80 Ribu Warga Gaza di Luar Negeri Ingin Pulang: “Tak Ada Tempat yang Lebih Baik dari Gaza!”
26 February 2026, 15:22.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Pembukaan kembali pelintasan Rafah secara terbatas membuka jalan bagi kepulangan warga Palestina yang mengungsi di luar negeri selama lebih dari dua tahun.
Di tengah kehancuran luas akibat agresi genosida dan berbagai upaya pengusiran, gelombang pulang ini menjadi penegasan: banyak warga bertekad kembali ke tanahnya, apa pun risikonya.
Di halaman Rumah Sakit Nasser di Kota Khan Yunis, suasana haru menyelimuti keluarga yang menunggu bus-bus berisi warga yang pulang. Tangis dan pelukan menyatu setelah perjalanan panjang yang memisahkan mereka dari rumah.
Fidaa Imran, seorang gadis Palestina, kembali memeluk ayah, ibu, dan saudara-saudaranya setelah menjalani pengobatan di luar Gaza.
Ia mengakui layanan medis di luar negeri lebih memadai, tetapi tak ada yang bisa menggantikan rasa pulang. “Begitu tiba di Gaza, semua lelah perjalanan terasa hilang,” katanya.
Kebahagiaan dan Rasa Memiliki Tanah Air
Ia menegaskan telah lama menanti momen itu. “Tak ada tempat yang lebih baik dari Gaza,” ujarnya, seraya mengingatkan warga Palestina lain agar tak mudah meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Pelintasan Rafah dibuka kembali secara parsial pada 2 Februari lalu, setelah ditutup sejak Mei 2024 ketika serdadu penjajah ‘Israel’ memasuki Kota Rafah dan menguasai sisi perbatasan Palestina. Pembukaan itu disertai pembatasan ketat.
Meski begitu, situasi kepulangan dan pertemuan kembali keluarga yang tercerai-berai menjadi gambaran kuat tentang keterikatan warga pada tanahnya.
Data menunjukkan sekira 80 ribu warga Palestina di luar negeri telah mendaftarkan diri untuk kembali ke Gaza.
Sejumlah pengamat menilai arus balik ini mengacaukan perhitungan para pengambil keputusan di ‘Israel’, yang berulang kali menyatakan niat mengosongkan wilayah tersebut dari penduduknya.
Tahani Imran, salah satu yang kembali, menyebut masa di pengasingan sebagai siksaan tanpa henti. “Kami lahir di sini dan siap mati di sini,” ucapnya. Ia mengaku sempat mengalami perlakuan keras di pelintasan—ditahan, ditutup matanya, dan diinterogasi berjam-jam.
Di halaman rumah sakit yang sama, Hossam Al-Mansi memeluk anak-anaknya erat. Ia kembali sebelum pengobatannya selesai akibat cedera perang. “Tanah Gaza lebih berharga dari segalanya,” katanya. “Seberat apa pun keadaan, di sinilah kami berada.”
Sudut Pandang Politik terhadap Situasi Ini
Analis politik Iyad Al-Qarrah menilai kembalinya satu warga Palestina saja sudah menjadi pukulan terhadap rencana pengusiran.
Ia menjelaskan, keputusan untuk pulang memuat dua dimensi utama: kemanusiaan—yakni penyatuan kembali keluarga—dan nasional, yang mencerminkan kesadaran kolektif atas bahaya pengusiran.
Menurutnya, ketika seorang Palestina dihadapkan pada pilihan antara penderitaan di pengasingan atau penderitaan di tanah airnya, ia akan memilih tanah airnya.
Ia menambahkan, kesadaran ini sebelumnya terlihat saat warga yang mengungsi memaksa kembali ke Gaza utara begitu gencatan senjata berlaku.
Al-Qarrah mengatakan zionis ‘Israel’ merasa terganggu oleh kegigihan warga Palestina untuk kembali, dan pemeriksaan serta perlakuan keras terhadap warga yang pulang mencerminkan kegelisahan itu.
Sumber pemerintah di Gaza menyebut zionis ‘Israel’ tidak mematuhi kuota penyeberangan yang disepakati.
Menurut Kantor Media Pemerintah di Gaza (GMO), tingkat kepatuhan ‘Israel’ terhadap jumlah pelintas pada periode 2–15 Februari tidak melebihi 29 persen. Dari sekira 2.800 orang yang dijadwalkan menyeberang, hanya 811 yang berhasil melintas dua arah.
Pada saat yang sama, lebih dari 22 ribu warga luka dan sakit dilaporkan membutuhkan perawatan di luar negeri karena sistem kesehatan di Gaza nyaris lumpuh.
Kegagalan yang Berulang
Sebelum perang, pelintasan Rafah melayani ratusan pelintas setiap hari tanpa campur tangan langsung ‘Israel’. Mekanisme itu terhenti sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023.
Dengan dukungan Amerika Serikat, ‘Israel’ melancarkan agresi genosida besar-besaran di wilayah Gaza yang berlangsung hampir dua tahun.
Lebih dari 72 ribu warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 171 ribu lainnya terluka—sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur.
Namun, bagi banyak warga Palestina, kembali ke tanah yang porak-poranda tetap terasa lebih ringan daripada hidup terasing di negeri orang. Kepulangan itu menjadi pesan berulang: upaya mencabut mereka dari tanah kelahiran hanya akan menemui kegagalan. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
