Penjajah Zionis Dirikan 13 Situs Militer Baru Setelah Gencatan Senjata Diberlakukan
23 December 2025, 19:12.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Citra satelit yang baru dirilis telah menguak fakta operasi penghancuran yang luas dan sistematis yang dilakukan oleh penjajah zionis ‘Israel’ di Gaza timur dan lingkungan Shuja’iya; yakni setelah gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.
Citra yang diambil oleh satelit yang dioperasikan oleh Planet Labs—dibandingkan dengan citra yang diambil beberapa hari setelah gencatan senjata dimulai—menunjukkan bahwa bangunan yang rusak selama agresi genosida kemudian diratakan sepenuhnya menggunakan peralatan teknik militer ‘Israel’.
Menurut harian Haaretz, operasi penghancuran meluas di area yang diperkirakan seluas ratusan dunum di sebelah timur dari apa yang dikenal sebagai “garis kuning”; yakni garis penarikan tempat serdadu ‘Israel’ ditempatkan kembali setelah gencatan senjata.
Laporan tersebut mencatat bahwa penghancuran bertepatan dengan munculnya lima kelompok baru kamp pengungsian untuk warga sipil Palestina dalam beberapa pekan terakhir.
Setiap kelompok berisi puluhan hingga ratusan tenda. Dua didirikan di dekat koridor Netzarim di selatan Kota Gaza. Sementara tiga lainnya muncul di utara kota, dekat Pantai Mediterania, dan di daerah yang masih berada di bawah kendali Hamas.
Sebelum genosida, sekira satu juta warga Palestina tinggal di daerah-daerah yang kini berada di bawah kendali militer ‘Israel’; khususnya di Gaza timur, Khan Yunis, dan Rafah.
Warga-warga ini diperkirakan tidak akan dapat kembali ke rumah mereka dalam waktu dekat. Mereka terpaksa tetap tinggal di tenda atau tempat penampungan sementara bersama ratusan ribu muhajirin yang rumahnya hancur total.
13 Situs Militer Baru
Dalam temuan terkait, analisis oleh kelompok riset Forensic Architecture yang berbasis di Inggris, berdasarkan citra satelit, menunjukkan bahwa penjajah mendirikan 13 situs militer baru di sepanjang “garis kuning” setelah gencatan senjata; sebagian besar di Gaza utara dan timur Khan Yunis.
Organisasi tersebut mengatakan jumlah total situs militer ‘Israel’ yang dibangun di sepanjang garis ini telah mencapai 48 di dalam wilayah Gaza.
Penjajah juga telah memperluas jaringan jalan yang menghubungkan situs-situs ini satu sama lain dan ke daerah-daerah di dalam wilayah Palestina terjajah, termasuk pembangunan jalan baru di daerah Khan Yunis.
Analisis tersebut lebih lanjut mendokumentasikan perluasan operasi penghancuran di Khan Yunis dan pemindahan sejumlah besar puing di Rafah.
Sebelumnya, Pusat Satelit PBB melaporkan bahwa ‘Israel’ menghancurkan sekitar 81 persen dari semua bangunan dan infrastruktur di Gaza selama agresi genosida, baik sepenuhnya maupun sebagian.
Menurut data PBB, 123.464 bangunan hancur total, 12.116 mengalami kerusakan parah, dan 33.857 mengalami kerusakan sebagian.
Analisis PBB menambahkan bahwa curah hujan di Gaza dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan runtuhnya bangunan tambahan yang sudah melemah akibat pengeboman, mengakibatkan lebih banyak korban sipil.
Penjajah Gunakan Kontraktor Sipil
Haaretz melaporkan bahwa operasi penghancuran oleh ‘Israel’ mengalami perubahan yang signifikan selama genosida.
Penghancuran awalnya dilakukan terutama melalui serangan udara dan operasi tempur. Setelah pendudukan Rafah pada Mei 2024, penjajah secara sistematis meratakan seluruh lingkungan menggunakan perusahaan kontraktor sipil.
Menurut perkiraan yang dikutip oleh surat kabar tersebut, tindakan ini menyebabkan kehancuran hampir 100 persen bangunan di Rafah, Abasan, Khuza’a, Jabalia, dan daerah lainnya.
Penjajah juga menghancurkan sekitar 80 persen rumah kaca pertanian, 87 persen lahan pertanian, dan 80 persen jalan di seluruh Jalur Gaza.
Para ahli memperkirakan bahwa skala kehancuran telah meninggalkan sekitar 61 juta ton puing di Gaza; yang memperdalam bencana kemanusiaan dan menimbulkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi upaya rekonstruksi pada masa depan.
Awal bulan ini, Pelapor Khusus PBB tentang situasi hak asasi manusia di Palestina, Francesca Albanese, mengatakan bahwa biaya pembangunan kembali Gaza harus ditanggung oleh ‘Israel’, bersama dengan AS, Jerman, Italia, dan Inggris.
Albanese mengatakan situasi di Palestina tidak dapat dipahami tanpa meneliti masa lalu kolonial di wilayah tersebut. Ia menambahkan bahwa banyak praktik ‘Israel’ merupakan perpanjangan dari warisan kolonial Inggris di Palestina.
Albanese menekankan bahwa genosida yang dilancarkan ‘Israel’ pada 7 Oktober 2023, dengan dukungan AS dan berlangsung selama dua tahun, telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina.
Penjajah zionis juga melukai lebih dari 171.000 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil, dengan perkiraan biaya rekonstruksi awal mencapai 70 miliar dolar AS. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
