Menelaah Data Perekonomian Gaza: Wilayah yang Dikepung dan Berulang Kali Digempur

26 February 2026, 15:23.

Foto: PIC

GAZA (PIC) – Agresi genosida penjajah tidak hanya meruntuhkan bangunan-bangunan di wilayah Gaza. Ia juga meruntuhkan fondasi ekonomi wilayah itu.

Sebelumnya, Gaza sudah hidup dalam tekanan blokade dan keterbatasan, kini ekonominya bisa dikatakan hampir sepenuhnya lumpuh.

Masalahnya bukan lagi sekadar perlambatan usaha atau kekurangan uang tunai. Yang terjadi adalah keruntuhan besar yang menghantam semua sektor sekaligus—lapangan kerja hilang, produksi berhenti, pendapatan anjlok, dan sistem keuangan tak berjalan normal.

Data ekonomi menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan. Angka orang yang tidak punya pekerjaan melonjak tajam, kemiskinan meluas hampir ke seluruh penduduk, dan ekonomi menyusut dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Akibatnya, sebagian besar warga kini bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kegiatan produksi hampir berhenti total. Infrastruktur seperti listrik dan air rusak parah. Pasar resmi melemah, sementara praktik jual beli di luar sistem resmi—atau pasar paralel—justru semakin mendominasi.

Dalam situasi tersebut, pakar dan analis ekonomi Ahmad Abu Qamar memberikan penjelasan terperinci mengenai bagaimana keruntuhan ekonomi ini terjadi serta perubahan besar dan mendalam yang ditimbulkannya.

Ketiadaan Pekerjaan dan Kemiskinan

Ekonom Ahmad Abu Qamar menjelaskan bahwa sebelum perang pun tingkat ketiadaan pekerjaan di Gaza sudah tergolong tinggi, yakni sekira 43 persen. Namun, setelah perang, angkanya melonjak menjadi sekitar 80 persen. Ia menyebut kenaikan ini sebagai kondisi yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Tingkat kemiskinan juga meningkat tajam. Jika sebelumnya sekira 75 persen warga hidup di bawah garis kemiskinan, kini angkanya mencapai sekitar 90 persen. Artinya, hampir seluruh penduduk kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Bahkan sebelum perang, sekira 55 persen warga sudah bergantung pada bantuan kemanusiaan. Sekarang, jumlah itu naik menjadi 95 persen. Menurut Abu Qamar, lonjakan ini menunjukkan bahwa ekonomi Gaza benar-benar mengalami keruntuhan menyeluruh.

Upaya Pelemahan Berkepanjangan

Ahmad Abu Qamar menjelaskan bahwa ekonomi Gaza sebenarnya sudah tidak stabil, bahkan sebelum perang terakhir terjadi. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi oleh blokade berkepanjangan dan pembatasan masuknya bahan baku, serta barang kebutuhan.

Selain itu, serangan dan eskalasi militer berulang kali membuat sektor industri dan pertanian tidak bisa beroperasi secara normal.

Selama bertahun-tahun masa blokade, banyak warga akhirnya beralih ke sektor jasa karena dinilai paling mungkin bertahan dalam situasi serba tertutup. Namun, perang terbaru turut menghancurkan sektor ini. Akibatnya, hampir seluruh sistem ekonomi Gaza runtuh dan sulit berfungsi seperti sebelumnya.

Perubahan Struktural dan Hancurnya Sektor Produktif

Ahmad Abu Qamar menegaskan bahwa yang terjadi di Gaza bukan sekadar penurunan ekonomi biasa. Menurutnya, telah terjadi perubahan besar dalam struktur ekonomi itu sendiri.

Sektor pertanian kehilangan lebih dari 90 persen produktivitasnya, padahal sebelumnya sektor ini menyumbang sekitar 13 persen pada produk domestik bruto (PDB). Artinya, salah satu penopang utama ekonomi praktis lumpuh.

Tak hanya itu, lebih dari 90 persen fasilitas produksi mengalami kerusakan dan fasilitas industri hancur total atau rusak berat.

Dalam kondisi seperti ini, warga terpaksa beralih ke sektor jasa sederhana, usaha kecil-kecilan, atau kegiatan yang bergantung pada bantuan kemanusiaan. Pergeseran ini, kata Abu Qamar, menunjukkan adanya keruntuhan struktur ekonomi secara nyata—dari ekonomi yang memproduksi barang menjadi ekonomi yang “sekadar bertahan hidup”.

Ia juga mengingatkan, sekalipun pelintasan dibuka kembali pada masa depan, kebangkitan sektor industri tidak akan terjadi dengan cepat. Skala kerusakan yang sangat besar dan hancurnya infrastruktur dasar membuat proses pemulihan diperkirakan berjalan lambat.

Penyusutan Ekonomi Terburuk dalam Sejarah

Ahmad Abu Qamar menyebut kerugian ekonomi langsung akibat agresi genosida diperkirakan mencapai sekitar 30 miliar dolar AS. Kerugian tidak langsung—seperti hilangnya peluang usaha dan pendapatan jangka panjang—bisa sama besar, bahkan lebih tinggi dari angka tersebut.

Sepanjang 2024, ekonomi Gaza menyusut hingga 83 persen. Pada 2025, penyusutannya bahkan disebut melampaui 90 persen. Sebagai perbandingan, pada tahun-tahun sebelumnya di bawah blokade, penyusutan ekonomi tidak pernah lebih dari 10 persen.

Menurut Abu Qamar, angka-angka ini menunjukkan bahwa dalam dua tahun perang saja, Gaza telah kehilangan lebih dari 50 tahun hasil pembangunan. Kondisi ekonominya kini mundur jauh, menyerupai situasi pada era 1960-an.

Pasar Tenaga Kerja: Dari Produksi ke Ekonomi Bertahan Hidup

Ahmad Abu Qamar menjelaskan bahwa pasar tenaga kerja di Gaza berubah secara drastis setelah perang. Banyak pekerja jarak jauh kehilangan penghasilan karena listrik dan internet sering terputus sehingga mereka tidak bisa lagi bekerja seperti sebelumnya.

Dalam kondisi serba sulit, warga pun beralih ke apa yang ia sebut sebagai “ekonomi bertahan hidup”. Pekerjaan sederhana semakin banyak dilakukan, seperti memperbaiki uang rusak, memperbaiki sepatu, menjahit pakaian, hingga menjual dan mengantarkan air bersih.

Menurutnya, perubahan ini menunjukkan bahwa ekonomi Gaza telah bergeser dari sistem yang memproduksi dan menghasilkan nilai tambah menjadi sekadar upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ia menegaskan, situasi ini mencerminkan keruntuhan struktural yang serius di pasar tenaga kerja.

Krisis Pendapatan dan Lonjakan Harga

Ahmad Abu Qamar menjelaskan bahwa hilangnya banyak sumber penghasilan membuat daya beli masyarakat turun drastis. Ketika ketiadaan pekerjaan meningkat, pendapatan otomatis menurun, dan kemampuan warga untuk membeli kebutuhan sehari-hari pun semakin lemah.

Ia menyebut banyak pegawai kini hanya menerima setengah gaji. Bahkan ada yang hanya memperoleh sekitar 1.000 shekel setiap dua bulan. Pada saat yang sama, harga barang kebutuhan pokok melonjak hingga lima kali lipat dari harga normal.

Biaya masuknya barang juga sangat tinggi. Untuk satu truk barang, biayanya berkisar antara 300.000 hingga 900.000 shekel. Beban biaya ini akhirnya dibebankan kepada masyarakat dalam bentuk harga yang semakin mahal. Akibatnya, jarak antara pendapatan dan harga kebutuhan hidup menjadi semakin menyesakkan.

Rekayasa Kelaparan dan Menguatnya Ekonomi Pasar Gelap

Ahmad Abu Qamar menggambarkan kondisi yang terjadi sebagai “rekayasa kelaparan”. Menurutnya, bahan makanan memang diizinkan masuk, tetapi dalam jumlah sangat terbatas dan dengan harga tinggi.

Sementara itu, pendapatan masyarakat hampir tidak ada. Akibatnya, banyak barang kebutuhan pokok menjadi tidak terjangkau bagi sebagian besar warga.

Ia juga menjelaskan bahwa ekonomi pasar gelap kini justru lebih dominan dibanding pasar resmi. Bank memang telah dibuka kembali secara formal, tetapi masalah penarikan dan penyetoran uang belum terselesaikan. Otoritas moneter pun dinilai tidak lagi memiliki pengaruh yang efektif dalam mengatur peredaran uang.

Dalam situasi ini, sekelompok pedagang menguasai peredaran uang dan barang melalui praktik monopoli dan pembatasan distribusi secara sistematis. Kondisi tersebut semakin memperkuat posisi pasar gelap dan mempersempit akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.

Infrastruktur Hancur dan Kondisi yang Tidak Mendukung Pemulihan

Ahmad Abu Qamar menegaskan bahwa pemulihan ekonomi tidak mungkin terjadi tanpa memperbaiki infrastruktur yang rusak. Ia menyebut sektor listrik mengalami kerugian langsung sekira 800 juta dolar AS, sementara sekitar 65 persen jaringan air mengalami kerusakan.

Menurutnya, roda produksi saat ini benar-benar terhenti. Tanpa masuknya bahan baku serta perbaikan listrik dan air, kegiatan ekonomi tidak akan bisa berjalan kembali. 

Di akhir penjelasannya, Abu Qamar menekankan bahwa Gaza tidak hanya membutuhkan pembangunan ulang gedung dan jalan, tetapi juga pembenahan ekonomi secara menyeluruh. 

Pembukaan pelintasan, kelancaran masuknya bahan baku, pengaktifan kembali sistem perbankan, serta penghentian praktik monopoli pasar gelap menjadi syarat utama untuk menghidupkan kembali perekonomian.  

Jika kondisi saat ini terus berlanjut, ia memperingatkan, ekonomi Gaza akan tetap terjebak dalam kelumpuhan yang berkepanjangan. (PIC)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« 80 Ribu Warga Gaza di Luar Negeri Ingin Pulang: “Tak Ada Tempat yang Lebih Baik dari Gaza!”
Ramadan di Gaza: Salat di Atas Reruntuhan dan Pesan Iman yang Membangkitkan Harapan »