Pada Masa Gencatan Senjata, Krisis Gas Semakin Parah Di Gaza
8 January 2026, 19:01.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Meskipun hampir tiga bulan telah berlalu sejak gencatan senjata dan dimulainya kembali pasokan gas rumah tangga terbatas ke Gaza, krisis gas terus membayangi kehidupan penduduk. Hal yang dimulai sebagai keadaan darurat telah berubah menjadi kesulitan sehari-hari yang memengaruhi detail terkecil kehidupan, yang selanjutnya memicu kenaikan harga, kemiskinan, dan pengangguran.
Menurut penjelasan dari Otoritas Perminyakan Umum Gaza, jumlah truk gas yang memasuki wilayah Gaza paling banyak antara 15 hingga 23 per pekan. Sementara kebutuhan sebenarnya diperkirakan sekira 100 truk per pekan.
Setiap truk membawa sekira 20.000 kilogram gas, menunjukkan kesenjangan yang tajam antara pasokan dan permintaan.
Kondisi itu juga menggambarkan antrean panjang yang terus berlanjut dan warga yang menunggu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tanpa mendapatkan tabung gas.
Mekanisme Distribusi di Bawah Pengawasan
Otoritas tersebut menegaskan bahwa 93% dari jumlah gas yang masuk langsung disalurkan kepada warga melalui daftar yang disetujui secara resmi.
Sementara bagian yang dialokasikan untuk stasiun dan distributor tidak melebihi 6%, setelah baru-baru ini dikurangi untuk kepentingan konsumen.
Terdapat sekira 14 stasiun pengisian gas yang beroperasi di wilayah Gaza, empat di Gaza utara (salah satunya sementara tidak beroperasi) dan sepuluh di selatan.
Sementara itu, untuk restoran dan toko roti, tidak ada alokasi resmi untuk mereka. Oleh karena itu, tempat usaha ini terpaksa membeli gas dari pasar lokal, dengan jumlah maksimum yang diizinkan dikurangi dari 100 tabung menjadi hanya 30, di tengah kekurangan yang parah.
Terus Menunggu dan Alternatif yang Sulit
Fathi Manaa, seorang ayah dari Deir Al-Balah, mengatakan krisis gas telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. “Kami mendaftar melalui tautan resmi dan telah menunggu giliran kami untuk waktu yang lama, tetapi tidak ada hasilnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, masuknya jumlah terbatas di bawah kebijakan “tetesan” telah membuat krisis terus berlanjut tanpa solusi mendasar.
Situasi tersebut memaksa banyak keluarga untuk menggunakan alternatif memasak pola lama, seperti mengumpulkan kayu bakar atau membelinya dengan harga tinggi yang mencapai lima shekel per kilogram.
Pasar Gelap Memperparah Keadaan
Dengan permintaan yang tidak terpenuhi, pasar gelap berkembang pesat, dan harga gas melonjak hingga sekitar 80 shekel per kilogram, beberapa kali lebih tinggi dari harga normal.
Kenaikan ini tidak hanya membebani rumah tangga, tetapi juga berdampak pada sektor komersial dan jasa.
Abu Nidal Al-Khalidi, pemilik toko shawarma di Gaza tengah, menjelaskan bahwa kekurangan gas dan harga tinggi mengancam kelangsungan hidup usaha kecil.
“Kami membeli gas dari pasar gelap tanpa kuota yang ditentukan, yang meningkatkan biaya dan mengurangi margin keuntungan,” ujarnya.
Ia mencatat bahwa harga roti lapis tetap 15 shekel, padahal bisa turun menjadi 12 shekel jika gas tersedia dengan harga normal.
Hingga saat laporan ini diterbitkan, krisis gas masih belum terselesaikan, dengan kesulitan yang semakin meningkat seiring datangnya musim dingin. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
