Miliki Ikatan Sejarah yang Kuat, Turkiye Tak Akan Biarkan Kondisi Suriah Kembali Kacau
11 December 2025, 22:25.

Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan berbicara di konferensi yang diselenggarakan oleh Yayasan Penelitian Politik, Ekonomi, dan Sosial (SETA) yang berjudul “Suriah Setelah Satu Tahun: Pemulihan dan Rekonstruksi” di Ankara, Turkiye, 10 Desember 2025. Foto: Kementerian Luar Negeri Turkiye – Anadolu Agency
TURKIYE (Middle East Monitor) – Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, Rabu (10/12/2025) menegaskan bahwa Ankara tidak akan membiarkan Suriah kembali mengalami keadaan kacau.
Fidan menekankan bahwa perkembangan di Suriah secara langsung memengaruhi keamanan dan stabilitas Turkiye, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Anadolu.
Fidan berbicara di pembukaan konferensi yang diselenggarakan oleh Yayasan Penelitian Politik, Ekonomi, dan Sosial (SETA) yang berjudul “Suriah Setelah Satu Tahun: Pemulihan dan Rekonstruksi”.
Fidan mengatakan Suriah tidak dapat dibagi dengan dalih membangun sistem federal, dan rakyatnya tidak dapat ditindas dengan kedok mencapai persatuan.
Ia menekankan bahwa Turkiye tidak dapat menolerir kembalinya Suriah ke dalam kekacauan. Kekacauan di Irak dan Suriah selama tiga dekade terakhir telah menimbulkan biaya yang luar biasa dan sangat besar bagi Turkiye.
Fidan juga secara terbuka mengkritik zionis ‘Israel’. Ia mengatakan bahwa zionis seharusnya tidak mendasarkan keamanannya pada destabilisasi negara lain.
“Masalah terbesar di kawasan ini adalah ‘Israel’ melihat Suriah sebagai area untuk diekspansi,” tambahnya.
Fidan mencatat bahwa Suriah dan Turkiye telah hidup berdampingan selama berabad-abad di bawah kekaisaran Seljuk dan Utsmaniyah.
Ikatan sejarah yang mendalam ini sempat menegang dengan munculnya negara-negara bangsa (nation state) modern.
Ia mengatakan bahwa realitas sosial, geografis, dan historis tidak dapat diubah, seraya menyoroti pentingnya Suriah secara budaya, historis, komersial, dan strategis bagi Turkiye.
Fidan berpendapat bahwa jalan yang ditempuh Suriah setelah Musim Semi Arab berasal dari rezim minoritas yang represif yang berpusat pada Bashar al-Assad. Komunitas internasional, khususnya negara-negara Barat, awalnya mendukung jalur tersebut.
“Turkiye berdiri bersama rakyat yang tertindas. Kita harus berdiri di sisi sejarah yang benar; secara moral dan logika,” tegasnya. (Middle East Monitor)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
