan Abed, menyebut penargetan ‘Israel’ terhadap jurnalis di Gaza sebagai hal memalukan yang akan terus membayangi para pembunuh kebenaran dan kejahatan perang yang sesungguhnya.

Kelompok tersebut menegaskan bahwa ‘Israel’ bertanggung jawab penuh atas semua profesional media yang gugur saat menjalankan tugasnya. 

Mereka menyerukan kepada organisasi hak asasi manusia serta media global untuk mengambil tindakan segera dan efektif guna meminta pertanggungjawaban para dedengkot negara palsu ‘Israel’ atas kejahatan mereka yang berkelanjutan di Palestina. (Al Jazeera | Anadolu Agency)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gencarkan Serangan, Penjajah Usir Paksa Ahlu Syam Gaza ke Wilayah Selatan
Belgia Siap Akui Negara Palestina di Sidang Umum PBB Akhir September  »