Kunjungan Muslim ke Yerusalem Hanya Akan Menguntungkan Penjajah Zionis

29 April 2012, 15:04.

JAKARTA, Ahad (Sahabatalaqsha.com): Kunjungan umat Muslim ke Yerusalem dianggap sebagai bentuk ketidaktahuan, pengkhianatan atau gabungan dari keduanya. Hal ini dinyatakan oleh seorang jurnalis Palestina, Khalid Amayreh.

Ia juga menyebutkan, pernyataan yang dilontarkan oleh beberapa pejabat otoritas Palestina (PA) terkait bolehnya seorang Muslim mengunjungi Yerusalem adalah bukti kurangnya pengetahuan Islam mereka. ‘Lucunya’, mereka bersikap seolah-olah mereka adalah ulama top yang telah mengadaptasi tradisi Abu Hanifa, Imam Malik, al-Syafii atau Ahmad Ibnu Hanbal, padahal mereka tidak bisa membaca barang satu atau dua ayat dari Al-Quran.

Mereka adalah para penipu sombong yang dengan berani memfitnah Syekh Yusuf al-Qaradhawi yang tidak diragukan lagi merupakan salah satu ulama terkemuka di dunia dan berpendidikan saat ini. Argumen yang disampaikan oleh para ulama palsu yang juga merupakan para politisi gagal ini menunjukkan kendangkalan yang sangat mencolok.

Seperti diketahui, ulama terhormat, Syekh Yusuf Al-Qaradhawi telah mengharamkan umat Islam berkunjung ke Yerusalem (Al-Quds) yang saat ini masih menjadi wilayah jajahan ‘Israel’. Pernyataan ulama asal Mesir yang tinggal di Qatar itu dikeluarkan menyusul kontroversi kunjungan Mufti Mesir, Ali Jamaah, ke Al-Quds baru-baru ini.

Qaradhawi mengecam kunjungan itu dan menyebutnya sebagai haram dan melanggar hukum. Ia juga menilai, kunjungan itu merupakan ‘bagian dari normalisasi hubungan dengan ‘Israel’ dan pendudukan militer Zionis’ terhadap kota suci umat Islam tersebut. “Ada kesepakatan bersama antara Muslim dan Kristen bahwa mengunjungi Al-Quds akan tetap dilarang, selama ‘Israel’ terus menduduki dan mencoba menguasainya,” tegas Syaikh Qaradhawi yang kini menjabat Presiden Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS).

Beberapa hari lalu, Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan bahwa kunjungan petinggi negara Arab ke Yerusalem untuk berdoa di kota suci ketiga umat Islam itu jangan dianggap sebagai bentuk pengakuan kedaulatan ‘Israel’. Menurutnya, pemikiran beberapa ulama ternama yang mengharamkan datang ke Yerusalem selama masih diduduki ‘Israel’ adalah hal keliru.

Khalid Amayreh mengatakan, otoritas Palestina terus mengoceh tentang ‘bukti dalam Quran’, seakan-akan Syeikh Qaradhawi tidak tahu bahwa mengunjungi Yerusalem dan berdoa di masjid suci al-Aqsha dalam kondisi yang tidak normal, bukan saja diizinkan tetapi juga terpuji.

Sayangnya, orang-orang munafik ini menolak untuk mengerti. Yang mereka inginkan hanyalah memancing di air keruh. Mereka juga ingin membuat orang-orang bingung dan menciptakan perpecahan di antara umat Muslim yang pada akhirnya akan menguntungkan ‘Israel’—penjajah Yerusalem.

Dan mengapa ‘ulama-ulama’ itu mengabaikan fakta bahwa Yerusalem saat ini berada di bawah jajahan Zionis? Apakah mereka ingin umat Muslim datang ke Yerusalem untuk mendengar erangan kesakitan dari seseorang yang diperkosa berulang kali oleh para penjajah biadab ini?

Lebih penting lagi, apakah ada jaminan kaum Muslim yang datang dari berbagai negara tidak akan terpengaruh oleh propaganda beracun Zionis tentang ‘kebebasan beragama di Yerusalem’ sementara rakyat Palestina sendiri yang tinggal hanya beberapa kilometer dari Yerusalem tidak diizinkan untuk berdoa di dalam masjid al-Aqsha?

Dan apa gunanya mengizinkan seorang Muslim dari Jakarta, Indonesia yang mungkin telah menempuh jarak enam ribu mil datang ke Yerusalem sedangkan kota itu tertutup bagi kaum Muslim dan Kristen yang tinggal hanya enam ratus meter dari kota itu?

Kunjungan sesekali ke Yerusalem, khususnya bagi Muslim ‘polos’ yang tidak menaruh kecurigaan akan menumbuhkan pemahaman yang salah dalam benak mereka tentang situasi di Yerusalem. Mereka mungkin akan berpikir bahwa situasi di Al-Quds ternyata tidak sepenuhnya buruk. Kunjungan singkat ke Yerusalem tidak akan membuat para pengunjung mengetahui kebobrokan sesungguhnya penjajah Zionis.

Mereka tidak akan menyaksikan rumah-rumah yang dihancurkan, pencurian dan penyitaan rumah serta properti milik orang-orang Arab. Mereka tidak akan melihat jaringan terowongan yang dibuat penjajah Zionis selama 45 tahun terakhir ini untuk menghancurkan fondasi dari masjid al-Aqsha. Intinya, mereka tidak akan melihat kejahatan sesungguhnya Zionis, seperti yang diinginkan ‘Israel’.

Ya, kunjungan turis Muslim ke Yerusalem mungkin memang akan menambah pemasukan warga Palestina dengan makan di restoran di Yerusalem Timur atau menginap di salah satu hotel di sana. Tetapi di luar itu, apa yang bisa mereka lakukan untuk membebaskan kota ini dari belenggu Zionis?

Yerusalem tidak memerlukan kunjungan para turis atau pelayat yang akan menangisi hilangnya kota ini. “Kami tidak membutuhkan doa-doa, permohonan dan keluhan dari para turis yang tidak berdaya ini karena kami pun dapat melakukannya tanpa mereka,” tulis Khalid Amayreh.

Yerusalem membutuhkan orang-orang yang bersikap proaktif dan aksi nyata untuk membebaskannya dari penjajah Zionis. Dan tugas penting ini tidak bisa dilakukan dengan membawa para turis menyaksikan rakyat Palestina dilecehkan dan diperkosa oleh penjajah Zionis yang tidak menganggap orang-orang nonYahudi sebagai manusia.

Saat ini, sebagian besar negara-negara Muslim tidak memiliki hubungan diplomatik dengan ‘Israel’. Tetapi, dengan mengizinkan para turis dari negara-negara itu mengunjungi Yerusalem sama artinya dengan membuat normalisasi de facto di antara negara-negara itu dengan ‘Israel’. Apakah ini yang diinginkan oleh otoritas Palestina? (MR/Sahabat al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Empat Orang Terluka Saat Berunjuk Rasa Mendukung Tahanan Palestina
Sejak Kecil, Anak-Anak ‘Israel’ Dicekoki Kebencian Terhadap Orang NonYahudi »