Nelayan Gaza Berangkat Cari Ikan atau Cari Mati?
6 March 2013, 11:31.

- Nelayan Palestina berangkat dari pelabuhan Gaza, mencari ikan atau mencari mati? Meski sudah ada gencatan senjata, angkatan bajak laut zionis ‘Israel’ masih menembaki, merampas, dan membunuhi nelayan Gaza. foto: IMEU
JAKARTA, Rabu (SahabatAlAqsha.com): “Situasi untuk para nelayan sangat buruk. Setiap hari kami masih harus menghadapi angkatan laut ‘Israel,” ujar Mos’ad Bakr di pelabuhan Gaza pada Ahad (3/3) kemarin, seperti dikutip dari situs Electronic Intifada. Bakr saat itu baru saja kembali dari unjuk rasa nelayan di perairan Mediterania di Jalur Gaza.
Dengan diikuti lebih dari 50 buah kapal, pelayaran itu merupakan bagian dari kampanye melawan serangan-serangan angkatan laut ‘Israel’ terhadap para nelayan Palestina. Mereka juga menuntut zionis mengembalikan 36 unit kapal yang dicurinya. Aksi protes ini diorganisir oleh Komite Serikat Kerja Pertanian (UAWC).
Aksi protes yang digelar UAWC ini juga bagian dari hari pemboikotan perusahaan pertanian ‘Israel’ sedunia. Pada 21 November 2012 dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, ‘Israel’ berjanji untuk, “Menghentikan semua permusuhan di wilayah udara dan laut di Jalur Gaza, termasuk berhenti menyerang individu-individu serta tidak lagi membatasi gerakan para pemukim di Jalur Gaza dan berhenti menyerang warga yang berada di dekat wilayah perbatasan.”
Sehari setelahnya, pemerintah Hamas di Gaza mengumumkan bahwa dalam negosiasi gencatan senjata yang digelar di Kairo itu, ‘Israel’ juga sepakat untuk memperluas batas pelayaran para nelayan Gaza dari tiga mil laut menjadi enam mil laut.
Pelanggaran Perjanjian Gencatan Senjata
Namun kenyataannya para nelayan tetap diserang ‘Israel’. Menurut Zakaria Bakr, nelayan lain yang ikut dalam aksi protes UAWC, ‘Israel’ telah mencuri lebih dari sembilan buah kapal sejak 21 Nopember. “Mereka menyita lebih banyak lagi kapal sejak gencatan senjata antara tahun 1994-2005,” katanya.
Ia menambahkan, sejak gencatan senjata, sedikitnya lima kapal nelayan lainnya ditembaki zionis ‘Israel’ hingga melukai tiga orang nelayan. Mos’ad Bakr bercerita, ia juga terluka ketika dua kapal perang ‘Israel’ menyerang kapal nelayannya. “Satu buah kapal perang mengelilingi kapal saya hingga menciptakan goncangan sementara kapal yang satunya lagi membombardir dengan tembakan hingga mengenai paha kiri saya. Mereka lalu menangkap saya dan menyita kapal saya yang sekarang ada di pelabuhan ‘Israel’, Ashdod,” ujar Mos’ad Bakr.
Zionis mengklaim kepada sejumlah lembaga, seperti badan PBB untuk Urusan Koordinasi Kemanusiaan bahwa para nelayan Palestina boleh berlayar di sepanjang perairan Gaza sampai 1,5 mil laut dari perairan ‘Israel’. Batasan ini, menurut zionis, aman bagi nelayan Gaza. Namun menurut Zakaria Bakr, jarak antara perpanjangan luas pelayaran dari “zona penyangga” dengan laut kamp pengungsi al-Shati Gaza kini adalah zona yang paling berbahaya. “Orang-orang ‘Israel’ mencoba menekan batas hingga ke kamp al-Shati (kamp pengungsi tempat tinggal PM Ismail Haniyah). Mereka ingin membuat nelayan menjauh dari mereka dan menciptakan batas-batas pelayaran yang baru,” ujarnya.
Pembatasan dan segala ancaman terhadap para nelayan Palestina telah menimbulkan banyak dampak negatif, termasuk meningkatkan kemiskinan. Dalam laporan badan PBB untuk Urusan Koordinasi Kemanusiaan pada 2010, jumlah nelayan di Gaza menurun tajam dari 10.000 orang pada tahun 2000 (sebelum ‘Israel’ memperketat pembatasan di perairan) menjadi hanya 3.500 orang. Badan ini juga memperkirakan lima tahun pengepungan zionis merugikan nelayan Palestina hingga US$26,5 juta.

- Salah satu perahu nelayan Gaza yang dirusak angkatan bajak laut zionis ‘Israel’. foto: Electronic Intifada
Zakaria Bakr melanjutkan, kapal-kapal yang dirampas zionis sangat jarang bisa kembali lagi. “Ada lima kapal yang akhirnya mereka kembalikan tapi itu pun sudah tidak ada lagi mesin di dalamnya. Juga tidak ada lagi sistem GPS. Jadi hanya badan kapalnya saja yang kembali. Dan setiap nelayan harus membayar 600 shekel (sekitar US$160) untuk biaya pemulangan kapal,” paparnya.
“Mereka mengatakan akan mengembalikan dua kapal lainnya namun dengan sejumlah persyaratan yang harus ditandatangani nelayan,” ia melanjutkan. Persyaratan pertama adalah nelayan harus membayar biaya penyimpanan kapal di pelabuhan Ashdod. Syarat ke dua, mereka harus mengikuti perintah militer zionis.
Persyaratan ke tiga yang merupakan kelanjutan dari syarat nomor dua, yakni jika angkatan laut zionis menangkap kembali kapal yang sama, nelayan harus setuju bahwa kapal itu akan disita untuk selamanya. Syarat keempat, jika kapasitas mesin dalam kapal lebih dari 25 tenaga kuda, zionis berhak melakukan apa pun terhadap kapal itu, termasuk menembakinya meski ada nelayan di dalamnya.
Pada Agustus 2011, sebanyak delapan nelayan Palestina menolak membayar biaya pemulangan kapal mereka. Mereka juga meminta zionis tidak melucuti mesin-mesin kapal itu. ADALAH dan AL-MEZAN, dua organisasi hak asasi manusia Palestina ikut membantu dalam kasus ini. Mereka menulis, “Merampas kapal-kapal nelayan dan pembatasan yang diciptakan ‘Israel’ adalah pelanggaran besar terhadap hak warga Gaza.”
Bagi Zakaria Bakr dan nelayan lainnya yang berlayar di perairan Gaza pada Ahad kemarin, kejahatan yang dilakukan ‘Israel’ terhadap mereka adalah pekerjaan rutin zionis. “Kejahatan zionis terhadap nelayan Palestina tidak hanya berkelanjutan tetapi juga semakin bertambah. Serangan-serangan ini bisa terjadi karena dunia internasional tidak berbuat apa-apa,” paparnya.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)

- Seorang dokter berusaha menolong Hani Al-Najjar, nelayan Gaza yang ditembak tentara angkatan bajak laut zionis ‘Israel’. Hani akhirnya mati syahid. foto: Electronic Intifada
Silakan baca laporan relawan Sahabat Al-Aqsha langsung dari Gaza “Mencari Ikan di Laut Palestina, Ditembaki, Dirampas, Ditangkap, Dibunuh…”
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
