Ramadan di Gaza: Salat di Atas Reruntuhan dan Pesan Iman yang Membangkitkan Harapan
26 February 2026, 15:24.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Di tengah suara takbir yang bersahut-sahutan dan dengung pesawat di langit, warga Jalur Gaza menyambut malam-malam Ramadan dengan cara yang tak biasa. Mereka menunaikan salat Isya dan Tarawih di atas puing-puing masjid yang hancur, atau di tempat ibadah darurat yang dibuat dari kayu dan terpal nilon.
Pemandangan itu bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia menjadi pesan nyata bahwa salat tetap ditegakkan; seberat apa pun perang dan sebesar apa pun kehancuran yang terjadi.
Di berbagai wilayah Gaza, ratusan masjid dilaporkan rusak atau hancur akibat agresi genosida zionis. Sebagai gantinya, warga mendirikan tenda-tenda sederhana dan menjadikannya ruang salat. Sebagian lainnya memanfaatkan bagian masjid yang masih tersisa, meski dalam kondisi rusak.
Sementara pesawat pengintai masih berputar di udara, para jemaah berdiri rapi dalam saf, menengadahkan tangan dalam doa. Mereka memohon agar kesulitan segera berakhir, penderitaan dihentikan, dan kondisi hidup membaik.
Gambaran Kehancuran dan Kembalinya Suara dari Bawah Reruntuhan
Data dari Kantor Media Pemerintah di wilayah Gaza (GMO) menunjukkan ratusan masjid mengalami kerusakan total maupun sebagian. Direktur Jenderal Kementerian Wakaf di Gaza, Anwar Abu Shawish, menyebut sekira 93 persen masjid di wilayah itu terdampak pengeboman.
Dari total 1.244 masjid, sekira 1.160 menjadi sasaran serangan, baik hancur total maupun rusak sebagian. Sebanyak 909 masjid rata dengan tanah, sementara 251 lainnya mengalami kerusakan parah sehingga tidak lagi bisa digunakan untuk beribadah.
Menurut Abu Shawish, serangan tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menelan korban dari kalangan tokoh agama.
Lebih dari 330 pegawai kementerian, khatib, imam, dan penceramah dilaporkan tewas, termasuk 233 khatib, pengajar agama, dan penghafal Al-Qur’an. Selain itu, 27 pegawai lainnya hingga kini masih ditahan.
Serangan udara juga dilaporkan menghantam masjid dan musala saat jemaah berada di dalamnya, termasuk musala di Sekolah Al-Tabiin. Sejumlah masjid bersejarah turut terdampak, di antaranya Masjid Agung Omari di Kota Gaza.
Meski demikian, Abu Shawish menegaskan bahwa Kementerian Wakaf bekerja sama dengan lembaga keagamaan dan para dermawan mendirikan lebih dari 500 tempat salat sementara di berbagai wilayah Gaza, terutama di kamp-kamp pengungsian.
Langkah ini dilakukan agar azan tetap berkumandang, salat berjemaah terus berlangsung, dan halaqah hafalan Al-Qur’an tetap berjalan.
Ia menekankan bahwa masjid bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol dan pesan keimanan. Oleh karena itu, ibadah akan terus ditegakkan, seberat apa pun kehancuran yang terjadi.
Masjid Agung Omari: Kembali ke Tempatnya, Meski Dilanda Kehancuran
Di Kota Gaza, Khaled Miqdad (37) mengaku dulu harus menempuh perjalanan cukup jauh demi bisa menunaikan salat Tarawih di Masjid Agung Omari yang bersejarah.
Meski masjid itu mengalami kerusakan parah akibat perang, Khaled kembali datang pada malam-malam pertama Ramadan tahun ini.
Ia mengatakan, dua tahun terakhir menjadi masa ketika suasana Ramadan di masjid tersebut seolah hilang. Kini, salat kembali ditegakkan di sana, walau di tengah puing dan kerusakan yang masih terlihat jelas.
Menurut Khaled, penghancuran masjid-masjid bertujuan untuk menjauhkan warga dari ibadah mereka. Namun, ia menegaskan bahwa warga justru semakin bertekad untuk tetap menjalankan ibadah; bahkan jika harus melakukannya di atas reruntuhan.
“Iman adalah sumber kekuatan dan keteguhan kami,” ujarnya. Bagi Khaled dan banyak warga lainnya, kehancuran bangunan tidak akan memisahkan mereka dari keyakinan yang selama ini menjadi sandaran dalam menghadapi cobaan.
Salat di Atas Puing dan Semangat yang Bangkit Kembali
Di pusat Kota Gaza, Imam Raghid Labib memimpin salat berjemaah di Masjid Abu Khadra—atau tepatnya di sisa bangunan yang masih ada.
Setelah masjid itu hancur total akibat serangan, warga setempat mendirikan tempat salat darurat dari lembaran nilon dan kayu agar ibadah tetap bisa berlangsung.
Menurut Raghid, Ramadan tahun ini terasa sangat berbeda. Salat Tarawih berjemaah menghadirkan kembali suasana kebersamaan dan memberi kesempatan bagi warga untuk bertemu lagi dengan tetangga serta sahabat setelah berbulan-bulan tercerai-berai akibat pengungsian.
Masjid tersebut beberapa kali terkena serangan sebelum akhirnya rata dengan tanah. Namun, warga tidak menyerah. Dengan peralatan seadanya, mereka membangun ruang salat sederhana agar salat lima waktu tetap bisa ditegakkan, terutama salat Subuh dan Tarawih.
Raghid juga menyampaikan duka atas banyaknya jemaah yang gugur selama perang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keimanan akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Baginya, kehendak dan keteguhan warga tidak akan mudah dipatahkan.
Kebahagiaan yang Belum Utuh, di Antara Tenda dan Kenangan
Di kawasan Al-Amal, Khan Yunis, warga menunaikan salat Tarawih di sisa-sisa Masjid Al-Rahma yang sebagian besar bangunannya telah hancur.
Ruang salat darurat yang dibangun di antara reruntuhan itu dipenuhi jemaah setelah dua tahun tidak bisa beribadah dengan leluasa. Suasana tersebut sedikit menghidupkan kembali nuansa Ramadan yang lama hilang.
Haji Muhammad Dabour (65) menuturkan, selama puluhan tahun ia selalu melaksanakan salat Tarawih di masjid yang sama. Di tempat itu ia merasakan ketenangan dan suasana spiritual yang khas. Namun, dua tahun terakhir membuatnya kehilangan momen tersebut.
“Alhamdulillaah, sekarang salat kembali ditegakkan, meski masjid hancur dan banyak jemaah serta imam telah wafat,” ujarnya. Ia berharap masjid itu bisa segera dibangun kembali dan menegaskan bahwa keimanan warga tidak goyah, meski diuji berbagai kehilangan.
Ramadan tahun ini datang di tengah kondisi sulit. Dari sekira 2,3 juta penduduk wilayah Gaza, sekira 1,9 juta orang masih hidup dalam pengungsian. Banyak di antara mereka tinggal di tenda-tenda yang kekurangan kebutuhan dasar; di tengah terbatasnya makanan, bahan bangunan, dan bantuan kemanusiaan. Pelanggaran gencatan senjata juga masih terus dilaporkan.
Meski situasi relatif lebih tenang dibanding puncak perang, suasana Ramadan terasa berbeda. Tidak ada hiasan lampu yang semarak, meja-meja buka puasa bersama, atau pasar yang ramai seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bagi banyak keluarga yang masih merasakan duka dan kehilangan, kebahagiaan Ramadan tahun ini mungkin terasa belum sepenuhnya kembali. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
