Kronologi Peristiwa-peristiwa di Gaza

JALUR GAZA, Sabtu (Sahabatalaqsha.com): Sebuah ringkasan peristiwa-peristiwa penting di Jalur Gaza.

Desember 1987

Intifadhah pertama bermula di Gaza. Empat orang pemuda Palestina ditabrak oleh sebuah truk tentara Israel sampai tewas. Perlawanan batu dan senjata seadanya meledak di Gaza dan menjalar ke seluruh Palestina. Harakah Muqowamah Al-Islamiyah (Hamas) didirikan secara resmi, mensolidkan seluruh kekuatan yang sudah dibina secara ruhiyah oleh Syeikh Ahmad Yasin dan kawan-kawan sejak 20 tahun sebelumnya.

Agustus 1993

Perjanjian Oslo disepakati di halaman Gedung Putih, antara Yaser Arafat dan Yitzhak Rabin, di hadapan Bill Clinton. Perjanjian itu jelas untuk meredam Intifadhah yang sudah membara selama tujuh tahun.

Mei 1994

Dalam rangka melaksanakan Perjanjian Oslo yang ditandatangani di halaman Gedung Putih setahun sebelumnya, bulan ini dilakukan pengalihan sebagian kewenangan administratif atas warga Palestina di Jalur Gaza kepada Otorita Palestina. Pengalihan kewenangan ini tidak menyentuh pemukiman Yahudi dan kawasan militer. Bahkan perjanjian itu masih menghalalkan penjajahan militer Israel atas Jalur Gaza.

27 September 2000

Intifadhah kedua meledak akibat Ariel Sharon yang baru terpilih jadi perdana menteri Israel menginjak-injak Masjidil Aqsha. Perlawanan rakyat bangkit. Ratusan warga Palestina dibunuh. Ribuan lain luka dan disekap dan disiksa di berbagai penjara.

12 September 2005

Ariel Sharon menarik tentara dan pemukim Yahudi dari seluruh kawasan Jalur Gaza (jumlahnya sekitar 10 ribu orang), setelah 38 tahun penjajahan. Namun demikian, bertahun-tahun sesudahnya Israel malah memperluas wilayah rampokan tanah untuk pemukim Yahudi berjumlah 400 ribu orang di Tepi Barat.

25 Januari 2006

Hamas memenangkan pemilihan umum Palestina, mengalahkan Partai Fatah yang sekular. Kemenangan ini memperkuat pengaruhnya di Jalur Gaza.

18 Maret 2006

Amerika Serikat, Uni Eropa dan Israel memboikot pemerintah baru Palestina yang dipilih rakyat lewat pemilu yang demokratis. Mereka lalu menghukum rakyat yang memilih Hamas dengan cara melakukan tekanan ekonomi di berbagai sektor serta mengurangi secara drastis bantuan kemanusiaan.

Donatur-donatur internasional diminta untuk menghentikan sumbangannya kepada Otorita Palestina yang amanahnya sudah berada di tangan pemerintah Hamas. Israel juga menahan pengeluaran dari hasil pajak yang dikutip dari rakyat Palestina sendiri. Dimulailah sebuah penderitaan kemanusiaan.

15 Maret 2007

Para pemimpin Palestina menyepakati terbentuknya pemerintah bersama antara Hamas dan Fatah, yang tetap diboikot oleh Amerika Serikat dan Israel.

15 Juni 2007

Karena melihat berbagai pengkhianatan nyata yang dilakukan Fatah, dalam waktu tiga hari, pasukan-pasukan Mujahidin Hamas melumpuhkan seluruh kekuatan militer Fatah yang didukung Israel serta mengusirnya keluar dari seantero kawasan Jalur Gaza. Inilah hari di mana Jalur Gaza menjadi satu-satunya tanah Palestina yang merdeka dari penjajahan Israel dan seluruh kaki tangannya.

Namun demikian, para anggota Fatah yang tidak memerangi Hamas dibiarkan tetap tinggal dengan aman di Gaza sampai hari ini.

Sementara itu, Pemimpin Fatah Mahmoud Abbas alias Abu Mazen, menyatakan secara resmi mengabaikan pemerintahan bersatu Palestina yang dipimpin oleh pemerintah yang dipilih oleh rakyat, Hamas.

Dalam situasi inilah Israel juga meresmikan pengepungannya (embargo) secara militer-politik-ekonomi terhadap Gaza.

19 Juni 2008

Melalui perantaraan Mesir, Hamas menyetujui gencatan senjata dengan Israel. Namun enam bulan kemudian Israel memulai lagi serangan-serangan militernya terhadap Gaza.

4 Nopember 2008

Pasukan serdadu Israel merusak sebuah terowongan yang sedang dibangun di perbatasan Rafah, dengan alasan, terowongan itu dibangun untuk menculik serdadu Israel.

Ratusan terowongan memang terdapat antara Rafah Mesir dan Rafah Gaza, sebagai jalan rakyat Gaza untuk memenuhi keperluan asasinya sehari-hari seperti sembako.

Aksi militer Israel itu menyebabkan syahidnya tujuh orang Mujahidin Gaza. Membalas kejahatan itu, Mujahidin meluncurkan puluhan roket Qassam dan mortir beberapa hari sesudahnya. Zionis Israel kemudian memperketat pengepungannya di keenam pintu perbatasan Gaza dan daerah yang dijajah Israel, di sepanjang tembok dan pagar listrik yang mengelilinginya, di sepanjang garis laut, dan udara.

19 Desember 2008

Gencatan senjata enam bulan antara Hamas dan Zionis Israel berakhir.

27 Desember 2008

Zionis Israel di bawah kepemimpinan Ehud Olmert melancarkan serangan militer berskala besar selama 23 hari 23 malam terhadap Gaza dengan nama “Operasi Timah Panas”. Serangan ini membunuh 1387 orang, sekitar 400 diantaranya anak-anak, dan menyebabkan lebih dari 5000 orang luka-luka.

Serangan itu dimaksudkan untuk melumpuhkan kekuatan militer Gaza. Namun gagal total. Sampai hari ini Pemerintah Palestina pimpinan Perdana Menteri Ismail Haniyah masih berjalan dan berpusat di kota Gaza. Sedangkan kepercayaan rakyat Palestina terhadap Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas yang berpusat di Ramallah diperkirakan semakin merosot.

Sampai hari ini, Israel masih berusaha merongrong keamanan rakyat Palestina di Gaza. Ada yang dilakukan dengan serangan-serangan militer yang membunuhi rakyat Gaza, ada juga yang dilakukan lewat berbagai operasi intelijen di dalam Gaza. Minggu lalu Pemerintah Palestina di Gaza mengumumkan dihukum gantungnya tiga orang pengkhianat yang bekerja menjadi mata-mata bagi Israel.* (Sahabatalaqsha.com)