Yaman: Dari Intimidasi hingga Eksekusi, Rakyat Sipil di Bawah Teror Milisi Syiah Houthi
21 December 2025, 17:38.

Sumber: Al-Masdar Online
SANA’A (Al-Masdar Online) – Di tengah krisis kemanusiaan terburuk di dunia menurut PBB, warga Yaman di wilayah kekuasaan milisi syiah Houthi menghadapi gelombang penangkapan massal, penyiksaan, bahkan eksekusi yang menargetkan pegawai organisasi internasional, aktivis, hingga warga biasa.
Dalam laporannya, jurnalis Samia Al-Aghbari dari Al-Masdar Online mengungkap bagaimana kelompok bersenjata ini mengubah wilayah kekuasaannya menjadi “penjara dan kuburan” bagi rakyat sipil yang hidup dalam ketakutan konstan.
Penangkapan Massal Tanpa Dasar Hukum
Sejak pertengahan 2024, Houthi menangkap ratusan warga dari berbagai latar belakang. Termasuk di antaranya pegawai PBB, UNICEF, WFP, aktivis, pengacara, akademisi, bahkan perempuan dan anak-anak. Provinsi Ibb mencatat angka penangkapan tertinggi.
“Rakyat Yaman mengulangi pertanyaan dengan penuh ketakutan: Siapa tahanan berikutnya?” tulis Al-Aghbari, menggambarkan atmosfer teror yang melanda masyarakat.
Kasus Murad Dhafer (66 tahun), wakil direktur Institut Demokratik Amerika, menunjukkan pola penangkapan sewenang-wenang. Pada 6 Juni 2024, ia ditangkap dari rumahnya dan dihilangkan selama delapan bulan tanpa kontak dengan keluarga. “Bisakah Anda bayangkan bahwa kontak pertamanya dengan keluarganya baru pada 12 Februari 2025?” ungkap sumber yang dekat dengan keluarga kepada Al-Aghbari.
Bahkan ketika ibunya meninggal, Dhafer tidak diizinkan menghadiri pemakaman, meskipun keluarga telah menunda penguburan sehari penuh.
Motif Ekonomi di Balik Penangkapan
Laporan ini juga mengungkap motif ekonomi di balik beberapa penangkapan. Insinyur Amer Al-Aghbari, mantan pegawai Kedutaan AS dan staf UNICEF, ditangkap pada 29 Oktober 2021—empat hari setelah proyek senilai US$1,080,000 mendapat transfer 80% dana.
“Milisi menyita cek UNICEF senilai satu juta delapan puluh ribu dolar, mobil pribadi ayah, dan semua dokumennya,” ungkap putranya, Abdulrahman, yang tinggal di AS kepada Al-Aghbari.
Amer Al-Aghbari kemudian dipaksa muncul di televisi dengan pengakuan yang “konyol”. Termasuk tuduhan “menyebarkan hama pertanian dan merusak tanah.”
Penyiksaan dan Kematian di Tahanan
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kematian-kematian mencurigakan di penjara Houthi. Ahmad Baalawi (30 tahun), pegawai Program Pangan Dunia (WFP), meninggal di pusat tahanan Sa’dah pada Februari 2025. Hanya tiga minggu setelah ditangkap. PBB tidak mengungkap penyebab kematian.
Muhammad Naji Khammash (55 tahun), direktur pendidikan di Kementerian Pendidikan Tinggi, dilaporkan meninggal akibat penyiksaan di penjara intelijen Sana’a pada Oktober 2024 setelah lima bulan ditahan. Milisi mengklaim ia meninggal karena serangan jantung.
“Untuk Houthi, catatan panjang menggunakan penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya di pusat-pusat penahanan sudah terdokumentasi,” tegas Amnesty International dalam pernyataannya.
Bahkan tekanan psikologis saja bisa berakibat fatal. Abdullah Al-Akhali, pegawai UNHCR di Sana’a, meninggal mendadak pada Oktober 2024 akibat stres dan ketakutan setelah puluhan rekannya ditangkap, padahal ia pemuda sehat tanpa riwayat penyakit.
Kekerasan Sistematis terhadap Perempuan
Perempuan menghadapi lapisan kekerasan tambahan. Selain penangkapan, mereka mengalami pelecehan, penyiksaan, bahkan pemerkosaan di penjara rahasia. Kebrutalan ini dikonfirmasi oleh Panelis Ahli PBB.
“Kelompok ini melampaui semua batas dalam kekerasan terhadap perempuan, mengabaikan norma dan nilai moral yang dikenal Yaman sepanjang sejarahnya,” tulis Al-Aghbari.
Fatima Al-Arwali divonis mati dengan tuduhan spionase. Sarah Al-Faiq dan Samira Balah, pegawai organisasi HAM, ditahan sejak Juni 2023 tanpa kabar. Keluarga-keluarga korban terjebak antara harapan dan ketakutan akan stigma sosial, memaksa mereka untuk diam.
Pengadilan Kilat dan Ancaman Eksekusi
Pada November 2024, pengadilan yang dikuasai Houthi memvonis mati 17 orang dengan ditembak di alun-alun publik setelah persidangan kilat kurang dari seminggu. Tanpa ada forum pengadilan yang layak.
“Saat saya mengikuti persidangan dan putusan eksekusi ini, saya teringat buku ‘Konvoi Eksekusi’ tentang rezim Mullah Iran. Houthi mencoba meniru model mereka,” catat Al-Aghbari.
Saat ini 21 warga Yaman menghadapi persidangan dengan tuduhan spionase, termasuk enam pegawai PBB di Sa’dah yang dituduh memberikan koordinat untuk menargetkan pemimpin Houthi Abdul Malik Al-Houthi.
PBB: Prihatin, tetapi Tak Berdaya
Meskipun Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan berbagai badan internasional mengutuk keras penangkapan-penangkapan ini, tindakan konkret minim. Menurut data PBB, 54 pegawai ditahan sejak 2021, sebagian besar dalam penghilangan paksa.
“PBB dan komunitas internasional hanya mengeluarkan pernyataan kecaman, padahal mereka bisa melakukan lebih dari sekadar mengecam,” kritik Al-Aghbari tajam.
Bahkan setelah pemimpin Houthi Abdul Malik secara terbuka menghasut dan menuduh organisasi internasional sebagai “sel spionase terlatih” pada Oktober 2024, gelombang penangkapan justru meningkat. Puluhan pegawai PBB, UNICEF, dan WFP di Sana’a, Hodeidah, dan Sa’dah ditangkap.
Rakyat Sipil Terjebak
Dengan institusi negara runtuh, gaji pegawai negeri terhenti sejak awal perang, dan bantuan kemanusiaan dirampas, rakyat Yaman di wilayah Houthi terjebak dalam spiral kekerasan tanpa jalan keluar.
“Mereka menghadapi sendirian kebijakan kelaparan dan praktik represif yang diperparah serangan ‘Israel’ dan Amerika,” simpul Al-Aghbari dalam laporannya yang menggarisbawahi tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut tanpa pengawasan internasional yang efektif. (Al Masdar Online)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
