Lebih dari Separuh Distribusi Bantuan ke Gaza Dihalangi dan Ditolak Penjajah ‘Israel’

1 March 2026, 14:13.

Sebuah organisasi amal membagikan makanan kepada warga Palestina yang mengungsi di kawasan Al-Mawasi pada bulan suci Ramadan, di tengah kelangkaan pangan yang terus berlanjut akibat serangan zionis dan pembatasan masuknya bantuan di Khan Yunis, Gaza, 26 Februari 2026. [Mohammed Eslayeh – Anadolu Agency]

GAZA (Middle East Monitor) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan lebih dari 50 persen pergerakan bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza pada Februari lalu dihambat atau ditolak oleh penjajah zionis ‘Israel’.  

Situasi ini memperparah kekurangan yang dialami warga sipil di wilayah tersebut. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan jatah makanan bagi warga Gaza terpaksa dipangkas hingga setengahnya bulan ini.

“Sebagian besar karena pasokan di dalam Gaza tidak mencukupi. Sekitar dua pertiga truk bantuan yang masuk melalui koridor Mesir dikirim kembali pada bulan ini,” ujarnya, seperti dilaporkan Anadolu Agency

Menurut Dujarric, koordinasi pergerakan bantuan dengan zionis ‘Israel’ di dalam Gaza masih terus berlangsung. Namun, dari 10 misi kemanusiaan yang direncanakan sehari sebelumnya, hanya empat yang difasilitasi.  

Di antaranya pengambilan bahan bakar, tenda, dan perlengkapan bayi dari pelintasan Kerem Shalom (Karem Abu Salem). 

Sementara itu, lima misi lainnya dihambat, dan satu permintaan untuk menilai fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan di Gaza Utara ditolak sepenuhnya. 

PBB juga menyoroti meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan di Gaza. Mitra kemanusiaan di lapangan melaporkan semakin banyak warga hidup dalam kondisi disabilitas akibat perang.  

Banyak yang mengalami amputasi, sementara lainnya menderita cedera tulang belakang dan trauma otak. “Ratusan orang mengalami luka traumatis sejak gencatan senjata,” kata Dujarric. 

Di tengah sistem kesehatan yang sudah rapuh, pasien-pasien ini menghadapi tantangan besar. Masuknya alat prostetik dan perangkat medis penting lainnya masih sangat dibatasi sehingga memperlambat proses pemulihan mereka. 

Menjawab pertanyaan tentang alasan truk bantuan dipulangkan dari koridor Mesir, Dujarric menyebut truk-truk tersebut tidak mendapatkan “izin” dari penjajah zionis.  

“Sejauh yang saya pahami, ada sejumlah barang yang kami anggap sangat penting, tetapi tidak diizinkan masuk ke Gaza,” ujarnya.

Kondisi ini menambah panjang daftar hambatan dalam upaya menyalurkan bantuan bagi jutaan warga Gaza yang masih bergantung pada dukungan kemanusiaan. 

“Ada kebutuhan alat berat untuk membersihkan puing-puing, perangkat prostetik, dan berbagai perlengkapan lainnya. Namun, arus bantuan yang kami perlukan belum terpenuhi,” tambahnya. 

Dujarric kembali menegaskan bahwa PBB belum menerima seluruh kebutuhan dalam jumlah yang semestinya. 

Sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku, zionis dilaporkan telah menewaskan sekitar 618 warga Palestina dan melukai 1.663 lainnya dalam pelanggaran gencatan senjata harian yang melibatkan serangan dan tembakan. 

Gencatan senjata itu menyusul agresi genosida yang dilancarkan zionis pada 7 Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun, yang menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina serta melukai lebih dari 171.000 lainnya—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta menghancurkan sekira 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Krisis Sampah di Gaza Memburuk, Sumber Daya Kian Menipis
Dibayangi Pembatasan Ketat, 100 Ribu Jemaah Palestina Padati Al-Aqsha pada Jumat Kedua Ramadan  »