Penduduk Gaza Berpuasa di Tengah Gencatan Senjata yang Penuh Ketidakpastian
28 February 2026, 11:03.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Waktu di wilayah Gaza seakan tak lagi bergerak mengikuti kalender Hijriah, melainkan berdetak mengikuti irama kehilangan.
Sepekan bulan suci telah berlalu. Namun, Gaza masih terjebak dalam momen perang—wilayah yang untuk tahun ketiga berturut-turut berpuasa di bawah bayang-bayang genosida.
Tenda-tenda darurat berdiri menggantikan rumah, bangunan berubah menjadi puing, dan tanah kuburan masih merah oleh kesedihan yang baru.
Di Gaza, Ramadan kini tak lagi diukur dari panjangnya waktu menahan lapar dan dahaga, melainkan dari banyaknya kursi kosong di meja berbuka. Tak ada hiasan lampu di jalanan, tak ada pasar yang hiruk-pikuk seperti beberapa tahun lalu.
Ketenangan relatif yang dibawa gencatan senjata belum mampu menghadirkan rasa aman. Ia lebih terasa sebagai jeda berat di antara babak-babak kekhawatiran yang belum benar-benar usai.
Gencatan Senjata Tanpa Kepastian
Meski gencatan senjata berlaku sejak Oktober tahun lalu, bayang-bayang ketakutan tak pernah benar-benar pergi.
Pada hari-hari pertama Ramadan, korban baru masih berjatuhan di sejumlah titik. Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan korban jiwa dan luka tetap tercatat sejak dimulainya gencatan senjata—baik akibat tembakan langsung maupun insiden di wilayah yang disebut “aman”.
Di wilayah utara dan timur Gaza, zona militer tertutup masih menghalangi ribuan keluarga untuk kembali ke rumah mereka.
Sebagian bangunan memang masih berdiri, tetapi tak terjangkau. Dari kejauhan, warga hanya bisa memandangi lingkungan mereka sendiri tanpa diizinkan menyentuh dinding rumah merekae.
Ziad Deir, pengungsi dari Gaza utara yang kini tinggal di kamp Nuseirat, mengatakan intensitas pengeboman memang berkurang, tetapi rasa stabil tak kunjung benar-benar kembali.
Ia mengenang malam-malam Ramadan yang dulu diisi canda bersama sahabat dan meja berbuka bersama. Kini semua tinggal memori yang ia simpan di dalam tenda sempitnya.
Tenda Menggantikan Rumah
Di wilayah tengah Gaza, Um Muhammad al-Shafei duduk di depan kompor sederhana, menyiapkan hidangan berbuka ala kadarnya. Baginya, yang paling berat tahun ini adalah menyambut Ramadan bukan di rumahnya di Jabalia, melainkan di tenda yang tak mampu menahan panasnya siang maupun dinginnya malam.
Kehilangan dua saudara perempuannya serta suami dari dua putrinya membuat bulan suci ini terasa lebih getir. “Ketidakhadiran terasa di setiap sudut,” katanya pelan.
Ramadan yang dulu menjadi musim silaturahim kini berubah menjadi musim kesabaran dan penantian. Ucapan selamat pun menjadi singkat karena setiap keluarga memikul kisah duka yang tak ringan.
Pasar Buka, Kantong Kosong
Aktivitas pasar memang mulai terlihat kembali, tetapi daya beli warga nyaris tak ada. Ketiadaan pekerjaan berkepanjangan dan hilangnya sumber pendapatan membuat banyak keluarga tak memiliki penghasilan tetap.
Fuad Hijazi, pengungsi dari Kota Gaza, mengaku keluarganya kini bergantung pada dapur umum untuk mendapatkan makanan berbuka, setelah mata pencahariannya terputus lebih dari dua tahun lalu.
Kenaikan harga memperparah keadaan, terutama dengan kelangkaan gas memasak. Otoritas Perminyakan Gaza menyebut pasokan yang masuk sejak gencatan senjata hanya memenuhi sebagian kecil kebutuhan. Banyak warga terpaksa mencari cara-cara sederhana dan darurat untuk memasak.
Ramadan yang Kehilangan Wajah Lamanya
Sebelum agresi genosida, malam-malam Ramadan di Gaza hidup hingga waktu sahur—lampu-lampu menyala, serial televisi diputar, dan saling bertukar undangan berbuka. Kini, prioritas warga menyempit pada kebutuhan paling mendasar: air layak minum, obat yang sulit dicari, atau tempat yang sedikit lebih aman.
Melewati hari ke-7, Ramadan memasuki Gaza dengan beban tiga tahun perang terbuka. Warga tetap berpuasa, tetap menjaga ibadah, tetap menggenggam iman, meski memanggul ujian kehilangan yang berat. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
