‘Pabrik’ Anak Gaza, Pabrik Mujahidin

Bocah-bocah berserakan di seantero Gaza, tak ada kekhawatiran, yang ada ledakan-ledakan harapan. foto: Sahabat Al-Aqsha

JALUR GAZA, Ahad (Sahabatalaqsha.com): Salah satu pemandangan yang paling sering ditemui Tim Sahabat Al-Aqsha (SA2Gaza) di sini adalah bocah-bocah.

Gerombolan anak bermain di jalan-jalan berdebu dan penuh sampah di berbagai kamp pengungsian. Kadang-kadang mereka melesat berlari menyeberang jalan begitu saja tanpa melihat ke kanan dan kiri; tidak heran kalau sering kali mobil yang kami naiki hampir saja menabrak mereka.

Kami temui gerombolan anak bermain di tepi pantai. Gerombolan anak di tempat rekreasi di Madinatul Azda’. Sekelompok kecil anak di desa As-Siafah -  yang paling dekat dengan daerah yang dikuasai penjajah Zionis – berhenti bermain dan memandang kami dengan tatapan waspada ketika kami mengambil gambar mereka.

Mata biru bocah Rafah. foto: Sahabat Al-Aqsha

Kami temui berbagai “bentuk” anak di Gaza. Mulai dari yang pirang dan bermata biru atau abu-abu sampai si rambut hitam keriting bermata coklat. Mulai dari yang dekil dan ingusan sampai yang bersisir rapi dengan jepitan rambut berwarna-warni. Mulai dari yang pemalu ketika didekati relawan SA2Gaza, sampai yang justru ‘agresif’ mendekati dan bertanya kepada kami, “Anta min Siin? Anda dari Cina?”

Ada yang bicaranya lemah lembut seperti putri dongeng. Ada juga yang badannya sudah besar –sekitar kelas 2 SD– digoda oleh relawan kita apakah dia juga sekolah di TK Bintang Al-Quran yang kita bantu? Anak lelaki itu berkata keras dengan wajah syok, “Laaaa! Audzubillah! Nggak lah! Aku berlindung kepada Allah! (dari sekolah di TK dengan badan segede gini).” Tersinggung nih ye…

Semuanya, setiap anak ini, indah dilihat.

“Gaza ini seperti pabrik anak,” komentar relawan SA suatu kali. Tokoh masyarakat yang menemani kami ketika itu mengangguk membenarkan dengan penuh semangat.

Tidak heran. Anak adalah fokus penting kehidupan penduduk Gaza. Begitu juga, tentu saja, urusan pernikahan. Kebanyakan perempuan Gaza yang kami temui menikah di usia sangat muda, misalnya di usia 15 tahun atau bahkan lebih muda.

Cityboy yang cool... keren... soleh... calon Mujahid. foto: Sahabat Al-Aqsha

Kenapa demikian? “Kami ingin melindungi anak-anak kami dari maksiat dan dosa,” ujar seorang ibu yang menikahkan anak gadisnya di usia 16 tahun dan anak lelakinya di usia 21 tahun. “Kami tidak mau anak-anak kami berpacaran, karena itu kami suruh mereka menikah dan hidup bersama kami.”

Tidak heran kalau di sejumlah rumah berkumpul seorang ibu yang melahirkan anak di usia 40 tahun bersamaan dengan kelahiran cucunya yang ke sekian.

Dalam salah satu rumah, misalnya, relawan SA2Gaza berkenalan dengan tiga orang wanita muda cantik berusia 16 dan 17 tahun yang semuanya sudah menikah dan “happy” tinggal bersama keluarga suaminya. Jarang terdengar cerita tentang konflik menantu-mertua karena keluarga-keluarga Gaza memperlakukan menantu mereka sama saja seperti memperlakukan anak sendiri. Makan bersama, lapar bersama.

Beberapa kali pula relawan SA2Gaza menemui keluarga-keluarga yang menyatukan lebih dari seorang istri. Di salah satu rumah, kami menemui seorang perempuan menggendong, menyuapi dan menciumi seorang bocah ganteng bermata abu-abu berambut pirang dengan penuh gemas.

Perempuan itu adalah istri pertama dari seorang penduduk Jabaliya, yang sudah melahirkan tujuh orang anak. Namun empat bayinya meninggal dunia. Suaminya masih sangat menginginkan anak-anak karena memang sangat mencintai mereka. Si perempuan lalu menyuruh suaminya menikah lagi dengan seorang janda syuhada beranak satu. Kini si suami memperoleh dua anak lagi dari istrinya yang baru. Nah, si bocah ganteng itu adalah anak bungsu dari istri muda!

Perempuan Palestina memang terkenal sangat subur dan masyarakatnya memiliki tingkat kelahiran yang tinggi. Diperkirakan jumlah penduduk Jalur Gaza yang hanya seluas 360 km2 ini sekitar 1,7 juta penduduk dengan konsentrasi terbesar ada pada Jabaliya.

Bocah-bocah TK Bintang Al-Quran. foto: Sahabat Al-Aqsha

Pada Perang Al-Furqan di pertukaran tahun 2008-2009, ketika bom-bom Zionis menewaskan sekitar 1400 orang penduduk mulai dari yang tua sampai yang bayi, Allah mentaqdirkan dalam masa 22 hari yang sama itu lahirlah di Gaza sekitar 3500 bayi.

Di hampir setiap rumah yang kami datangi, bukti “kekayaan” Gaza bernama anak adalah yang paling terlihat. Ada yang beranak 10, ada yang beranak 13, banyak yang beranak sedikitnya lima orang. Tak sedikit rumah yang menampung anak-anak yatim – karenanya tak ada panti asuhan yatim piatu di Gaza ini.

“Hidup di Gaza sesudah pengepungan selama lima tahun ini susah sekali,” ujar seorang ibu. “Kaum ibu harus pandai mengatur keuangan yang cuma sedikit ini untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga, termasuk menanam ini itu sendiri.”

“Tapi anak kalian banyak sekali. Apa tidak sebaiknya membatasi jumlah anak?” salah seorang relawan SA ‘ngetes.’

Laaa! Tidak akan!” seorang nenek bercucu entah berapa puluh menjawab tegas dengan wajah agak syok mendengar “saran” kami. Dia lalu mengutip salah satu hadits Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam agar ummat Islam membanyakkan jumlah mereka demi membanyakkan jumlah ummat di Akhirat nanti.

“Anak-anak kami dibunuhi, maka kami akan terus melahirkan,” komentar seorang ibu muda.

Relawan cilik Sahabat Al-Aqsha di Gaza. foto: Sahabat Al-Aqsha

“Betul itu, supaya keluarga-keluarga kami bisa terus memproduksi mujahidin baru, penghafal-penghafal Quran baru…” jawab si nenek berapi-api.

Sambil meninggalkan sebuah rumah penduduk yang ‘kemriyek’ dipenuhi bocah-bocah menggemaskan, salah satu relawan SA2Gaza berkomentar, “Gara-gara pengepungan Zionis, listrik di Gaza sering mati. Ya jelas saja, jumlah anak lahir makin banyak! Salah Zionis sendiri…”

Rakyat Gaza yakin Allah yang memberi anak-anaknya rezeki. Dan memang begitulah kenyataannya. (Sahabatalaqsha.com)