Rusia Akui Telah Menguji 320 Jenis Senjata di Suriah

18 July 2021, 17:03.
Foto: Sasha Mordovets/Getty Images

Foto: Sasha Mordovets/Getty Images

SURIAH (Middle East Monitor) – Rezim Rusia mengakui telah menguji lebih dari 320 jenis senjata selama operasi mereka di Suriah.

Hal tersebut diungapkan Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, lapor Kantor Berita Rusia (TASS).

Dalam pertemuan dengan karyawan pabrik helikopter Rusia, Rostvertol, Shoigu mengakui rezim telah menguji lebih dari 320 jenis senjata yang berbeda, termasuk helikopter buatan Rostvertol.

“Salah satu helikopter yang kita lihat hari ini adalah hasil operasi Suriah. Sekarang kami memiliki senjata seperti itu, berkat operasi di Suriah,” kata Shoigu.

Penjualan senjata adalah bagian penting dari upaya Rusia untuk meningkatkan pengaruh geopolitiknya dari Timur Tengah hingga Afrika.

Pada 2019 dan 2018, Rusia menerima pesanan senjata masing-masing senilai $51,1 miliar dan $55 miliar dari negara-negara Timur Tengah, menurut Kepala Eksekutif Rostec, produsen raksasa senjata Rusia, Sergei Chemezov.

Timur Tengah telah menjadi pasar utama untuk penjualan senjata dalam dekade terakhir.

Impor senjata oleh negara-negara Timur Tengah meningkat 102 persen antara 2011-2015 dan 2017-2019, menurut data transfer senjata yang diterbitkan oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Pada bulan Juni, media Rusia mengklaim Irak tertarik untuk membeli sistem pertahanan rudal S-400 dan sistem pertahanan udara S-300, serta jet tempur Sukhoi Su-57 dari Rusia.

Pada 2019, Rusia dan Mesir menandatangani kesepakatan jual beli senjata senilai setidaknya $2 miliar, termasuk pembelian lebih dari 20 unit jet tempur Sukhoi Su-35 generasi 4++ (Flanker-E).

Terlepas dari peningkatan pembelian senjata Rusia, negara-negara Timur Tengah hanya mengimpor sepuluh persen senjata mereka dari Rusia. Sementara 54 persen berasal dari AS dan Prancis, catat SIPRI.

Intervensi Rusia di Suriah membuat konflik tersebut menguntungkan diktator Bashar Al-Assad.

Rezim Suriah mengungkapkan, serdadunya, sebelum intervensi militer Moskow, telah kepayahan dan menghadapi “situasi berbahaya” menghadapi “kelompok oposisi bersenjata”. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gerombolan Pemukim Serang Desa Burin, Lagi-lagi Dilindungi Serdadu Zionis
Enam Warga Sipil Suriah Tewas Akibat Gempuran Rezim Assad di Tenggara Idlib »