Ada Apa dengan Syaikh Jarrah? Menguak Jejak Panjang Kezhaliman Penjajah Zionis

7 May 2021, 19:09.
Warga Palestina dan asing unjuk rasa menentang penjajah zionis dan aktivitas permukiman ilegal di wilayah Palestina. Foto: Ahmad Gharabli/AFP

Warga Palestina dan asing unjuk rasa menentang penjajah zionis dan aktivitas permukiman ilegal di wilayah Palestina. Foto: Ahmad Gharabli/AFP

BAITUL MAQDIS (Aljazeera) – Puluhan warga Palestina di lingkungan Syaikh Jarrah, daerah timur Baitul Maqdis, sedang menghadapi ancaman penggusuran massal dalam waktu dekat.

Menurut mereka, langkah penjajah zionis ‘Israel’ ini merupakan rangkaian tahapan untuk menggusur paksa warga Palestina di lingkungan tersebut dan mengganti sepenuhnya dengan permukiman ilegal Yahudi.

“Pengadilan” penjajah memutuskan setidaknya enam keluarga harus mengosongkan rumah mereka di Lingkungan Syaikh Jarrah awal Mei, meskipun mereka sudah tinggal di sana selama beberapa generasi.

Keputusan dari “pengadilan” yang sama, tujuh keluarga lain juga harus meninggalkan rumah mereka sebelum 1 Agustus.

Secara keseluruhan, 58 orang, termasuk 17 anak-anak, akan digusur paksa untuk memberi jalan bagi pemukim ilegal Yahudi.

Pada tahun 1972, beberapa organisasi pemukim illegal Yahudi mengajukan gugatan terhadap keluarga Palestina yang tinggal di lingkungan Syaikh Jarrah.

Mereka menuding tanah tersebut awalnya adalah milik orang-orang Yahudi.

Komplotan organisasi ini, sebagian besar didanai oleh donor dari Amerika Serikat, telah mengobarkan pertempuran tanpa henti.

Akibatnya, 43 warga Palestina tergusur pada tahun 2002, juga keluarga Hanoun dan Ghawi pada tahun 2008, serta keluarga Shamasneh pada tahun 2017.

Kisah Karm al-Jaouni

Pada tahun 1956, 28 keluarga Palestina yang mengungsi dari rumah mereka di kota pesisir Yafa dan Haifa delapan tahun sebelumnya akhirnya menetap di daerah Karm al-Jaouni di Syaikh Jarrah.

Tepi Barat, termasuk daerah timur Baitul Maqdis, pada saat itu di bawah mandat Yordania, yang mencapai kesepakatan dengan Badan Pengungsi PBB (UNRWA) untuk membangun perumahan bagi keluarga Palestina.

Hasil kesepakatan menetapkan bahwa keluarga tersebut harus melepaskan status mereka sebagai pengungsi dengan imbalan akta tanah yang telah ditandatangani atas nama mereka setelah tiga tahun tinggal di daerah tersebut.

Namun semua itu berubah pada tahun 1967 ketika Yordania kehilangan mandatnya setelah daerah timur Baitul Maqdis dijajah oleh zionis.

Khalil Toufakji, seorang ahli pembuat peta (kartografer) Palestina di Baitul Maqdis, menyebutkan pada kantor berita Al Jazeera bahwa dia pergi ke Ankara pada tahun 2010, mencari arsip era Ottoman untuk sebuah dokumen yang membantah kepemilikan Yahudi atas Karm al Jaouni.

Dia menemukan akta tersebut dan menyerahkannya ke “pengadilan” penjajah, namun ditolak.

Setelah menggali lebih lanjut, penyelidikan Toufakji pada tahun 1968 menemukan bahwa badan legislatif negara palsu, Knesset, mengeluarkan keputusan yang ditandatangani oleh “Menteri Keuangan” negara palsu saat itu, yang menyatakan zionis terikat pada perjanjian Jordan-UNRWA.

Fakta ini telah diajukan ke “pengadilan tinggi” atas nama keluarga Palestina di lingkungan Syaikh Jarrah.

Namun, Toufakji pesimistis dan tidak percaya akan memenangkan keputusan di pengadilan dengan dokumen yang telah dikumpulkan.

Pasalnya, “pengadilan zionis”, hakim, juri, dan undang-undang semuanya lebih condong dan mendukung pemukim ilegal Yahudi.

Tanggapan Yordania

Kamis (29/4/2021), Kementerian Luar Negeri Yordania mengatakan telah menyerahkan 14 dokumen resmi terkait pembangunan perumahan di Lingkungan Syaikh Jarrah kepada Otoritas Palestina (PA).

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Kementerian Pembangunan telah menandatangani kesepakatan dengan UNRWA untuk membangun 28 unit rumah bagi keluarga Palestina.

Juru bicara kementerian, Daifallah al-Fayez, mengatakan bahwa Yordania berkomitmen untuk memberikan semua dukungan kepada warga Palestina yang tinggal di lingkungan Syaikh Jarrah.

Menurut dia, menjaga warga Palestina di Baitul Maqdis tetap berakar di tanah mereka adalah prinsip nasional dalam upaya Yordania untuk mendukung saudara-saudara Palestina.

Menurut Zakariah Odeh, Direktur Koalisi Sipil untuk Hak-hak Orang Palestina di Baitul Maqdis, Yordania harus mengerahkan lebih banyak upaya untuk melindungi situasi saat ini dan masa depan bagi keluarga Karm al-Jaouni.

Menurut dia, Yordania memiliki tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah yang terjadi, dengan orang-orang Palestina, melaksanakan perjanjian yang sudah disepakati.

Yordania merencanakan akan membangun 255 unit permukiman sebagai pengganti rumah warga Palestina. Hal itu dilakukan karena Yordania berutang kepada puluhan keluarga Palestina yang terancam diusir dari rumahnya dan harus ikut campur tangan pada tingkat politik dan diplomatis.

Strategi Penjajahan di Timur Baitul Maqdis

Perampasan zionis atas wilayah timur Baitul Maqdis tidak diakui oleh masyarakat internasional.

Proyek permukiman ilegal zionis, yang bertujuan untuk penguatan kendali penjajah atas kota tersebut, juga dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Sekira 200.000 warga zionis tinggal di timur Baitul Maqdis di bawah perlindungan serdadu, dengan kompleks perumahan tinggal terbesar telah menampung 44.000 pemukim ilegal Yahudi.

Menurut Odeh, Lingkungan Syaikh Jarrah hanyalah satu contoh dari apa yang terjadi di lingkungan Palestina di Baitul Maqdis terkait pemindahan paksa.

Tahun lalu adalah tingkat perluasan permukiman ilegal tertinggi di timur Baitul Maqdis; sekira 4.500 unit.

Pada tahun 2020, sekira 170 bangunan Palestina dihancurkan, termasuk 105 rumah, yang mengakibatkan 385 orang mengungsi.

Selain itu, menurut Toufakji, kebijakan penangkapan oleh zionis, penghancuran bangunan, penyitaan tanah, dan pemindahan paksa semuanya sesuai dengan rencana besar penjajah ‘Israel’.

Dengan alasan “keseimbangan demografis”, mereka membatasi populasi Palestina di kota hingga 30 persen atau kurang.

Ancaman Penggusuran Paksa

Odeh melanjutkan, rencana yang zionis lakukan sudah ada sejak tahun 1973, Ketika Perdana Menteri negara palsu ‘Israel’, Golda Meir, memberikan lampu hijau kepada Institusi Gavni.

Pada tahun 1990, Ariel Sharon, yang saat itu adalah menteri pembangunan perumahan – memulai rencana untuk membangun blok permukiman tepat di tengah lingkungan Palestina di Baitul Maqdis, untuk mengepung, memecah belah, dan membubarkan penduduk Palestina.

Semua kebijakan ini sejalan dengan rencana penjajah zionis yang disebut “Yerusalem Raya”, yang bertujuan untuk memutus daerah sekitar lingkungan Palestina di Timur Baitul Maqdis dari kota dengan pembatas pemisah dan mencaplok yang ada di sekitar permukiman Yahudi.

Akibatnya, sekira 140.000 orang Palestina di Baitul Maqdis tinggal di luar tembok pemisah, dan tidak dapat masuk ke kota.

Pada tahun lalu juga terdapat persetujuan untuk memperluas permukiman ilegal Yahudi yang ada di Timur Baitul Maqdis yang dijajah, seperti Givat Hamatos di tanah Beit Safafa dan permukiman (Har Homa) di Jabal Abu Ghneim di selatan dekat Beit Sahour.

Beberapa lingkungan Palestina di Timur Baitul Maqdis juga menghadapi ancaman pengungsian secara paksa.

Odeh mengatakan, Daerah al-Bustan di Silwan, yang berada di selatan kota tua, memiliki 119 keluarga di 88 bangunan yang berada di bawah ancaman pembongkaran membuka jalan untuk taman arkeologi zionis.

Di Wadi Yasul, 84 rumah juga berada di bawah ancaman pembongkaran untuk membuka jalan bagi perluasan taman nasional zionis.

Di Batan al-Hawa, 700 orang direncanakan untuk dipindahkan secara paksa karena kelompok pemukim ilegal Ateret Cohanim beralasan orang Yahudi dulu yang tinggal di sana.

Galang Dukungan Internasional

Februari lalu, Mohammed el-Kurd yang berusia 22 tahun, yang keluarganya terancam digusur, berhasil melakukan pendekatan pada 81 anggota parlemen Inggris, termasuk Jeremy Corbyn, untuk menandatangani surat mengenai situasi di lingkungan Syaikh Jarrah.

Pada bulan April, setidaknya 190 organisasi menulis surat kepada Jaksa Mahkamah Pidana Internasional (ICC), mendesak untuk menyelidiki pemindahan paksa keluarga yang akan segera terjadi di lingkungan Syaikh Jarrah sebagai bagian dari penyelidikan berkelanjutan atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina.

Beberapa pekan terakhir, tagar dalam bahasa Inggris dan Arab #SaveSheikhJarrah telah beredar di media sosial, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan menarik minat di tingkat akar rumput dan pejabat pada pengusiran yang akan datang.

Aktivis Palestina telah meminta para pemimpin internasional menekan zionis untuk mengakhiri apa yang mereka katakan sebagai “Nakba yang sedang berlangsung” di lingkungan Syaikh Jarrah. (Aljazeera)

Pemukim ilegal di lingkungan Syaikh Jarrah Palestina, mengejek para pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan di depan rumah mereka selama demonstrasi menentang pengusiran keluarga Palestina dari rumah mereka. Foto: Emmanuel Dunand/AFP

Pemukim ilegal di lingkungan Syaikh Jarrah Palestina, mengejek para pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan di depan rumah mereka selama demonstrasi menentang pengusiran keluarga Palestina dari rumah mereka. Foto: Emmanuel Dunand/AFP

Serdadu zionis berhadapan dengan seorang warga Palestina selama unjuk rasa menentang pembongkaran rumah Palestina oleh penjajah zionis di lingkungan Syaikh Jarrah. Foto: Mahmoud Illean/AP

Serdadu zionis berhadapan dengan seorang warga Palestina selama unjuk rasa menentang pembongkaran rumah Palestina oleh penjajah zionis di lingkungan Syaikh Jarrah. Foto: Mahmoud Illean/AP

Seorang pria ikut ambil bagian dalam acara peringatan Hari Tanah di lingkungan Syaikh Jarrah di timur Baitul Maqdis, dimana warga Palestina berada di bawah ancaman pengusiran dan penggusuran dari rumah mereka. Foto: Maya Alleruzzo/AP

Seorang pria ikut ambil bagian dalam acara peringatan Hari Tanah di lingkungan Syaikh Jarrah di timur Baitul Maqdis, dimana warga Palestina berada di bawah ancaman pengusiran dan penggusuran dari rumah mereka. Foto: Maya Alleruzzo/AP

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemuda Palestina Tewas Ditembak Serdadu Zionis di Selatan Nablus
Banjir Bandang Melanda Yaman, Keluarga Muhajirin Paling Terdampak »