LAPORAN KHUSUS: Perjuangan Anak Muhajirin Suriah Menghafal Al-Qur’an

19 February 2018, 16:12.
Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

ISTANBUL, Senin (Sahabat Al-Aqsha): Konflik yang berlangsung di Suriah hingga saat ini telah menghasilkan begitu banyak kehancuran dan kezhaliman. Muslimin di sana kehilangan rumah, keluarga, dan hidup di bawah penindasan. Banyak di antara mereka adalah anak-anak. Mereka tewas, cacat seumur hidup, maupun terusir dari rumah mereka, serta mengalami trauma berat. Padahal, di antara mereka adalah para penghafal Al-Qur’an yang harus bertaruh nyawa hanya untuk menghafal ayat demi ayat yang mulia ini.

Meski serba kekurangan dan dalam ancaman kelaparan, anak-anak Muhajirin Suriah tetap memiliki ghirah (keinginan yang kuat) menghafal Al-Qur’an. Kesulitan hidup di pengungsian tidak menghentikan mereka untuk menyambut gembira Kalamullah ‘Azza wa Jalla, baik dengan cara memperbaiki bacaan agar sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam maupun dengan cara menghafalkannya.

Orangtua dan keluarga mereka pun terus menyemangati dan mendorong mereka agar terus belajar dan menghafalkan Kalam-Nya, meski di kamp-kamp sempit dan terpencil.

Terusir dari negerinya, Muhajirin Suriah mengadu nasib di negara orang demi menyelamatkan nyawa mereka. Ada yang mengungsi ke Lebanon, Turki, Yordania dan berbagai belahan dunia lainnya.

Dengan izin Allah, hingga saat ini terdapat ratusan halaqah dan pusat belajar Al-Qur’an yang tersebar di berbagai negara, baik di dalam Suriah maupun Lebanon. Salah satunya ada di kamp Za’tari yang didirikan dengan bantuan Yayasan Al-Khayriyyah Qatar, Turki, dan pada beberapa kota yang ada di Turki, seperti di Masjid Ahlul Atsar Raihaniyah, kamp Abaddin, kamp Mur’ish dan Sanliurfa yang berbatasan dengan Suriah.

Ada sekitar tiga titik halaqah Al-Qur’an di kamp dalam Suriah, 30 markaz tahfidz Al-Qur’an di Aleppo, tepi Aleppo dan tepi Idlib, serta 15 halaqah Al-Qur’an di kamp-kamp Muhajirin di Turki. Keseluruhan ada 80 markaz tahfidz Al-Qur’an dan 750 halaqah di Suriah-Turki.

Halaqah-halaqah Al-Qur’an tersebut dilaksanakan di tenda-tenda atau masjid sederhana yang didirikan di sekitar kamp. Jumlah anak yang belajar di dalamnya sekitar 41.659, dengan 1.659 guru.

Lajnah Tahfidz pada kamp-kamp Muhajirin tersebut menyediakan berbagai keperluan untuk anak-anak penghafal Al-Qur’an, yakni Al-Qur’an, mushaf per juz (juz ‘amma dan juz 29), buku belajar membaca dan menulis, buku tulis, gaji guru per bulan, serta mukafa’ah untuk anak-anak demi menggembirakan hati dan penyemangat bagi mereka. Kepada mereka juga diajarkan tajwid, adab para penghafal Al-Qur’an, sirah, tafsir, fiqh, hadits, penanaman tarbiyyah Islam dan ilmu agama lainnya.

Metode yang diajarkan adalah mempelajari terlebih dahulu makhaarijul huruf (tempat keluarnya huruf) dengan benar, barulah mulai menghafal dari juz ‘amma, pindah ke juz 29, lalu dilanjutkan ke juz-juz setelahnya.

Pada April 2014, Persatuan Ulama Suriah membentuk program yang dinamakan ‘’Halaqaat Mahir bil Qur’an’’ dan telah dilaksanakan di beberapa kamp Muhajirin Suriah di Turki. Program ini bertujuan untuk menghasilkan  anak-anak cerdas penghafal Al-Qur’an. Mereka dibimbing dan ditemani untuk menghafalkan Al-Qur’an hanya dalam satu tahun.

Syaikh Muhammad Qurmisy, pembina sejumlah halaqah Qur’an di beberapa titik kamp tersebut sekaligus anggota lajnah Persatuan Ulama Suriah, mengatakan sekitar 300 anak dari empat kamp (kamp Binar, Huran, Tal Abyadh, Killiz) datang untuk mendaftar dan meminta diuji agar bisa mengikuti program halaqah intensif menghafal Al-Qur’an. Lalu, terpilihlah sekitar 120 anak.

Para penghafal di kamp-kamp tersebut terdiri dari anak laki-laki dan perempuan usia tujuh hingga 18 tahun. Dengan halaqah-halaqah yang terpisah antara satu sama lainnya.

Mengenai metode belajar, Syaikh Muhammad Qirmisy mengatakan, setiap hari anak-anak akan menghafal tiga halaman, sebulan tiga juz, dan setiap bulan mereka akan diuji sesuai dengan hafalan baru dan lama, serta ketika mereka telah menyelesaikan 10 juz.

Adapun tugas harian mereka adalah belajar selama tiga jam, lalu mendapatkan PR untuk menghafal hafalan baru tiga halaman per hari, kemudian membaca hafalan yang lama minimal tiga juz per hari.

Setiap hari dapat disaksikan keberhasilan yang dicapai sejumlah peserta kamp-kamp hafalan Al-Qur’an. Sejak didirikannya halaqah Qur’an ini pada April 2014, sekitar 31 orang berhasil mencapai target hafal sebanyak 30 juz dalam kurun waktu satu tahun. Saat laporan ini disiapkan sudah dihasilkan tujuh hafidz dan 24 hafidzah.

Selain itu, 72 penghafal Al-Qur’an di daerah perbatasan Suriah, Sanliurfa, juga hafal Al-Qur’an dalam waktu yang bersamaan. Mereka juga menyelenggarakan perlombaan di kamp Tal Abyadh Turki, yang pemenangnya di antaranya adalah anak berusia sembilan sampai 24 tahun.

Abdullah Ad-Darwish, seorang anak Suriah yang usianya belum genap 12 tahun telah menyelesaikan hafalan Qur’an di tenda pengungsian di Turki dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Abdullah yang berasal dari kota Abul Hasan di tepi kota Deir Zour Suriah dari sebuah keluarga ulama yang shalih.

Kakeknya, Mulla ‘Ali Ad-Darwish, seorang pengajar Al-Qur’an. Pamannya, Duham ‘Ali Ad-Darwish, adalah hafidz sekaligus pengajar Al-Qur’an yang pernah dipenjara rezim Suriah selama 17 tahun.

Sebelum Abdullah mulai menghafalkan Al-Qur’an, ia terlebih dahulu belajar dasar-dasar pengucapan dan pengejaan bahasa Arab secara benar selama tiga bulan dengan metode yang dinamakan Ar-Rasyidi. Setelah selesai dari program tersebut, Abdullah pun mulai menghafalkan Al-Qur’an pada sebuah halaqah Al-Qur’an di dekat tenda keluarganya tinggal.

Selain menghafal ditemani bapaknya, orangtua Abdullah juga mendorongnya untuk tekun mengikuti halaqah Al-Qur’an dan belajar di sekolah. Bapaknya memasukkan Abdullah ke ma’had ber-asrama di Sanliurfa yang dibina oleh pamannya, Syaikh Duham ‘Ali. Di sana ia bisa menghafalkan tiga sampai lima halaman per hari menyelesaikan hafalan 30 juz pada 1 Maret 2016, dan telah diuji di hadapan beberapa syaikh.

Cara menghafal Abdullah adalah membaca Al-Qur’an di hadapan bapaknya setiap hari (talqin). Si bapak membacakan satu persatu ayat Al-Qur’an, kemudian Abdullah akan mengulang ayat yang ia dengar beberapa kali hingga hafal dan dengan bacaan yang tartil. Bapak Abdullah, Hakim Ad-Darwish, mengatakan bahwa ia dan istrinya memperjuangkan anaknya untuk mengikuti jejak pamannya agar dapat mentadabburi Al Qur’an, menghafalkannya, dan menjadi bagian dari orang-orang terbaik dari generasi kini yang mengikuti generasi terbaik terdahulu, yaitu para penghafal Al-Qur’an. Allahummarhamnaa bil Qur’an…* (Dari beberapa sumber | Sahabat Al-Aqsha)

 

INFAQ SURIAH:

Bank Syariah Mandiri

No. Rek 77 55 12345 7

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan

BNI SYARIAH

No. Rek 77 55 12345 6

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan (Suriah)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina - Laporan Khusus 2017 Februari - Suriah

« LAPORAN KHUSUS: Anak Suriah di Jalan-jalan Istanbul
LAPORAN KHUSUS: Muhajirin Anak Suriah dan Akses Pendidikan di Turki »