LAPORAN KHUSUS: Lana dan Batul Berjuang Memeluk Al-Quran di Istanbul

18 February 2018, 21:28.
Camii Al-Fatih, Istanbul, Turki. Foto: Sahabat Al-Aqsha

Camii Al-Fatih, Istanbul, Turki. Foto: Sahabat Al-Aqsha

ISTANBUL, Ahad (Sahabat Al-Aqsha): LANA, 13 tahun, berdiri melawan beku di depan pintu masuk Camii Al-Fatih, persis di tangga taman dan air mancur yang indah di masjid bersejarah itu. Angin dingin bulan Desember berhembus kencang menyebabkan pipi Lana semakin merah. Gadis mungil pengungsi Suriah berpakaian dan berhijab hitam khas wanita Turki ini sudah tiba di masjid sejak sebelum Subuh. Bersama kakaknya yang bernama Batul, 16 tahun, yang juga sama cantik dan sama pula cara berpakaiannya, Lana shalat berjamaah lalu bersicepat keluar dan berdiri di sudut luar salah satu pintu masuk masjid.

Lana tidak mengemis. Bersama kakaknya, Lana berjualan mencari nafkah. Di tangannya tergenggam beberapa pasang kaus kaki dalam plastik. Jamaah masjid yang mungkin kehabisan kaus kakilah yang menjadi pembeli utama barang dagangan Lana. Sekitar 20 meter jauhnya dari Lana, ayah Lana berdiri mengawasi anak-anaknya. Abu Muhammad pun berdagang kaus kaki dan tasbih. Demikian pula adik Lana yang berusia tujuh tahun, Muhammad Anas, yang berjualan tasbih.

“Sehabis berjualan di pagi hari, apa kerjamu Lana?”

“Aku belajar Al-Quran. Di sebuah tempat kursus.”

“Sudah berapa banyak Al-Quran yang kau hafal?”

“Alhamdulillah sudah 15 juz.”

Penampilan Lana dan Batul rapi dan bersih terawat. Berbeda dengan anak-anak Suriah yang menghabiskan waktu berjam-jam di jalan-jalan kawasan Fatih mengemis. Berbeda pula dengan banyak anak pengungsi Suriah lainnya, Lana beruntung dapat kesempatan belajar dan menghafal Al-Quran. Namun, kesempatan ini diperolehnya sesudah perjuangan berat kedua ayah ibunya mencarikan pendidikan yang terbaik bagi kedua gadis ini. Sebab, selain makan dan tempat tinggal yang layak, kebutuhan penting para pengungsi Suriah lainnya adalah pendidikan bagi anak-anak mereka.

Ini disadari sepenuhnya oleh ayah dan ibu Lana. Ayah Lana berhijrah meninggalkan kampung mereka, Babila, di pinggiran Damaskus, tak lama sesudah pecah perang Suriah – meninggalkan puing-puing toko dan usaha konveksi yang susah payah dibangunnya selama bertahun-tahun sampai kemudian dihancurkan oleh serangan udara rezim Bashar al-Assad. Pertama kali menjejakkan kaki di Istanbul, Abu Muhammad menuju sebuah kawasan pekerja yang berbiaya hidup lebih rendah, Bagcilar. Sebulan kemudian Ummu Muhammad membawa Batul, Lana, Muhammad dan Jumman menyusul.

Sulit mencari pekerjaan. Lebih sulit lagi mencari pendidikan yang baik untuk anak-anak mereka. Maka, keluarga Muhammad memutuskan untuk pindah ke kawasan Fatih yang lebih banyak ditempati oleh Muhajirin Suriah. Dengan berjualan kaus kaki dan tasbih dan bekerja serabutan lainnya, Abu Muhammad dapat membayar kontrakan mungil dengan tiga kamar – masing-masing berukuran 2 x 2,5 meter. Lana dan Batul kemudian dimasukkan ke sebuah sekolah Turki. Tak lama. Hanya satu tahun mereka belajar, Ummu Muhammad memutuskan mengeluarkan mereka.

Kenapa? “Sebab kami khawatir anak-anak kami berubah menjadi anak-anak Turki yang lebih bebas pergaulannya dan merokok pula,” ujar Ummu Muhammad. Karena itulah, Lana dan Batul kemudian dimasukkan ke sebuah kursus membaca dan menghafal Al-Quran yang didirikan sebuah yayasan Turki yang dipimpin seorang syaikh setempat. Ada 30 anak dan gadis remaja belajar di kursus tersebut, dan hanya Lana dan Batul yang merupakan Muhajirin Suriah – semua teman mereka adalah gadis Turki penduduk Istanbul.

Al-Quran dan Anak-anak Suriah

Sebelum pecah perang, pemerintahan keluarga Al-Assad sekuler dan sosialis, dan para pemuda yang mengikuti wajib militer akan dihukum sangat keras bila kedapatan shalat. Akan tetapi, keluarga-keluarga Muslim menjadikan Al-Quran sebagai bagian tak terpisahkan dalam pendidikan anak-anak mereka. Mengaji dan menghafal Al-Quran adalah tradisi kehidupan anak-anak di negeri para Nabi dan ulama ini.

Sebelum pecah perang, lebih mudah menemukan masjid yang menyelenggarakan program hifzhul Quran daripada yang tidak. Turis yang datang ke masjid untuk shalat kemungkinan besar akan segera ditawari untuk saat itu juga belajar membaca Quran. Balita-balita didorong dengan strollers ikut dengan ibu dan kakak mereka untuk belajar Quran dan Hadits, dan dengan demikian tanpa disengaja ikut menghafal sejak masih kecil. Para syaikh dan syaikhah terkemuka secara teratur mengadakan berbagai dirasah di masjid-masjid yang diikuti orang dari berbagai latar belakang – mulai dari pelajar, dokter sampai petani dan sopir taksi.

Al-Quran adalah darah dan daging Muslimin di Bumi Syam, seperti Suriah dan Palestina.

Ketika perang pecah dan sekolah-sekolah hancur, buku dan Al-Quran rusak, maka sejumlah guru dan orangtua berjuang mempertahankan hafalan Quran anak-anak mereka bahkan tanpa kitab. Beruntung ada lembaga seperti Persatuan Ulama Syam yang tanpa putus bekerja keras memastikan anak-anak Suriah di pengungsian dapat terus belajar Al-Quran lewat berbagai halaqah.

Salah satu anak itu adalah Abdullah Ad-Darwish, 12 tahun, yang menyelesaikan hafalan Al-Qurannya di tenda pengungsian di Sanliurfa, perbatasan Turki dalam waktu kurang dari setahun. Ayahnya sendiri yang memulai proses hifzhul Quran ini dan mengajarinya dengan cara membacakan beberapa ayat, Abdullah lalu mengulangi berulang kali sampai benar.

Abdullah berasal dari keluarga ulama di sebuah kampung di Deir Zour yang terpaksa mengungsi ke Turki. Kakek Abdullah, Ali Ad-Darwish, adalah guru Al-Quran. Pamannya, Duham Ali Ad-Darwish, juga penghafal Quran yang merasakan penjara rezim Suriah selama 17 tahun.

Ayah Abdullah, Hakim Ad-Darwish, bersama ibu Abdullah menyatakan bahwa mereka akan berjuang terus demi menolong Abdullah mengikuti jejak pamannya, yaitu menghafalkan, mentadabburi Al-Quran, dan menjadi bagian dari generasi terbaik, yaitu para penghafal Al-Quran – meski di pengungsian.

Segera sesudah tiba di pengungsian, Abdullah mulai belajar dasar-dasar pengucapan dan pengejaan Bahasa Arab dan Al-Quran selama tiga bulan dengan metode Ar-Rasyidi. Sesudah itu mulailah Abdullah belajar di halaqah Al-Quran di dekat tenda keluarganya. Lalu, di Ma’had berasrama yang dibina oleh pamannya sendiri, Abdullah mulai ngebut belajar dan menghafalkan 3-5 halaman per hari hingga ia mengkhatamkan hafalan 30 juz pada 1 Maret 2016.* (Sahabat Al-Aqsha)

 

INFAQ SURIAH:

Bank Syariah Mandiri

No. Rek 77 55 12345 7

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan

BNI SYARIAH

No. Rek 77 55 12345 6

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan (Suriah)

 

 

 

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina - Laporan Khusus 2017 Februari - Suriah

« LAPORAN KHUSUS: Naimah Berjuang Sendiri di Istanbul, Ananda dan Ibu di Denmark, Ayah Syahid di Aleppo…
LAPORAN KHUSUS: ‘Suriah Kecil’ di Istanbul, ‘Rumah’ Bagi Setengah Juta Muhajirin Suriah »