Berapa Kali “Israel” Melanggar Gencatan Senjata di Gaza? Berikut Data Lengkapnya

3 December 2025, 13:30.

Sejak gencatan senjata mulai berlaku, serangan “Israel” telah menewaskan setidaknya 356 warga Palestina dan melukai 909 orang (data per 11 November 2025, saat berita ini dimuat di Al Jazeera).

(Al Jazeera)

Sejak deklarasi gencatan senjata di Jalur Gaza pada 10 Oktober 2025, “Israel” telah melanggar kesepakatan tersebut dengan serangan yang terjadi hampir setiap hari, menewaskan ratusan orang.

Menurut laporan Kantor Media Pemerintah di Gaza (GMO), “Israel” melanggar perjanjian gencatan senjata setidaknya sebanyak 591 kali dari tanggal 10 Oktober hingga 29 November, melalui serangan udara, artileri, dan penembakan langsung yang terus berlanjut.

GMO menyatakan “Israel” menembaki warga sipil sebanyak 164 kali, menyerbu kawasan permukiman di luar “garis kuning” sebanyak 25 kali, mengebom dan menembaki Gaza sebanyak 280 kali, serta menghancurkan properti warga pada 118 kesempatan. “Israel” juga dilaporkan telah menahan 35 warga Palestina dari Gaza selama sebulan terakhir.

Penjajah Zionis juga terus memblokir bantuan kemanusiaan vital, menghancurkan rumah, dan infrastruktur di seluruh Jalur Gaza.

Al Jazeera telah melacak pelanggaran gencatan senjata tersebut hingga saat ini.

Apa saja syarat gencatan senjata tersebut?

Pada 29 September, Amerika Serikat meluncurkan proposal berisi 20 poin untuk mengakhiri perang genosida “Israel” di Gaza, membebaskan tawanan yang tersisa, mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan secara penuh ke wilayah yang terkepung itu, dan menguraikan penarikan pasukan “Israel” dalam tiga tahap.

Beberapa syarat utama dari tahap pertama, yang sedang berlangsung, meliputi:

-Penghentian pertempuran di Gaza antara “Israel” dan Hamas.

-Pencabutan blokade terhadap semua bantuan ke Gaza oleh “Israel” dan penghentian campur tangan “Israel” dalam distribusi bantuan.

-Pembebasan semua tawanan yang ditahan di Gaza—baik yang masih hidup maupun yang sudah mati—oleh Hamas.

-Pembebasan sekitar 2.000 tawanan Palestina dan orang-orang yang hilang dari penjara-penjara “Israel”.

-Penarikan pasukan “Israel” ke “garis kuning”.

Setelah mediasi oleh mitra, termasuk Mesir, Qatar, dan Turkiye, perwakilan dari sekitar 30 negara berkumpul pada 13 Oktober untuk acara penandatanganan perjanjian gencatan senjata Gaza yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump.

Namun, “Israel” dan Hamas secara mencolok tidak hadir, menimbulkan keraguan tentang kemampuan pertemuan puncak tersebut untuk mencapai kemajuan nyata dalam mengakhiri perang dan menyelesaikan masalah inti penjajahan “Israel” serta pengepungan Gaza yang telah berlangsung selama 18 tahun.

“Israel” telah berjanji untuk tidak mengizinkan berdirinya negara Palestina, dan AS terus melanjutkan transfer senjata skala besar serta dukungan diplomatik kepada “Israel” sepanjang perang genosida di Gaza, sambil hanya memberikan pernyataan samar tentang masa depan Gaza.

“Israel” menyerang Gaza hampir setiap hari

Berdasarkan analisis Al Jazeera, “Israel” telah menyerang Gaza pada 42 dari 53 hari terakhir masa gencatan senjata, yang berarti hanya 11 hari tidak ada serangan kekerasan, kematian, atau cedera yang dilaporkan.

Meskipun serangan terus berlanjut, AS bersikeras bahwa “gencatan senjata” masih bertahan.

“Israel” masih membunuh warga Palestina

Sejak gencatan senjata berlaku pada siang hari tanggal 10 Oktober, “Israel” telah membunuh setidaknya 356 warga Palestina dan melukai 909 orang, menurut angka dari Kementerian Kesehatan Palestina.

Pada tanggal 19 dan 29 Oktober—dua hari paling mematikan sejak gencatan senjata terbaru—“Israel” membunuh total 154 orang.

Pada 19 Oktober, setelah menuduh Hamas melanggar gencatan senjata karena dua tentara “Israel” tewas di Rafah, pasukan “Israel” membunuh 45 orang dalam gelombang serangan udara besar-besaran di seluruh Jalur Gaza.

Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menunjukkan bahwa “Israel” menguasai area Rafah dan mereka tidak memiliki kontak dengan pejuang Palestina mana pun di sana.

Pada 29 Oktober, “Israel” membunuh 109 orang, termasuk 52 anak-anak, setelah baku tembak di Rafah yang menewaskan satu tentara “Israel”.

“Israel membalas, dan mereka harus membalas,” kata Trump kepada wartawan, menyebut serangan “Israel” sebagai “retribusi” atas kematian tentara tersebut.

Pada 22 November, setidaknya 21 warga Palestina syahid dalam serangkaian serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal “Israel” di seluruh Gaza utara dan tengah, dengan puluhan lainnya terluka.

Berikut adalah data dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, yang melacak korban dari 7 Oktober 2023 hingga 1 Desember 2025:

-Terkonfirmasi tewas: setidaknya 70.112 orang, termasuk 20.179 anak-anak.

-Terluka: setidaknya 170.986 orang.

“Israel” masih mencekik aliran bantuan

Gencatan senjata menetapkan bahwa “bantuan penuh akan segera dikirim ke Jalur Gaza”. Namun, kenyataan di lapangan sangat berbeda.

Menurut Program Pangan Dunia (WFP), hanya setengah dari bantuan pangan yang dibutuhkan yang saat ini mencapai Gaza, sementara koalisi lembaga bantuan Palestina mengatakan total pengiriman bantuan hanya berjumlah seperempat dari yang disepakati dalam gencatan senjata.

Dari 10 Oktober hingga 1 Desember, hanya 6.277 truk yang mencapai tujuan di dalam Gaza, menurut Dasbor Pemantauan dan Pelacakan UN2720, yang memantau bantuan kemanusiaan di Gaza.

Menurut para sopir truk, pengiriman bantuan menghadapi penundaan yang signifikan, inspeksi “Israel” memakan waktu jauh lebih lama dari yang diperkirakan.

Pihak Gedung Putih sebelumnya mengatakan bahwa hampir 15.000 truk yang membawa barang komersial dan bantuan kemanusiaan memasuki Gaza antara 10 Oktober dan 9 November, sebuah angka yang dibantah keras oleh warga Palestina dan kelompok bantuan.

Selain itu, “Israel” telah memblokir bahan makanan penting dan bergizi, termasuk daging, produk susu, dan sayuran, yang sangat penting untuk diet seimbang. Sebaliknya, bahan makanan tidak bergizi yang diizinkan masuk, seperti camilan, cokelat, keripik, dan minuman ringan.

Apakah Hamas telah membebaskan semua tawanan?

Pada 13 Oktober, sesuai kesepakatan gencatan senjata, Hamas membebaskan seluruh 20 tawanan “Israel” yang masih hidup sebagai pertukaran bagi 250 warga Palestina yang menjalani hukuman penjara lama dan 1.700 warga Palestina yang dihilangkan oleh “Israel” sejak 7 Oktober 2023.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Hamas juga diharapkan mengembalikan mayat 28 tawanan “Israel” sebagai pertukaran bagi 360 jenazah warga Palestina yang ditahan oleh “Israel”.

Hingga 26 November, Hamas telah mengembalikan 26 mayat tawanan “Israel”, dengan dua mayat masih berada di Gaza. Kelompok tersebut mengatakan memerlukan peralatan penggalian berat untuk menemukan sisa jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan akibat pengeboman “Israel”.

Sejauh ini, “Israel” telah mengembalikan lebih dari 300 jenazah warga Palestina, banyak di antaranya dimutilasi dan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Banyak yang masih belum teridentifikasi.

Apa kata hukum internasional tentang gencatan senjata?

Menurut Lieber Institute, gencatan senjata dirancang untuk menghentikan pertempuran aktif, atau “membekukan konflik di tempatnya”, tetapi definisinya bisa menjadi ambigu dalam hukum internasional.

Penghentian pertempuran paling tepat dipahami sebagai penghentian operasi militer yang bermusuhan secara aktif.

Melanjutkan pertempuran akan melanggar perjanjian politik, tetapi hal itu mungkin bukan merupakan pelanggaran hukum internasional kecuali jika gencatan senjata tersebut merupakan bagian dari perjanjian yang mengikat atau resolusi Dewan Keamanan PBB. (Al Jazeera)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« TERKINI: Tentara Arakan Bebaskan 27 Pria Rohingya, Mereka Mengaku Disiksa di Depan Wanita dan Anak-Anak      
Yasser Abu Shabab Tewas, Tak Ada Tempat Bagi Pengkhianat dan Kaki Tangan Zionis di Gaza! »