Hari Ini 65 Tahun Silam, Keluarga Kita Dibantai di Deir Yassin

9 April 2013, 18:11.

Nenek penulis artikel ini bernama Fatimah Ridwan (kanan, waktu itu 13 tahun) dan adiknya Sakinah di sekolah Dar al-Tifl empat tahun setelah pembantaian di desa Deir Yassin. foto: Electronic Intifada

oleh Dina Elmuti, pekerja sosial yang meneliti dampak stres traumatik kronis dan kekerasan fisik dan mental anak-anak Chicago dan Palestina

YOGYAKARTA, Selasa ( Electronic Intifada): Ketika menuliskan semua ingatan nenek saya, saya terpaku oleh semua yang dipendamnya selama 65 tahun ini. Saya menulis sebuah cerita yang terpendam dalam kesadarannya. Tanpa dia, tidak akan ada tulisan ini.

Kisah ini, yang menandai dimulainya perampasan, penderitaan dan penindasan terhadap rakyat Palestina adalah sebuah cerita yang tidak bisa dilupakan. Ini adalah cerita tentang desa Deir Yassin. Cerita ini terjadi tanggal 9 April 1948, hari penghujatan dalam sejarah Palestina. Nenek saya berusia sembilan tahun ketika terjadi pembantaian Deir Yassin dan ia tidak akan pernah melupakannya.

Firasat

Kamis, 8 April 1948 berlalu seperti layaknya sebuah desa kecil yang sunyi. Nenek saya dan adik perempuannya telah pulang sekolah dan sedang menyelesaikan pekerjaan rumah berjudul Asri’ (segera: dalam bahasa Arab). Seperti anak-anak yang seusia dengannya, ia bersemangat menyelesaikan tugasnya agar bisa menikmati libur pada keesokan harinya. Namun semangat ini tidak bertahan lama.

Kejadian berikutnya menjadi sangat ironi dengan judul pekerjaan rumah tadi. Asri’ atau segera seakan menjadi sebuah pertanda. Keesokan harinya, seluruh keluarga dengan terburu-buru berusaha melarikan diri dari gelombang teror. Mereka meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri. Pada Jum’at subuh, hidup mereka berubah. Deir Yassin pun tidak akan pernah seperti dulu lagi.

Para ayah, kakek, saudara dan anak laki-laki berdiri di sepanjang tembok dan dihujani tembakan. Guru-guru kami tersayang dimutilasi dengan brutal memakai pisau. Para ibu dan saudara perempuan disandera, sementara mereka yang selamat dan kembali ke rumah mendapati jalan-jalan desa berubah menjadi kolam darah. Dalam waktu semalam, masa kecil mereka direnggut. Dinding-dinding rumah yang dulu menjadi saksi sebuah kehangatan, gelak tawa dan kegembiraan kini dipenuhi darah dan menyisakan trauma. Nenek saya kehilangan 37 anggota keluarganya pada hari itu.

Simbol Pahit

Pembunuhan Deir Yassin bukanlah pembantaian berskala besar ataupun yang paling mengerikan. Kekejian, kekerasan dan berbagai cara kompleks serta senjata-senjata busuk yang dipakai zionis ‘israel’ untuk melawan rakyat sipil saat ini sesungguhnya lebih sadis dan merusak. Tetapi biar bagaimana pun Deir Yassin menandakan titik balik terpenting dalam sejarah Palestina.

Sebuah simbol pahit diukur dalam sejarah Palestina. Peristiwa ini kemudian diikuti dengan pengusiran paksa lebih dari 750.000 rakyat Palestina dari rumah mereka. Pengusiran ini membuat rakyat Palestina menjadi populasi pengungsi terbesar di dunia dengan lebih dari separuh rakyatnya hidup merantau.

Deir Yassin adalah kenangan pedih atas penderitaan, perjuangan dan pembunuhan terencana terhadap rakyat Palestina sejak 65 tahun lalu yang berlanjut hingga sekarang. Ketika desa ini diteror hingga penduduknya terpaksa pergi, zionis mengambil alih lalu meletakkan cetak biru arsitektur apartheid dari apa yang sekarang disebut ‘israel’.

Tanah Keramat

Saya merasa beruntung karena sempat melihat Deir Yassin dan melangkahkan kaki di atas tanah keramatnya. Deir Yassin menjadi kenangan tak terlupakan atas semangat yang tidak pernah pudar. Kendati ada pemukiman ilegal Yahudi, penjarahan, perampasan dan penderitaan manusia, rumah nenek saya tetap berdiri seperti halnya dirinya hingga hari ini.

Kesunyian rumahnya dan batu-batu yang diletakkan oleh kakek buyut saya menyisakan kenangan atas kehidupan yang pernah terjadi di dalamnya. Bangunan ini juga menjadi sebuah kenangan pahit peristiwa pembersihan etnis yang pernah terjadi. Dan pada kenyataannya, ini menjadi pengingat atas luka yang terus terbuka dan kenangan yang akan terus hidup.

Nenek saya adalah pejuang yang berani dan saksi hidup atas peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan siapa pun. Cerita mereka mungkin tidak tersimpan dalam buku-buku sejarah, tapi mereka telah meninggalkan sebuah kisah yang akan selalu tersimpan di dalam hati dan benak kami.

Cerita dari para pejuang ini akan terus mengalir dalam darah anak-anak Palestina. Dan selama jantung kami masih berdetak, perjuangan, perlawanan dan harapan akan terus tumbuh dengan kuat. Kami adalah anak-anak dari generasi yang kuat. Kakek nenek kami adalah para pengungsi dan pejuang. Kami seperti pohon zaitun yang memiliki akar kuat yang menancap di dalam tanah, tidak tergoyahkan dan akan terus berdiri tegak. Dengan tangan ini, kami akan melihat sebuah kebebasan dan hanya negara Palestina.* ( Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha/MR )

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« (Foto) Di Atas Kursi-kursi Roda Itu, Kedudukanmu Lebih Tinggi daripada Penjajah Najis
Sesudah Pembantaian Deir Yassin, 150 Perempuan dan Anak Palestina Diarak Telanjang Keliling Yerusalem »