Para Pelaku Pembantaian Deir Yassin Kemudian Jadi Perdana Menteri ‘Israel’

10 April 2013, 11:56.

peta: Peace Maripo

YOGYAKARTA, Rabu (Occupied Palestine):

oleh Reham Alhelsi | A Voice From Palestine

Ketika pembantaian Deir Yassin terjadi, baik komandan Inggris dari pasukan darat dan Jewish Agency (organisasi zionis yang mengusahakan berdirinya negara Yahudi di atas tanah Palestina) sama-sama mengetahui serangan itu namun tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Namun setelah berita pembantaian menyebar dan semua detail mengerikannya dipublikasi, keduanya berlagak ‘mengecam’ peristiwa tersebut dan mengaku sebelumnya tidak tahu menahu tentang serangan di desa Palestina itu.

Termasuk Haganah, pasukan teror bersenjata dari Jewish Agency yang juga menyerang Deir Yassin, ikut-ikutan ‘mengecam’ dan membantah adanya peran mereka dalam serangan tersebut. Para pemimpin Haganah mencoba menyembunyikan peran mereka dalam pembantaian tersebut dan mengklaim bahwa mereka baru memasuki desa Deir Yassin setelah serangan itu terjadi. Haganah juga membantah pengakuan gerombolan teroris lainnya yang ikut menyerang, yaitu Irgun danLehi bahwa ketiga gang teroris ini terlibat dalam pembantaian itu.

Dalam sebuah wawancara di New York pada 28 Desember 1950, pemimpin Irgun, Menachem Begin (yang kemudian hari jadi Perdana Menteri) mengakui bahwa pembantaian Deir Yassin dilakukan di bawah perjanjian antara Irgun dengan Jewish Agency dan Haganah. Menurut ‘Plan Dalet’, Deir Yassin termasuk desa Palestina yang akan diduduki. ‘Plan Dalet’ adalah rencana besar militer zionis yang berisi berbagai operasi untuk menyerang rakyat Palestina dan mencuri sebanyak mungkin lahan mereka sebelum mandat Inggris atas Palestina berakhir.

Rencana tersebut memberikan lampu hijau kepada komandan militer zionis dan gerombolan-gerombolan terorisnya untuk membantai dan mengusir rakyat Palestina serta menghancurkan desa juga kota mereka. Rencana dan operasi ini menyebabkan pembersihan etnis pada 213 wilayah yang ditinggali Palestina (40% dari semua area yang ditempati Palestina) dan membuat 413.794 rakyat Palestina menjadi pengungsi.

Operation Nachshon

Sepanjang 1 April 1948 sampai 15 Mei 1948 terdapat delapan operasi militer besar untuk menteror masyarakat Palestina. Operasi pertama yang bernama Operation Nachshon diluncurkan untuk mempertahankan koridor dari wilayah laut Tel Aviv sampai Yerusalem. Dalam operasi ini, zionis ‘israel’ menduduki dan menghancurkan desa-desa Arab yang berada di koridor tersebut.

Pembantaian Deir Yassin pada 9 April 1948 merupakan bagian dari operasi ini. Pada 12 April, zionis ‘israel’ mengusir sekitar 15.000 penduduk desa Arab dari koridor itu. Pembantaian Deir Yassin merupakan yang pertama dari 17 pembantaian lainnya yang dilakukan di bawah kerangka ‘Plan Dalet’. Hanya dua hari setelah peristiwa Deir Yassin, unit teror zionis membunuh 12 penduduk Khirbet Nasir Al-Din. Keesokan harinya, gerombolan teroris zionis, Irgun dan Lehi memasuki desa lalu membunuh 50 dari 90 orang penduduknya. Sebanyak 40 orang lainnya melarikan diri sebelum desa mereka dihancurkan.

‘Plan Dalet’ dilaksanakan teroris-teroris zionis ketika Palestina masih berada di bawah mandat (kata untuk menghaluskan “penjajahan”) Inggris. Seharusnya Inggris memberikan perlindungan namun militer dan pemerintahnya tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan serangan terori zionis dan pembantaian terhadap rakyat Palestina. Malahan, mereka mendukung zionis dengan memberikan senjata dan pelatihan militer. Pada saat yang sama, mereka melarang warga Palestina memiliki senjata sehingga banyak dari warga yang tidak memiliki apa pun untuk mempertahankan diri.

Pembantaian Deir Yassin merupakan bagian dari pembersihan etnis. Desa ini dihapus dari peta zionis kemudian digantikan dengan koloni-koloni zionis. Penduduk aslinya dipaksa keluar dan hingga saat ini menjadi pengungsi di berbagai belahan dunia sementara penjajah zionis dari Polandia, Rumania dan Slovakia menetap di rumah-rumah warga Palestina.

Yang ironis adalah beberapa rumah tua di Deir Yassin kini menjadi bagian dari rumah sakit jiwa zionis. Rumah-rumah yang menjadi lokasi pembantaian para penghuninya kini ditempati orang-orang Yahudi penderita sakit mental yang selamat dari pembantaian Holocaust.

Gerombolan Haganah, Irgun dan Lehi

Haganah, Irgun dan Lehi yang melakukan pembantaian Deir Yassin adalah gang teroris yang sebagian besar dibiayai oleh Amerika Serikat. Dalam salah satu kasus, geng Lehi dikabarkan pernah menghubungi Albert Einstein dan memintanya membantu mengumpulkan uang di Amerika. Jawaban Einstein datang sehari setelah pembantaian Deir Yassin terjadi. Ia menolak membantu dan menyebut Stern sebagai gang teroris dan kriminal sesat.

Haganah yang merupakan unit bersenjata dari Jewish Agency dipimpin oleh pemimpin politik Jewish Agency, David Ben-Gurion (yang kemudian jadi perdana menteri pertama negara zionis). Sementara Irgun dipimpin oleh Menachim Begin yang menjadi perdana menteri zionis ke enam. Adapun Lehi dipimpin oleh Yitzak Shamir yang merupakan perdana menteri ke tujuh zionis.

Pengumuman kepolisian Palestina tentang para pelaku pembantaian Deir Yassin. Yang dilingkari (atas) adalah Menachem Begin, kepala gerombolan Irgun (yang kelak jadi perdana menteri zionis). Begitu juga kepala gerombolan Lehi Yitzak Shamir (bawah). Keduanya adalah pemimpin gerombolan teroris yang kemudian jadi pejabat-pejabat tertinggi negara palsu ‘israel’. foto: Balder/Norway, redesain: Sahabat Al-Aqsha

Mengutip pernyataan Menachim Begin: “Pembantaian ini bukan saja sebuah pembenaran. Tanpa ada kemenangan atas Deir Yassin, negara ‘israel’ tidak akan berdiri.” Setelah pembantaian, ia mengucapkan kepada para penyerang Deir Yassin: “Terima kasih atas penaklukan yang indah ini. Beritahu tentara Anda bahwa mereka telah menorehkan sejarah di ‘israel’.”

Tidak ada yang dihukum dari pembantaian Deir Yassin atau pun penyerbuan lainnya. Zionis ‘israel’ yang dari dulu sampai sekarang dipimpin oleh seorang kriminal mengklaim selalu mencari perdamaian dan segala kekejiannya ketika membunuh rakyat sipil tak bersenjata, baik di Palestina, Lebanon atau di mana pun adalah bagian dari ‘pertahanan diri’ mereka.

Deir Yassin Kecele

Deir Yassin bukanlah insiden yang tersendiri. Ratusan pembantaian yang terjadi setelahnya, pembantaian Jenin (2003), pembantaian Gaza (2008-2009)  hanyalah sedikit contoh dari sifat haus darah zionis. Memilih Deir Yassin sebagai target pembantaian yang mengerikan sesungguhnya menunjukkan sifat asli zionis. Deir Yassin sendiri dikenal sebagai desa yang damai dan melarang para pejuang Palestina menggunakan lahan desa untuk melawan teroris zionis. Ini juga terbukti dari adanya perjanjian non-agresi yang disepakati desa ini dengan zionis.

Sehari sebelum pembantaian, pemimpin Palestina, Abdel-Qader Al-Husseini dibunuh ketika melawan zionis di dekat Al-Qastal. Ia menunggu dengan sia-sia dukungan militer Arab yang telah mengkhianiatinya juga rakyat Palestina yang masih juga terjadi hingga sekarang. Deir Yassin menolak membantu Al-Husseini juga para pejuang Palestina. Desa ini dikelilingi oleh koloni-koloni zionis dan dengan menandatangani kesepakatan nonagresi dengan zionis, para penduduknya merasa hal itu sebagai satu-satunya cara untuk melindungi diri dari teror zionis.

Namun, zionis justeru memilih Deir Yassin sebagai tempat pembantaian yang kemudian dijadikan contoh untuk menakut-nakuti desa-desa dan kota Palestina lainnya. Penjajah zionis memilih orang-orang yang telah menandatangani kesepakatan nonagresi dengannya dan sebagai ‘rasa terima kasihnya’, mereka memperkosa kaum wanita lalu mengarak anak-anaknya dalam keadaan telanjang sebelum dibunuh.

Jenazah para korban pembantaian Deir Yassin, sengaja dipamerkan, dan foto-fotonya disebarluaskan untuk menteror ratusan ribu rakyat Palestina. Supaya mereka segera meninggalkan tanah suci itu. foto: Stay Human

Peristiwa ini harus selalu menjadi sebuah pengingat dan peringatan bagi setiap rakyat Palestina atas sifat zionis. Juga menjadi sebuah peringatan bagi siapa pun yang ingin bernegosiasi atau pun menandatangani kesepakatan dengan zionis. Zionis tidak menginginkan perdamaian. Dan tidak akan pernah ada perdamaian selama masih ada zionisme. Mustahil ada perdamaian dengan sebuah entitas yang memiliki kebijakan pembersihan etnis.

Tipu-tipu Perdamaian

Yosef Weitz, administrator Yahudi yang bertanggung jawab atas kolonisasi Yahudi dan anggota pertama Komite Pemindahan Jewish Agency pada 1940 mengungkapkan:

“Di antara diri kita harus dijelaskan bahwa tidak ada ruang untuk menampung kedua penduduk secara bersama-sama di negara ini. Kami tidak akan mencapai tujuan kami untuk menjadi rakyat yang merdeka dengan adanya orang-orang Arab di negara yang kecil ini. Solusi satu-satunya adalah Palestina, setidaknya Palestina Barat (Barat dari sungai Yordania), tanpa orang Arab dan tidak ada cara lain kecuali memindahkan semua orang Arab dari sini ke negara-negara tetangga. Hanya setelah pemindahan mereka, negara ini bisa menerima jutaan saudara-saudara kita sendiri. Tidak ada jalan keluar lain.”

Tidak akan pernah ada perdamaian dengan entitas yang terus melakukan agresi, penindasan, pembantaian, mencuri lahan Palestina dan meng-Yahudikan Palestina. Pembantaian Deir Yassin adalah salah satu pembantaian paling biadab dan mengerikan yang dilakukan zionis. Dan merupakan bukti dari sikap barbar zionis.

Tapi yang terpenting, Deir Yassin harus selalu jadi peringatan kepada setiap warga Palestina dan orang-orang Arab bahwa ‘perjanjian perdamaian’ dengan zionis akan berakhir pada saat rencana penghapusan etnis melalui pembunuhan dan pengusiran mereka lanjutkan lagi. Dan itu masih berlangsung saat ini.* (Occupied Palestine | MR/ Sahabat al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sesudah Pembantaian Deir Yassin, 150 Perempuan dan Anak Palestina Diarak Telanjang Keliling Yerusalem
Dokter-dokter Palestina di Eropa Bentuk Tim untuk Para Tawanan Sakit »