Roti Tak Lagi Cukup, World Central Kitchen di Gaza Terpaksa Tutup
1 March 2026, 14:53.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Keputusan World Central Kitchen (WCK) menghentikan seluruh operasi memasaknya di wilayah Gaza mulai Jumat mendatang memicu gelombang kekhawatiran di tengah ribuan keluarga yang telah bergantung pada makanan harian dari lembaga tersebut sebagai sumber makanan yang hampir konstan sejak pecahnya perang.
Sejak November 2023, WCK telah menyalurkan lebih dari 272 juta porsi makanan. Angka itu menggambarkan skala intervensi kemanusiaan yang masif. Namun, penghentian operasi kini memunculkan pertanyaan tajam: ke mana warga Gaza harus mencari makanan berikutnya?
Dalam laporan ini, Palestinian Information Center (PIC) menggambarkan situasi di lapangan dan kesaksian keluarga yang melihat penutupan WCK sebagai ancaman langsung terhadap kemampuan mereka memenuhi kebutuhan makan paling dasar.
Hambatan dari Penjajah Zionis
Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO) menyebut keputusan WCK tak lepas dari hambatan lapangan yang kian berat. Dalam pernyataan pers Rabu (25/2/2026), mereka menyoroti pembatasan yang diberlakukan zionis ‘Israel’—jumlah truk pengangkut bahan makanan dipangkas dari 25 truk per hari menjadi hanya lima.
Tak hanya itu, dapur umum juga menghadapi tekanan untuk membeli bahan baku dari dalam wilayah Palestina terjajah, setelah sebelumnya pasokan datang melalui kiriman dari Mesir.
Perubahan jalur ini dinilai mengubah karakter bantuan kemanusiaan sekaligus menaikkan biaya operasional.
GMO memperingatkan, jika pembatasan arus bantuan terus berlanjut, Gaza berpotensi memasuki fase krisis kemanusiaan yang lebih dalam.
Mereka menegaskan, tanggung jawab mencegah situasi itu berada di pihak yang membatasi pasokan bantuan.
Pada saat yang sama, para jurnalis diminta meliput isu ini secara profesional dan berimbang, menonjolkan dimensi kemanusiaan tanpa melebih-lebihkan atau memicu kepanikan publik.
Hidangan Bukan Sekadar Santapan
Di sebuah tenda pengungsian di barat Kota Gaza, Umm Muhammad Miqdad (42), ibu lima anak, menahan suara ketika bercerita.
“Makanan yang datang setiap hari itu bukan sekadar santapan,” katanya. “Itu tanda bahwa masih ada yang memikirkan kami. Kalau makanan itu datang, saya tahu anak-anak saya bisa tidur tanpa menangis karena lapar.”
Suaminya kehilangan pekerjaan sejak pecahnya agresi genosida penjajah. Mereka tak lagi punya pemasukan. Harga-harga melambung tinggi. Kalaupun barang tersedia di pasar, mereka tak mampu membeli.
“Kalau dapur itu berhenti, apa yang harus kami lakukan? Kembali membagi satu roti untuk lima anak?” ujarnya pelan. “Lapar itu dimulai dari pikiran, sebelum sampai ke perut. Ia mulai dari rasa takut akan hari esok.”
Menghitung Pekan dari Jumlah Porsi Makan
Di utara Jalur Gaza, Abu Alaa Al Deeb (55), ayah tujuh anak, mengaku keluarganya bergantung hampir sepenuhnya pada makanan dari WCK.
“Kami menghitung minggu dari jumlah porsi. Tujuh porsi berarti kami bisa bertahan,” katanya. “Kalau satu hari tidak ada, kami terpaksa berutang di warung tetangga. Kalau berhenti total, kami akan masuk lingkaran utang dan kelaparan.”
Pasar memang masih ada, tetapi harga di luar jangkauan. “Satu karung tepung jadi beban. Minyak goreng seperti mimpi. Makanan siap saji itu menutup celah besar. Sekarang kami tidak tahu bagaimana menutupnya.”
Kekhawatiran untuk Anak-Anak
Di Khan Yunis, Hanaa Abu Nasr (29), ibu seorang bayi perempuan, memikirkan hal lain: tumbuh kembang anaknya.
“Anak saya butuh gizi seimbang. Kadang dalam porsi itu ada sayur atau protein. Itu penting untuk pertumbuhannya,” katanya. “Kalau distribusi berhenti, kami akan kembali hanya ke nasi dan roti—itu pun kalau ada.”
Ia menatap putrinya yang masih digendong. “Saya khawatir anak-anak kami tumbuh dengan berpikir bahwa menunggu makanan bantuan adalah keadaan yang normal,” ujarnya. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
