Sejumlah Organisasi dan Aktivis Rohingya Bersatu, Tuntut Hak Asasi di Myanmar

25 November 2022, 19:51.
Muhajirin Rohingya menghadiri peringatan tahun pertama serangan militer tahun 2017 di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhia pada 25 Agustus 2018 (AFP)

Muhajirin Rohingya menghadiri peringatan tahun pertama serangan militer tahun 2017 di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhia pada 25 Agustus 2018 (AFP)

(Irrawaddy.com) – Sejumlah organisasi dan aktivis Rohingya telah bersatu membentuk kelompok untuk menuntut hak asasi mereka di Myanmar.

Arakan Rohingya National Alliance (ARNA) menyerukan persatuan Rohingya dan mengatakan bahwa sebagai sesama Muslim tidak boleh saling memisahkan diri.

Mereka menyatakan bahwa bangsa Rohingya ingin menjadi bagian dari Myanmar yang demokratis di masa depan untuk menegakkan persatuan dalam keragaman.

Kelompok itu mengatakan akan bekerja sama dengan pemerintah bayangan sipil National Unity Government (NUG) dan United League of Arakan di Negara Bagian Rakhine guna mencapai kesetaraan penuh serta hak asasi untuk menentukan nasib sendiri, seperti kelompok etnis lain di Myanmar.

Konferensi pers daring pada hari Ahad (20/11/2022) bertujuan untuk menyatukan para Muhajirin Rohingya di seluruh dunia dan mengumumkan niat aliansi tersebut guna mendapat hak dan kesetaraan bagi seluruh bangsa Rohingya di Myanmar.

Para pemimpin Rohingya berterima kasih kepada rakyat dan pemerintah Bangladesh karena telah melindungi lebih dari satu juta Muhajirin Rohingya.

Mereka juga mengutuk pembunuhan seorang perwira Direktorat Jenderal Divisi Intelijen, Rizwan Rushdee, oleh kelompok kriminal di perbatasan Myanmar pada tanggal 14 November.

ARNA mengatakan selama lebih dari setengah abad, ratusan ribu Rohingya telah dibunuh secara brutal, diperkosa, dan disiksa oleh militer Myanmar dan aktor non-negara yang disponsori rezim.

“Kekerasan mencapai puncaknya pada tahun 2017 ketika militer Myanmar yang brutal memimpin genosida terburuk abad ke-21 di Negara Bagian Rakhine utara, memaksa lebih dari satu juta orang Rohingya untuk menyeberangi perbatasan ke Bangladesh di mana mereka saat ini tinggal di kamp-kamp pengungsi yang jorok dibantu oleh pemerintah Bangladesh dan organisasi bantuan internasional.”

“Ini adalah pertama kalinya sejak genosida tahun 2017, sebuah koalisi besar dari organisasi, politisi, dan aktivis Rohingya, bergabung dalam satu wadah bersama, sebuah perkembangan yang disambut dengan harapan oleh orang-orang Rohingya, termasuk setengah juta orang yang masih terjebak di penjara terbuka Arakan [Rakhine].”

Salah seorang tokoh Rohingya, Nurul Islam, akan memimpin komite eksekutif pusat ANRA dibersamai Dr Yunus dan Reza Uddin yang akan menjadi wakil ketua.

Anggota lainnya termasuk U Kyaw Min, Aman Ullah U Tun Khin, U Nay Saw Lwin, Dr Hla Myint, U Zaw Min Htut, Dr Habib Ullah dan Dr Abu Siddique Arman.

Pensiunan akademisi hubungan internasional Universitas Dhaka, CR Abrar, seorang spesialis isu kepengungsian, menyambut baik langkah tersebut dan mengatakan bahwa persatuan sangat penting bagi komunitas yang teraniaya tersebut, di mana banyak di antaranya yang mengalami langsung kejahatan genosida. (Irrawaddy.com)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kecam Penyerangan Masjid di Al-Khalil, Mufti Baitul Maqdis Peringatkan Kemungkinan Pecahnya Perang
VIDEO – Sepanjang 2022, 330 Anak Yaman Tewas dan Terluka Akibat Perang Berkepanjangan »