Ramadan di Gaza: Meja yang Melawan Kelaparan dan Menyembunyikan Luka
25 February 2026, 21:34.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Bulan suci Ramadan di wilayah Gaza tak lagi menjadi musim perayaan penuh keceriaan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kini, ahlu Syam Gaza menghadapi ujian harian untuk sekadar memenuhi kebutuhan pangan paling dasar; di tengah situasi kemanusiaan dan ekonomi terberat dalam beberapa dekade terakhir.
Meja makan yang dahulu identik dengan kemurahan hati dan kebersamaan keluarga, kini menjadi cermin nyata perubahan besar yang melanda kehidupan warga. Bukan hanya bentuk rumah yang berubah, tetapi juga isi hidangan yang tersaji saat berbuka.
Di kawasan pengungsian yang membentang di sepanjang wilayah tersebut, suasana ifthar pun tampak berbeda. Tenda-tenda berdiri berdampingan menggantikan rumah-rumah yang hilang.
Meja plastik sederhana menggantikan hidangan melimpah yang dulu biasa tersaji. Percakapan keluarga pun tak lagi berkisar pada variasi menu, melainkan pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan ada makanan yang cukup, setidaknya hingga hari berikutnya?
Berjuang untuk Bertahan
Sebelum perang, persiapan Ramadan di Gaza selalu dimulai jauh-jauh hari. Pasar-pasar dipadati pembeli, daftar belanja disusun dengan cermat, rumah-rumah dibersihkan dan ditata untuk menyambut tamu. Namun, kini tradisi itu memudar, tergeser oleh satu prioritas utama: bertahan hidup.
Ahmad Abu Jarbu, warga yang mengungsi dari Rafah ke Deir al-Balah, mengatakan bahwa meja Ramadan tak lagi menjadi ruang kebahagiaan, melainkan “perjalanan perjuangan setiap hari.”
“Setiap pagi saya bangun dengan memikirkan apa yang akan kami makan saat matahari terbenam. Pembicaraan bukan lagi tentang variasi dan jenis hidangan, tetapi tentang satu makanan yang bisa membuat anak-anak tetap kuat hingga sahur,” ujarnya.
Sebelum agresi genosida, Abu Jarbu memiliki toko yang menjual kacang-kacangan di Rafah. Usaha itu memberinya penghasilan tetap. Kini, toko tersebut telah hancur, begitu pula rumahnya.
“Kami dulu duduk di meja makan yang menyajikan banyak hidangan—daging, ayam, atau makanan manis. Sekarang, hampir setiap hari kami bergantung pada makanan kaleng yang datang dalam paket bantuan. Perbedaannya bukan hanya pada jumlah hidangan, tetapi pada rasa aman yang dulu selalu menyertai kami,” katanya.
Dapur Umum, Sumber Hidangan Berbuka
Di bagian barat Kota Gaza, Siham Miqdad tinggal bersama keluarganya di sebuah tenda dekat pelabuhan. Suaminya mengalami cedera dan tidak lagi mampu bekerja. Tanpa sumber penghasilan, keluarga ini bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Menurut Siham, dapur umum kini menjadi penopang utama untuk mendapatkan hidangan berbuka. “Kami berdiri berjam-jam dalam antrean. Kadang mendapat makanan, kadang kembali ke tenda tanpa membawa apa-apa,” ujarnya.
Ia mengaku tekanan psikologis yang dirasakan, bahkan melampaui rasa lapar itu sendiri.
“Anak-anak bertanya tentang makanan yang biasa mereka nikmati saat Ramadan. Saya mencoba menjelaskan bahwa keadaan sudah berubah, tetapi sulit menjelaskan arti ketidakberdayaan kepada seorang anak,” katanya lirih.
Siham membandingkan kondisi sebelum perang dengan situasi saat ini. Jika dulu keluarga masih mampu menyiapkan hidangan sederhana untuk berbuka, kini biayanya melonjak berkali-kali lipat.
Sementara itu, sumber penghasilan yang stabil telah lenyap, membuat membeli kebutuhan dasar untuk ifthar hampir menjadi hal yang mustahil.
Pasar Tanpa Daya Beli
Meski sebagian pasar di Gaza masih membuka pintunya, daya beli masyarakat merosot ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Muhammad Haniyah, yang kehilangan pekerjaannya di sebuah toko minuman setelah bangunannya hancur, mengatakan bahwa pergi ke pasar kini lebih terasa seperti berjalan tanpa tujuan belanja.
“Kami hanya bertanya harga, lalu pulang. Terkadang roti menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia,” ujarnya.
Ia menambahkan, rasa tak berdaya semakin terasa ketika anak-anaknya menanyakan makanan yang dulu mereka anggap sebagai bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
“Dulu kami merencanakan kebutuhan selama sebulan penuh dan memastikan semuanya tersedia. Sekarang, kami hanya menunggu bantuan apa pun yang mungkin datang.”
Ekonomi yang Lelah dan Terpuruk
Perubahan yang terjadi di Gaza tidak hanya menyentuh kondisi hidup individu, tetapi juga mencerminkan runtuhnya struktur ekonomi wilayah tersebut secara lebih luas.
Ribuan usaha kecil hancur, sumber-sumber penghasilan terhenti, sementara harga kebutuhan pokok melonjak akibat kelangkaan pasokan dan sulitnya distribusi barang.
Kondisi ini mempersempit ruang gerak masyarakat yang sebelumnya masih memiliki mata pencaharian tetap. Kini, mayoritas keluarga bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Dalam situasi seperti ini, meja Ramadan bukan lagi sekadar ritual sosial atau tradisi kebersamaan. Ia berubah menjadi indikator nyata tingkat kemiskinan dan kerawanan pangan, sekaligus menggambarkan jurang lebar antara kenangan masa lalu dan realitas yang dihadapi hari ini.
Kursi-Kursi Kosong di Meja Makan
Di banyak rumah di Gaza, ada kehilangan yang tak tergantikan. Para syuhada, mereka yang ditahan, dan orang-orang yang hilang meninggalkan kursi-kursi kosong di sekeliling meja makan.
Keluarga-keluarga berusaha mempertahankan setidaknya sedikit suasana Ramadan. Namun, keheningan yang menyelimuti detik-detik sebelum azan berkumandang kerap terasa lebih berat daripada rasa lapar itu sendiri.
Meski demikian, tak sedikit warga yang tetap bertekad menjaga secercah semangat bulan suci. Hiasan kecil yang digantung di pintu tenda, lilin yang dinyalakan saat berbuka, atau hidangan sederhana yang ditata rapi—semuanya menjadi cara untuk mempertahankan makna kebersamaan.
Abu Jarbu mengatakan, “Mungkin tak lagi seperti dulu, tetapi kami berusaha menjaga arti kebersamaan.”
Di Gaza, meja makan memang telah berubah. Ragam hidangan menyusut, dan banyak kursi dibiarkan kosong.
Tekad untuk tetap duduk bersama saat azan Magrib berkumandang—meski hanya mengelilingi meja sederhana—menjadi bentuk keteguhan menjalani kehidupan di tengah ujian yang begitu berat. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
