LAPORAN KHUSUS: Dari Seorang Relawan Kepada Ibu-ibu Indonesia

18 February 2018, 21:09.
Rahaf (6), selalu tersenyum, tak sedikit pun mengeluh sakit saat lukanya diobati. Foto: Sahabat Al-Aqsha

Rahaf (6), selalu tersenyum, tak sedikit pun mengeluh sakit saat lukanya diobati. Foto: Sahabat Al-Aqsha

ISTANBUL, Ahad (Sahabat Al-Aqsha):

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Assalaamu’alaykumwa rahmatullaahi wa barakaatuh

Dear Bunda,

Semoga e-mail ini menemui Bunda dalam keadaan terbaik. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Bunda,

Kutulis surat ini pada sebuah hari yang sangat dingin dan basah, serta berangin kencang di Istanbul. Kutulis surat ini sebagai pertanggungjawaban atas amanahmu menjadikan aku mata dan telingamu, hatimu, tangan dan kakimu demi mengantarkan sebagian harta yang kau infakkan di jalan Allah bagi keluarga kita yang terusir dari Suriah dan kini mencari kehidupan di Turki.

Bunda,

Baru saja kutinggalkan kediaman seorang perempuan Suriah dari Damaskus –kusebut dia Ummu Muhammad– yang selama tiga tahun terakhir ini mengurusi entah berapa ratus kasus “darurat” yang menimpa para wanita dan anak-anak pengungsi Suriah di Turki. Kepadanya kuserahkan sejumlah dana titipanmu Bunda, termasuk untuk memotong kambing yang akan dimakan bersama para wanita pengungsi dan anak-anak mereka, untuk membeli pakaian musim dingin, dan untuk membeli topi khusus bagi seorang ibu yang tiba-tiba saja semua rambutnya rontok habis karena stres luar biasa akibat perang.

“Saya perempuan botak. Saya malu kepada suami saya,” kata wanita itu lirih. Kedengaran sepele, mungkin, tapi sebuah bencana besar baginya. Topi cantik –semoga membangkitkan kembali kepercayaan diri dan semangatnya– kubayarkan dengan dana titipanmu, Bunda. Semoga Allah  mengaruniaimu nanti mahkota yang indah di Surga.

Ummu Muhammad sendiri seorang janda –suaminya dibunuh rezim Bashar Al-Assad– dengan dua anak perempuan. Seorang anaknya sudah menikah, dan dia tinggal bersama si bungsu di rumah sewa yang seolah menjadi markaz bagi entah berapa banyak pengungsi yang mencari pertolongan saat baru saja ‘mendarat’ di Istanbul dari berbagai sudut negeri Suriah. Saat kumasuk, kulihat tergeletak di lantai sekitar sepuluh tas plastik berisi pakaian-pakaian dingin sumbangan seseorang. Ummu Muhammad menuntunku ke sebuah freezer dan memperlihatkan isinya: berbungkus-bungkus daging beku. “Ini juga sedekah, pada waktunya akan dibagikan.”

Dari seorang ibu rumah tangga yang selalu mendukung aktivitas almarhum suaminya bahkan ketika kemudian berhadap-hadapan dengan rezim Syiah Bashar al-Assad, kini Ummu Muhammad berkembang menjadi “departemen sosial” sendirian.

Ummu Muhammad tak punya yayasan. Modalnya bekerja adalah kepercayaan orang untuk menitipkan infak dan sedekah. Namanya tak pernah muncul di media, tapi rakyat Suriah yang terdampar di Istanbul tahu siapa dia dan apa yang dapat dilakukannya, lewat jaringan bisik-bisik sesama pengungsi. Kini Ummu Muhammad mengelola tujuh buah rumah yang disewanya dengan dana hasil infak dan sedekah dari berbagai pihak untuk menjadi tempat berlindung sedikitnya 80 wanita pengungsi Suriah. Tak sedikit dari wanita itu yang mengungsi bersama anak-anak mereka.

Lana (bukan nama sebenarnya), misalnya. Wanita berusia 32 tahun ini ditangkap tentara rezim Assad di Damaskus dengan tuduhan membantu mereka yang ingin  merdeka –hanya karena dia pernah menyebut kata “hurr” (merdeka) dalam sebuah kerumunan manusia. Cantik sebagaimana banyak wanita Syam lainnya, Lana heran sebab dia masih hidup sesudah dua tahun lamanya disekap di sebuah ruang bawah tanah tanpa pernah diizinkan melihat sinar matahari sekali pun. Tentara dan kakitangan rezim Assad menyiksanya setiap hari dengan berbagai cara: disetrum, ditendang, dipukuli dengan tangan maupun dengan tambang silikon, dan entah apa lagi.

Tiba-tiba saja, sesudah dua tahun, dia dikeluarkan dari tahanan tanpa penjelasan apa pun. Didapatinya suaminya telah menikah lagi, menceraikannya, dan mengambil kedua anak mereka. Maka, Lana mencari berbagai cara untuk meninggalkan Suriah, menumpang sana-sini, sampai pada suatu malam dia menemukan dirinya sudah mencapai Istanbul, terduduk kelelahan dan kelaparan di emperan sebuah toko kawasan Fatih. Lana tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Tak ada uang tersisa. Tak ada pakaian selain yang melekat di tubuhnya.

“Seorang laki-laki berlalu di depan saya dan mengulurkan sebuah koin satu lira. Tangis saya pecah,” tutur Lana.

Beberapa orang Suriah, sesama pengungsi yang sudah lebih dulu tiba, menyapanya dan akhirnya mengantarkan Lana ke rumah Ummu Muhammad. Ketika kutemui, Lana sudah tinggal selama enam bulan di salah satu rumah yang disewa Ummu Muhammad itu. Makannya, pakaiannya, uang sakunya, semua disediakan oleh Ummu Muhammad.

Lana sudah tak betah hidup dalam penampungan. Ia merasa tak berguna dan menjadi beban bagi Ummu Muhammad. Yang paling diinginkannya adalah menemukan pekerjaan dan hidup mandiri. Namun, mencari pekerjaan di kota sesibuk dan semahal Istanbul sungguh sulit. Lana harus bersaing dengan banyak orang lain yang mau menerima upah sangat murah untuk pekerjaan yang berat. Seperti Naimah dari Damaskus; pemilik gelar master pertanian yang almarhum ayahnya adalah pemilik tiga toko emas itu kini bekerja sebagai petugas kebersihan sebuah hotel tak jauh dari Masjid Al-Fatih.

Karena sulitnya mencari kehidupan sendiri itulah kini Lana pun sepakat dengan Ummu Muhammad bahwa jalan keluar baginya adalah menikah. Ummu Muhammad bilang kepadaku bahwa dia sedang mencarikan jodoh bagi Lana.

“Selama tiga tahun saya di Istanbul ini saya sudah mencarikan dan menikahkan 140 pasang pengantin,” ujar Ummu Muhammad. Biasanya beberapa tokoh atau pemimpin pengungsi Suriah di Turki akan menghubungi Ummu Muhammad kalau mereka menemukan lelaki lajang yang ingin menikah, dan Ummu Muhammad akan mengatur pertemuan dengan wanita lajang pengungsi seperti Lana. Sebuah ikhtiar yang mulia, menurutku, tapi juga rentan dengan kemungkinan kejahatan.

Bunda yang kucintai karena Allah,

Perjalanan membawa amanahmu ini membawaku dalam sebuah perjalanan menuju kerendah-hatian. Aku sadar bahwa dana yang Bunda titipkan ini tentulah hartamu yang terbaik –semoga Allah menggantinya dengan Surga– namun juga bagaikan setetes air tawar di lautan asin. Sekitar 3,42 juta orang Suriah kini mengungsi di berbagai kamp, kampung dan kota di Turki. Sebagian kecil mampu beradaptasi dan hidup lebih baik daripada saat mereka dalam keadaan terteror bom dan siksaan rezim di Suriah, namun lebih banyak lagi bagaikan daun kering yang setiap saat dapat terlepas dari pohonnya dan jatuh melayang terinjak kehidupan.

Namun, aku juga sadar bahwa lautan ujian dari Allah ini sungguh sangat besar dan hanya Allah yang dapat menyelesaikannya. Aku tahu diri. Aku hanya berharap bahwa Allah akan menjadikan dari tetesan air ini gelombang kebaikan bagimu dan semua yang menerimanya.

Termasuk dari penerimanya itu adalah Ummu Malik, seorang wanita bertubuh ringkih dari Ghouta Gharbiyya. Senyumnya malu-malu saat menyalamiku dan menyuguhkan teh panas bagiku. Senyum yang berubah menjadi tangis berderai-derai dalam pelukanku. Putra tunggalnya, Malik, baru berusia 7-8 tahun, tewas oleh tembakan sniper rezim. Suaminya sudah pula tewas. Kini Ummu Malik sekadar bertahan hidup di rumah penampungan yang disediakan oleh Ummu Muhammad.

Saat kupeluk tubuh ringkih Ummu Malik, kusampaikan kepadanya pelukan dan salam darimu, Bunda. Aku mewakili kasih sayangmu bagi saudarimu dari Bumi Syam yang diberkahi Allah itu.

Termasuk penerima titipan amanahmu itu, Bunda yang shalihah, adalah Ummu Mu’adz yang putranya, Mu’adz, 9 tahun, tewas dengan tubuh berkeping-keping saat menginjak ranjau yang ditanam rezim tak jauh dari kampungnya.

Juga gembira menerima sedekahmu adalah Hiba, seorang gadis cantik montok berkulit putih berusia 16 tahun dari Idlib. Hiba kehilangan satu kakinya dalam serangan udara oleh rezim Assad dan pasukan Russia. Dia dibawa ke Turki untuk berobat dan mendapatkan kaki palsu; sekarang dia sudah merasa cukup kuat dan sehat untuk kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya hampir tak pernah berhenti diserang oleh rezim Assad dan pasukan Rusia. Sedekah darimu, Bunda, dipakainya untuk membayar biaya perjalanannya dan untuk sekadar makan minum dalam perjalanan. Semoga Allah beri Bunda kendaraan ke Surga.

Yang juga menerima titipanmu, Bunda, adalah Buthaina Ummu Mus’ab. Suaminya tewas disiksa oleh tentara Assad di Damaskus, di sebuah tempat tahanan yang tak jauh dari kediaman kepresidenan. Buthaina tak pernah melihat jenazah suaminya sebab rezim Assad mencemplungkannya ke dalam penjara massal. Peninggalan bagi Ummu Mus’ab hanyalah pakaian suaminya yang bernoda darah. Buthaina dengan ketiga anaknya, Rahmah, Mus’ab dan Ahmad, bertahan hidup dengan menadahkan tangannya kepada Ummu Muhammad yang menyediakan untuknya tempat tinggal, makanan dan pakaian. Dana darimu, Bunda, kupakai untuk membelikan baju musim dingin bagi anak-anak Buthaina.

Gadis cilik lucu ini sepertinya sebaya dengan anak Bunda, ya? Namanya Rahaf. Usianya enam tahun. Kakinya patah berkeping dalam sebuah kecelakaan mobil saat ayah ibunya membawanya mengungsi ke Azzaz. Usaha berobat di rumah sakit terdekat malahan menyebabkan kondisinya memburuk. Beberapa relawan yang bekerja di Azzaz mengurus perjalanan Rahaf dan ibunya ke Turki untuk berobat, dengan meninggalkan dua saudaranya di pengungsian. Alhamdulillah, kondisi Rahaf membaik sesudah operasi dan kini dia menunggu kesembuhan sambil berteduh di salah satu rumah penampungan Ummu Muhammad.

Saat kupeluk dan kucium Rahaf itu, Bunda, kusampaikan salam dan kasih sayang, serta doamu.

Aku tak sempat bertemu dengan masing-masing dari 80 wanita yang ditampung Ummu Muhammad itu, Bunda, tapi sebelum aku meninggalkan Istanbul untuk menjalankan amanah-amanah lain, untuk mereka kutitipkan berbagai hadiah dan bantuan darimu. Semoga menjadikan hiburan bagi hati mereka.

Bunda yang kumuliakan karena Allah, semoga Allah memuliakan hartamu dan suamimu dengan infak di jalanNya tanpa henti sampai Allah izinkan semua sedekah dan infakmu ini membersihkan dosa-dosamu sebagaimana air menghapus api.

Assalaamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Relawati

INFAQ SURIAH:

Bank Syariah Mandiri

No. Rek 77 55 12345 7

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan

BNI SYARIAH

No. Rek 77 55 12345 6

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan (Suriah)

Terima kasih sweater-nya, Bunda... Foto: Sahabat Al-Aqsha

Terima kasih sweater-nya, Bunda… Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina - Laporan Khusus 2017 Februari - Suriah

« LAPORAN KHUSUS: Bila Rusak Anak Suriah, Rusaklah Ummat Manusia
LAPORAN KHUSUS: Naimah Berjuang Sendiri di Istanbul, Ananda dan Ibu di Denmark, Ayah Syahid di Aleppo… »