Ramadan di Gaza: Tradisi Sosial Memudar, Ibadah Menjadi Ruang Penguat
28 February 2026, 11:04.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Ramadan di wilayah Gaza tak pernah sekadar penanda waktu. Ia adalah musim sosial, spiritual, sekaligus ekonomi. Irama hidup berubah, jalanan ramai menjelang Magrib, meja makan dipenuhi hidangan, dan hati terasa lebih lapang.
Namun, Ramadan tahun ini datang dengan situasi yang sangat berbeda. Perang dan dampaknya mengubah wajah suasana bulan suci secara drastis.
Kalimat “Ramadan tak pernah seperti ini” kini menjadi gambaran paling jujur atas kondisi yang dirasakan bersama oleh warga Gaza.
Perubahan itu bukan hanya terlihat di luar—pada bangunan yang rusak atau pasar yang sepi—tetapi meresap hingga ke detail kehidupan sehari-hari.
Meja Makan Seadanya
Di salah satu kawasan pengungsian di selatan Gaza, Um Raed Abu Sultan (45), ibu lima anak, mengaku yang paling berubah tahun ini adalah “rasa persiapan”.
“Dulu kami menyambut Ramadan berminggu-minggu sebelumnya. Belanja kebutuhan rumah, menyiapkan bahan makanan, merencanakan undangan. Sekarang tidak ada perencanaan. Kami hanya menjalani hari demi hari,” tuturnya.
Meja makan yang dulu berisi beragam hidangan kini terbatas pada makanan pokok. “Kami fokus pada yang penting untuk mengenyangkan. Anak-anak kadang bertanya tentang makanan yang biasa ada, tetapi mereka mulai mengerti situasinya,” katanya.
Bahkan saat berbuka puasa, rasa cemas tak benar-benar hilang. “Kami berbuka sambil memikirkan hari esok, bukan sisa hari pada bulan ini.”
Menurutnya, perubahan ini bukan sekadar soal materi. Tradisi sosial yang melekat pada Ramadan ikut memudar. Kunjungan keluarga berkurang, undangan berbuka hampir tak ada, keluarga tercerai-berai akibat pengungsian.
Pasar yang Kehilangan Musimnya
Di pasar Deir al Balah, Abu Ahmad al-Qadi, pemilik toko manisan, mengenang Ramadan sebagai puncak musim dagangnya setiap tahun.
“Dulu produksi kami lipat gandakan saat Ramadan. Permintaan tinggi. Orang menganggap manisan bagian penting dari suasana bulan suci,” ujarnya.
Tahun ini, suasananya jauh berbeda. Pembeli sepi, dan prioritas belanja berubah drastis. “Orang fokus pada kebutuhan pokok. Bahkan yang punya uang pun ragu membelanjakannya karena situasi ke depan tidak jelas.”
Krisis ekonomi dan melemahnya daya beli, katanya, terasa nyata dalam apa yang ia sebut sebagai “ekonomi Ramadan”—yang biasanya ditopang oleh pasar malam, pedagang kaki lima, dan pekerjaan musiman.
Kini, malam Ramadan tak lagi seramai dulu.
Ibadah Menjadi Ruang Penguat
Di sisi lain, Ramadan tetap menghadirkan ruang ketenangan. Samih Abu al-Atta, imam masjid di Deir al-Balah, terpaksa menggelar salat Tarawih di halaman terbuka setelah masjidnya rusak akibat perang.
Meski begitu, jemaah tetap datang. Beberapa malam, bahkan dipenuhi warga.
“Orang mencari ruang untuk merasa tenang. Di bawah tekanan psikologis dan ekonomi, salat menjadi cara untuk memulihkan keseimbangan,” katanya.
Isi khutbah pun berubah. Jika dulu lebih banyak membahas tema-tema umum keagamaan, kini ia menekankan kesabaran, solidaritas, dan keteguhan.
“Kami mencoba membaca kenyataan apa adanya, dan menyampaikan pesan yang langsung menyentuh kegelisahan orang-orang.”
Dampak Psikologis yang Panjang
Psikolog Abdullah al-Khatib menilai Ramadan memiliki peran penting dalam membentuk memori anak-anak. Ritual dan suasana khas bulan suci biasanya menjadi kenangan yang melekat kuat.
“Ketika ritual berubah drastis, anak merasakan kehilangan yang belum tentu bisa ia pahami sepenuhnya. Ia tahu ada yang berbeda, meski sulit menjelaskannya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat membuat sebagian anak mengaitkan Ramadan dengan rasa cemas atau ketidakstabilan. Oleh karena itu, keluarga perlu berupaya menjaga setidaknya secercah suasana positif di dalam rumah atau tempat pengungsian. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
