Muhajirin Gaza Hadapi Musim Dingin yang Berat, Rumah-Rumah Rapuh Terancam Runtuh
24 December 2025, 21:10.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Ratusan ribu warga Palestina di Gaza menghadapi musim dingin tanpa tempat berlindung yang layak. Mereka terjebak di antara reruntuhan rumah mereka yang hancur dan tenda-tenda rapuh yang hanya memberikan sedikit perlindungan dari dingin atau hujan.
Bagi muhajirin Gaza, musim dingin kali ini bukan lagi sekadar musim, melainkan lapisan pengepungan lain yang dijadikan penjajah zionis sebagai senjata untuk mengimpit warga Gaza.
Saat badai musim dingin pertama melanda, musim ini telah berubah dari kejadian alamiah menjadi ancaman langsung terhadap kehidupan karena penjajah zionis telah menghancurkan sekira 70 persen lanskap perkotaan Gaza selama dua tahun terakhir.
Dengan suhu yang turun dan curah hujan yang meningkat, kondisi kemanusiaan memburuk dengan cepat.
Banyak keluarga muhajirin tinggal di bangunan yang tidak aman dan sebagian hancur atau di tenda-tenda darurat yang bahkan tidak memenuhi standar perlindungan paling dasar; memperparah krisis yang sudah mengerikan.
Rumah-Rumah Terancam Runtuh
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania telah memperingatkan akan terjadinya bencana kemanusiaan. Ratusan rumah yang rusak atau hancur akibat pengeboman penjajah kini berisiko runtuh karena kondisi cuaca musim dingin.
Serangan udara yang berkepanjangan sangat melemahkan integritas struktural bangunan sehingga penduduk hanya memiliki dua pilihan: tetap tinggal di bangunan yang berisiko runtuh, atau mencari perlindungan di tenda sementara yang tidak layak dan tidak aman.
Di Tel al-Hawa, sebelah barat Kota Gaza, Muhammad al-Bayram yang berusia 52 tahun berdiri di samping rumahnya yang retak, mengungkapkan rasa khawatir yang kembali hadir setiap kali hujan turun.
“Setiap kali hujan, kami merasa khawatir,” katanya. “Dindingnya retak, dan atapnya bisa runtuh kapan saja. Kami tidak punya tempat lain untuk pergi. Tenda tidak melindungi kami dari dingin atau hujan. Musim dingin telah menjadi tantangan baru bagi kami.”
Di dekatnya, di Deir al-Balah, Mayada Abdo, seorang ibu dari lima anak yang tinggal di tenda dekat sekolah yang menampung keluarga muhajirin, mengatakan malam-malamnya terasa begitu berat.
“Kami tidak bisa tidur karena kedinginan,” katanya. “Air hujan merembes masuk dari segala sisi, dan anak-anak terus-menerus sakit. Kami mengira tenda itu hanya sementara, tetapi telah berubah menjadi penjara terbuka tanpa keamanan.”
Euro-Med berpendapat bahwa krisis ini melampaui kegagalan respons darurat; menggambarkannya sebagai siasat sistematis penjajah; yang menggunakan kondisi pengepungan dan nihilnya tempat berlindung untuk menciptakan lingkungan hidup yang mematikan.
Organisasi tersebut mengatakan bahwa tindakan zionis mencegah masuknya rumah sementara (portabel) telah merampas hak warga sipil atas tempat berlindung yang aman dan berfungsi sebagai alat yang bertujuan untuk memaksa pengungsian jangka panjang.
Euro-Med mendesak komunitas internasional untuk segera memberikan tekanan guna mencabut pembatasan masuknya material tempat penampungan sementara dan bahan-bahan perumahan penting, terutama saat musim dingin semakin intensif.
Mereka juga meminta Pelapor Khusus PBB tentang hak atas perumahan yang layak untuk mengeluarkan seruan mendesak dan resmi kepada zionis ‘Israel’.
Yakni memperingatkan bahwa penghambatan terus-menerus terhadap pasokan tempat berlindung selama kondisi musim dingin yang keras dapat dianggap sebagai pembunuhan yang disengaja, yang melanggar hukum humaniter internasional.
Risiko Kian Meningkat
Inas Hamdan, Direktur Media di Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), mengatakan kondisi kemanusiaan di Gaza semakin berbahaya.
Ia memperingatkan bahwa ribuan keluarga hidup tanpa perlindungan nyata dari dingin atau hujan, baik di tenda yang tidak aman maupun di bangunan rusak yang menimbulkan ancaman langsung terhadap nyawa.
Mencegah masuknya bahan-bahan untuk tempat tinggal dan rumah sementara kian memperburuk krisis dan membuat warga sipil, terutama anak-anak dan lansia, terpapar risiko kesehatan yang serius.
“Tanggapan segera bukan lagi pilihan,” kata Hamdan. “Ini adalah kebutuhan untuk menyelamatkan nyawa.”
Belasan Warga Tewas
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza melaporkan bahwa 18 orang tewas akibat runtuhnya 46 bangunan yang rusak akibat serangan penjajah ‘Israel’ sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025.
Insiden terbaru terjadi Sabtu (20/12/2025) malam di lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza; sebuah bangunan runtuh menewaskan empat orang sehingga jumlah korban tewas menjadi 18 orang.
Antara Sabtu dan Ahad malam, bangunan lain sebagian runtuh menimpa penghuni di dalamnya. Lima orang berhasil diselamatkan, sementara empat orang lainnya masih hilang hingga Ahad pagi, ketika jenazah dua gadis muda ditemukan dari bawah reruntuhan.
Kementerian memperingatkan bahwa skala bencana kemungkinan akan meningkat karena rekonstruksi masih terhambat dan penjajah terus mencegah masuknya rumah portabel; di tengah musim dingin yang berat.
Pemerintah Gaza mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak agar memungkinkan masuknya material rekonstruksi dan perumahan sementara untuk menampung keluarga muhajirin dengan aman. Penundaan apa pun akan semakin membahayakan ratusan ribu nyawa.
Hampir 90 persen infrastruktur sipil di Gaza telah hancur sejak agresi genosida dimulai pada Oktober 2023. Lebih dari 71.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 171.000 warga terluka, menurut otoritas setempat.
PBB memperkirakan bahwa pembangunan kembali Gaza akan menelan biaya setidaknya $70 miliar. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
